{"id":306165,"date":"2024-11-29T11:22:42","date_gmt":"2024-11-29T04:22:42","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=306165"},"modified":"2024-11-29T11:22:42","modified_gmt":"2024-11-29T04:22:42","slug":"persaudaraan-orang-batak-itu-kental-tunggu-dulu-margamu-apa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/persaudaraan-orang-batak-itu-kental-tunggu-dulu-margamu-apa\/","title":{"rendered":"Persaudaraan Orang Batak Itu Kental? Tunggu Dulu, Margamu Apa?"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebelum kalian orang Batak pada ngamuk, saya akan beri disclaimer dulu. Ini hanya pengalaman saya sebagai penulis, jangan jadikan sebagai hal yang harus diterima oleh umum. Sebab, setiap pengalaman orang bisa berbeda.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang Batak sering digambarkan sebagai kelompok etnis yang memiliki solidaritas tinggi, apalagi ketika di perantauan. Citra ini sudah mendarah daging dalam persepsi masyarakat luas. Namun, pengalaman saya sebagai seorang Batak di perantauan ternyata jauh dari gambaran tersebut. Bukan berarti tidak ada rasa persaudaraan di antara sesama Batak, tetapi sering kali persaudaraan itu hadir dengan satu syarat utama: margamu apa?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ya, mari kita bicara soal marga, elemen fundamental dalam budaya Batak yang sering kali menjadi dasar dari solidaritas itu. Dalam struktur adat Batak, marga adalah identitas, penanda hubungan kekerabatan, dan status dalam masyarakat. Maka tak heran, di mana pun kau berada, pertanyaan pertama yang muncul ketika bertemu orang Batak adalah, \u201cMargamu apa?\u201d<\/span><\/p>\n<h2><b>Solidaritas orang Batak berdasarkan marga (?)<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi orang Batak, marga bukan sekadar nama belakang, melainkan simbol hubungan kekeluargaan yang sangat dihormati. Orang Batak dengan marga yang sama otomatis dianggap &#8220;saudara.&#8221; Bahkan, ada istilah yang kerap digunakan: dalihan na tolu, filosofi hidup masyarakat Batak yang mengatur hubungan antara saudara semarga (<a href=\"https:\/\/www.detik.com\/sumut\/budaya\/d-6553070\/mengenal-dalihan-na-tolu-dari-budaya-batak\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">dongan sabutuha<\/a>), kerabat ibu (boru), dan mertua (hula-hula).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, solidaritas ini bisa terasa eksklusif. Jika margamu sama atau ada keterkaitan melalui marga ibu (saya bicara soal nama belakang, bukan orangnya, bedakan marga dan boru), maka hubungan akan terjalin lebih akrab. Saling membantu, saling dukung, bahkan saling &#8220;backup&#8221; dalam berbagai situasi. Tapi kalau margamu berbeda, tunggu dulu, mungkin hubungan kita hanya sebatas sapaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di perantauan, fenomena ini semakin terasa. Solidaritas yang dibayangkan sebagai persatuan orang Batak sering kali terkotak-kotak berdasarkan marga. \u201cOh, kau bukan marga kami? Ya, baiklah, kita kenal saja.\u201d, begitu mungkin dalam hatinya. Sebaliknya, kalau marganya sama, tiba-tiba rasa persaudaraan muncul begitu kuat meskipun sebelumnya tidak saling kenal.<\/span><\/p>\n<h2><b>Hubungan yang dilihat dari kepentingan(?)<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak hanya soal marga, kepentingan juga menjadi variabel penting dalam persaudaraan orang Batak yang saya temui (yang saya temui lho ya). Kalau ada kepentingan yang sama, seperti sama-sama bekerja di bidang tertentu, organisasi yang sama, atau memiliki tujuan serupa, persaudaraan bisa terjalin meski marga berbeda. Namun, ketika kepentingan tidak sama, hubungan sering kali menjadi sekadar formalitas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misalnya, ketika di perantauan, solidaritas bisa muncul dalam konteks komunitas orang Batak dalam bidang kerja tertentu. Misalnya komunitas Batak dalam seni, pendidikan, atau yang lainnya. Tetapi begitu kepentingan itu selesai, hubungan yang tampak akrab tadi bisa berubah dingin.<\/span><\/p>\n<h2><b>Membandingkan dengan persaudaraan orang Timur<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai perantau, saya juga sering berinteraksi dengan orang-orang dari Indonesia bagian Timur. Dari pengalaman saya, yang saya lihat dan rasakan, persaudaraan mereka terasa jauh lebih inklusif. Orang-orang dari Maluku, Nusa Tenggara Timur, atau Papua, misalnya, tidak memandang latar belakang keluarga, marga, atau suku ketika membangun hubungan. Persaudaraan mereka didasarkan pada rasa senasib sebagai perantau, bukan pada ikatan garis keturunan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika bertemu sesama orang Timur, mereka saling mendukung dengan tulus. Tidak ada pertanyaan, \u201cKamu dari suku apa?\u201d atau \u201cApa margamu?\u201d Mereka langsung saling mengakui sebagai saudara, berbagi tawa, dan saling membantu tanpa banyak pertimbangan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kontras ini sering membuat saya bertanya-tanya: mengapa solidaritas orang Batak terasa terkotak-kotak dibandingkan dengan orang timur? Bukankah di tanah perantauan, semestinya kita semua adalah saudara?<\/span><\/p>\n<h2><b>Tidak berarti solidaritas orang Batak itu buruk, tapi\u2026<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Persaudaraan berbasis marga memang tidak sepenuhnya salah. Dalam adat dan budaya Batak, marga adalah identitas yang sangat penting. Namun, di zaman sekarang, khususnya di perantauan, rasanya terlalu sempit jika solidaritas hanya dibangun di atas kesamaan marga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika kita jauh dari kampung halaman, seharusnya yang menjadi concern kita adalah rasa kebersamaan sebagai sesama perantau, bukan lagi garis keturunan atau kepentingan semata. Kita perlu belajar dari saudara-saudara kita dari Indonesia bagian timur yang menunjukkan bahwa persaudaraan tidak membutuhkan syarat tambahan selain rasa kebersamaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau kita ingin benar-benar menghidupkan semangat &#8220;persaudaraan orang Batak,&#8221; kita perlu lebih membuka diri. Tidak apa-apa jika marga menjadi bagian dari identitas budaya, tetapi jangan sampai menjadi batasan solidaritas. Bukankah lebih indah jika kita semua bisa saling mendukung tanpa memandang marga?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Persaudaraan sejati adalah tentang kepedulian dan rasa saling menghargai, bukan hanya soal marga, kepentingan, atau sekadar formalitas. Solidaritas yang inklusif tidak hanya memperkuat hubungan, tetapi juga memperkuat identitas kita sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang majemuk.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, kalau kau orang Batak di perantauan dan bertemu sesama Batak, jangan berhenti di pertanyaan \u201cMargamu apa?\u201d Tapi lanjutkan dengan, \u201cBagaimana di perantauan?\u201d, siapa tahu kita bisa saling membantu.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Ricky Bryan DP Tampubolon<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/partuturan-panduan-sapaan-kekerabatan-batak-toba-yang-perlu-dipahami\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Partuturan: Panduan Sapaan Kekerabatan Batak Toba yang Perlu Kamu Tahu, biar Tahunya Nggak Lae doang!<\/a><\/strong><\/p>\n<div class=\"jeg_ad jeg_ad_article jnews_content_inline_2_ads \">\n<div class=\"ads-wrapper align-center \">\n<div class=\"ads_code\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jadi, kalau kau orang Batak di perantauan dan bertemu sesama Batak, jangan berhenti di pertanyaan \u201cMargamu apa?\u201d.<\/p>\n","protected":false},"author":2805,"featured_media":306226,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[6458,11513,18529,19380],"class_list":["post-306165","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-batak","tag-marga","tag-perantauan","tag-solidaritas"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/306165","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2805"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=306165"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/306165\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/306226"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=306165"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=306165"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=306165"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}