{"id":305797,"date":"2024-11-25T14:15:04","date_gmt":"2024-11-25T07:15:04","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=305797"},"modified":"2024-11-25T14:15:04","modified_gmt":"2024-11-25T07:15:04","slug":"pilkada-momen-favorit-para-begal-di-probolinggo","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pilkada-momen-favorit-para-begal-di-probolinggo\/","title":{"rendered":"Pilkada, Momen Favorit para Begal di Probolinggo Beraksi: Sebuah Irama Kriminal yang Selalu Berulang"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Siapa bilang Pilkada Probolinggo hanya menjadi \u201cpesta demokrasi\u201d buat para calon, tim sukses, dan masyarakat? Tentu, tidak hanya itu kawan. Selain spanduk calon yang berlomba menutupi pohon dan tembok, pilkada di sini juga dikenal sebagai \u201cpesta kekerasan\u201d bagi para begal. Aksi begal, yang sudah bikin resah, justru meningkat drastis setiap memasuki momen politik elite lokal ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Para begal di sini seakan-akan punya jadwal tak tertulis yang selalu nyetel sama kalender politik lokal. Mau itu Pilkades, Pilkada, atau pesta demokrasi lainnya, para begal seakan tahu kapan waktu paling pas untuk melancarkan aksinya. Mereka ini nyaris rutin beraksi saat momen politik tiba.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Warga sini sudah hafal pola mereka. \u201cHantu Jalanan\u201d ini akan lebih aktif pas momen-momen politik panas, ketika aparat sibuk mengamankan kotak suara atau berpatroli di lokasi kampanye akbar. Momen ini dimanfaatkan dengan cerdas oleh para begal.<\/span><\/p>\n<h2><b>Banyak daerah di Probolinggo dicap rawan begal<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai mahasiswa yang harus bolak-balik dari kota ke rumah di lereng Gunung Argopuro, momen seperti ini bikin hidup saya lebih penuh tantangan. Pulang telat sedikit saja, sudah langsung dapat \u201cperingatan keras\u201d dari orang tua. \u201cKalau nggak bisa sampai di rumah sebelum maghrib, nginep saja di kosan temannya,\u201d begitu mereka bilang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalahnya, bahaya begal di sini bukan cuma monopoli desa saya saja. Wilayah-wilayah lain di Kabupaten Probolinggo juga punya reputasi menegangkan. Sebut saja Sumberasih, Banyuanyar, Maron, Gending, sampai Tegalsiwalan\u2014semuanya dikenal sebagai \u201chotspot\u201d begal. Kalau malam tiba, daerah-daerah ini seperti berubah jadi arena survival horror.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Warga yang sudah paham risiko ini memilih mengurung diri di rumah setelah matahari terbenam. Kalau pun ada yang nekat keluar, itu biasanya karena kepepet kebutuhan yang benar-benar penting. Lainnya, cuma bisa pasrah dan berharap ada patroli polisi lewat di saat-saat genting. Tapi, seperti kata pepatah, patroli polisi ibarat sinyal Wi-Fi di pelosok: ada tapi susah ditemukan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ironisnya, fenomena ini seperti dianggap lumrah. \u201cYa, memang tiap pemilu begini,\u201d kata warga. Situasi tak menentu yang datang bersama pesta demokrasi ini bukan lagi hal baru. Saking seringnya, seolah-olah begal ini adalah semacam tim sukses tak resmi yang memanfaatkan keramaian politik untuk cari \u201ccuan\u201d dengan cara kriminal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, bagi siapa pun yang punya urusan di sini saat musim politik, saran saya cuma satu: hati-hati. Di Probolinggo, pesta demokrasi bukan hanya soal memilih pemimpin, tapi juga soal bertahan hidup dari ancaman begal.<\/span><\/p>\n<h2><b>Tak hanya malam, sebagian kasus aksi kriminal ini juga terjadi di pagi hari<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bulan lalu, Sabtu, 26 Oktober 2024, ada <a href=\"https:\/\/www.detik.com\/jatim\/hukum-dan-kriminal\/d-7608125\/buruh-pabrik-rokok-di-probolinggo-dibegal-dikalungi-celurit-motor-dibawa#:~:text=Aksi%20begal%20terjadi%20di%20Probolinggo,pagi%2C%20sekitar%20pukul%2004.30%20WIB.\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">insiden pembegalan<\/a> di Dusun Krajan, Desa Jabungsisir, Kecamatan Paiton, Probolinggo. Korbannya seorang perempuan berinisial H (38). Kala itu ia mau berangkat kerja ke PT Secco Nusantara sekitar pukul 4.30 pagi. Baru saja sampai di Dusun Krajan, dua orang pria berhelm muncul dan menghadangnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tanpa tedeng aling-aling, mereka langsung mengalungkan celurit ke leher korban, sembari memaksa untuk menyerahkan barang berharga. Meski tak ada korban jiwa, tapi sepeda motor seharga Rp19,7 juta raib.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tak hanya H. Dua bulan lalu, pria berinisial MA (35) melawan begal di Desa Pegalangan, Kecamatan Maron, Probolinggo. Tragedi itu terjadi setelah ia pulang dari beli tempe bersama sang istri pukul 21:23 WIB. Dia dihadang seorang begal yang tiba-tiba mengeluarkan celurit. MA yang tidak mau kalah, mencoba berduel dan meminta istrinya untuk mencari bantuan. Tapi, sayang, saat sang istri kembali, MA sudah terkapar dengan luka-luka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kasus lain, kemarin lusa, seorang penjual kopi keliling juga di begal di Kecamatan Krejengan. Nahas, barang dagangan dan motor korban raib dibawa dua pelaku.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semua kasus di atas terjadi di tempat-tempat yang sunyi dan jauh dari perhatian. Pencahayaan jalan di area-area semacam itu sudah bisa ditebak, gelap, bahkan enggak ada lampu sama sekali.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, nggak heran kalau para begal mudah beraksi. Momen-momen pagi buta, subuh, terutama malam hari (terutama momen Pilkada), bisa dibilang adalah \u201cjam operasi utama\u201d buat mereka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai warga Probolinggo, saya hanya ingin satu hal sederhana: daerah ini aman dan nyaman untuk semua warganya. Pilkada, tanpa dipanasi sekalipun sudah panas, nggak perlu ditambahin aksi para pelaku begal.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Adi Purnomo Suharno<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/probolinggo-itu-kota-di-jawa-timur-dan-kami-bukan-orang-madura-meski-pakai-logat-madura\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Probolinggo Itu Kota di Jawa Timur, dan Kami Bukan Orang Madura meski Pakai Logat Madura<\/a><\/strong><\/p>\n<div class=\"jeg_ad jeg_ad_article jnews_content_inline_2_ads \">\n<div class=\"ads-wrapper align-center \">\n<div class=\"ads_code\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Selain spanduk calon yang berlomba menutupi pohon dan tembok, pilkada Probolinggo juga dikenal sebagai \u201cpesta kekerasan\u201d bagi para begal.<\/p>\n","protected":false},"author":2700,"featured_media":305809,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[9831,5324,2500],"class_list":["post-305797","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-begal","tag-pilkada","tag-probolinggo"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/305797","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2700"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=305797"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/305797\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/305809"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=305797"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=305797"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=305797"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}