{"id":3052,"date":"2019-06-06T13:20:02","date_gmt":"2019-06-06T06:20:02","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=3052"},"modified":"2022-01-17T15:06:03","modified_gmt":"2022-01-17T08:06:03","slug":"ingat-mohon-maaf-lahir-batin-jangan-hanya-saat-lebaran","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ingat-mohon-maaf-lahir-batin-jangan-hanya-saat-lebaran\/","title":{"rendered":"Ingat! Mohon Maaf Lahir Batin Jangan Hanya Saat Lebaran"},"content":{"rendered":"<p>Saat lebaran tiba, selain ucapan takbir, tahmid, dan tasbih, yang paling sering diucapkan adalah ucapan <em>minal aidin wal faidzin<\/em> yang diselipi ucapan mohon maaf lahir dan batin.<br \/>\nSebagai bahan refleksi untuk kita semua, termasuk saya dan kalian, kalimat selipan \u201cMohon maaf lahir batin\u201d itu bukanlah kalimat yang sederhana, ada konskwensi yang harus dijalankan oleh penggunanya, dan juga penerimanya.<br \/>\nPada saat mengucapkan \u201cMohon maaf lahir dan batin\u201d maka konskwensi yang dihadapi pengguna kalimat ini, harus mengucapkannya dengan penuh kesadaran dan penyesalan atas segalah kesalahan yang telah, atau pernah dilakukan di hari \u2013 hari yang telah lampau.<br \/>\nBegitu juga penerima ucapan ini, harus menerima dengan sadar dan mengikhlaskan segala kesalahan yang telah dilakukan oleh orang yang bermaksud mengucapkan kalimat tersebut.<br \/>\nUcapan \u201cMohon maaf lahir batin\u201d sebenarnya bukan ucapan yang dikhususkan pada saat lebaran saja, tapi kalimat ini afdolnya di ucapkan pada saat kita tersadar atas kesalahan kita, di saat apa pun, dan kapan pun itu.<br \/>\nJangan sampai ucapan \u201cMohon maaf lahir dan batin\u201d hanya menjadi formalitas yang dilakukan pada saat lebaran, atau dalam artian lain hanya sekadar menyelaraskan budaya dengan orang banyak, biar terhindar dari anggapan negatif, jamaah sholat Ied.<br \/>\nLihat saja betapa banyak orang yang bermusuhan tapi enggan bermaaf \u2013 maafkan, atau kaitan dengan ini betapa banyak orang yang bermaaf \u2013 maafan pada saat lebaran, dan setelahnya mereka akan kembali berseteru. Pertanyaannya, apakah kalian hanya akan saling maaf \u2013 memafkan ketika lebaran?<br \/>\nSangat riskan sekali, saya melihat budaya semacam itu, tapi suatu hal yang tidak bisa dipungkiri, seberapa banyak orang yang mengucapkan kalimat \u201cMohon maaf lahir batin\u201d, tapi setelahnya sebegitu banyak juga orang yang akan kembali berseteru. Dan pada hari biasa (di luar lebaran) mereka akan memperpanjang perseteruan mereka.<br \/>\nSederhananya, saya ingin katakan : \u201cMohon maaf lahir batin, baiknya di jadikan panismen atas kesalahan kita terhadap orang lain, baik yang di sengaja ataupun tidak\u201d<br \/>\nKalau ucapan ini kita jadikan panismen untuk diri kita, maka kemungkinan kita tidak akan terbiasa untuk melakukan kesalahan, karena dalam perenungan kita akan dapat memaknai, bahwa kalimat ini diciptakan untuk upaya menghapus kesalahan, sedangkan yang perlu kita lakukan seharusnya menghindari kesalahan.<br \/>\nAndai kata kita tidak pernah melakukan kesalahan, apakah kita akan tetap minta maaf? Jelaslah tidak, akan tetapi yang perluh kita adalah manusia yang tidak lepas dari kesalahan oleh karena itu sangat penting untuk kita saling maaf \u2013 memaafkan.<br \/>\nMeminta Maaf Bukan Berarti Pecundang, Dan Memafkan Bukan Berarti Kalah<br \/>\nKetika kita meminta maaf bukan berarti kita adalah pecundang, justru sebaliknya kita adalah pemenang yang memulai untuk berdamai. Ingat, tidak semua orang bisa melakukan hal tersebut, atau tidak semua orang bisa melakukannya dengan tulus.<br \/>\nBahkan tidak sedikit yang justru gengsi meminta maaf kepada orang lain, mungkin saja dia akan merasa diri kecil apa bila dia memulai meminta maaf, padahal dengan sikap begitu justru dia sedang mengecilkan dirinya.<br \/>\nPerlu diketahui bahwa orang yang berani meminta maaf dengan tulus hanyalah orang yang berjiwa besar lagi pikirannya jernih, dan juga hatinya bersih. Lantas, apa orang seperti ini dirinya kecil, sungguh orang seperti ini adalah orang yang berjiwa besar.<br \/>\nBegitu juga orang yang memaafkan. Orang yang memaafkan bukan berarti kalah, justru orang yang memaafkan adalah orang yang menjemput kemenangan, karena <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/saling-memaafkan\/\">saling memaafkan adalah kemenangan bersama<\/a>, bukan kemenangan sepihak.<br \/>\nMaaf \u2013 memaafkan bukanlah seperti sebuah kompetisi, <a href=\"https:\/\/tirto.id\/q\/calon-presiden-2019-eTH\">atau sebut saja Capres<\/a>. Di mana yang menang tidak boleh sombong, dan yang kalah harus bisa menerima. Bukan seperti itu!<br \/>\nMaaf \u2013 memaafkan adalah kompetisi yang jika dapat dilaksanakan menjadi kemenangan bersama, jika tidak dilaksanakan menjadi kekalahan bersama.<br \/>\nMaqam Tertinggi Pada Peristiwa Maaf \u2013 Memaafkan<br \/>\nDalam persoalan maaf \u2013 memaafkan, ketika kita mampu mengucapkan kata maaf, maka kita telah melakukan kebaikan, tapi sifat kebaikan tersebut adalah sifat yang biasa \u2013 biasa saja. Begitu juga dengan orang yang memafkan ketika dia menerima kata maaf.<br \/>\nMaqam tertinggi seseorang dapat dirasakan, ketika dia dapat memafkan sebelum seseorang meminta maaf, atau bahkan ketika seseorang melakukan kesalahan dia telah mengikhlaskan, dan memafkan kesalahan tersebut.<br \/>\nTapi, mahluk mulia seperti ini rasanya sangat jarang ditemui di dunia yang penuh dengan kegelapan ini, hanya orang \u2013 orang tertentu saja yang dapat melakukan hal tersebut.<br \/>\nAkhir kata, ucapan \u201cMohon maaf lahir batin\u201d jangan hanya di jadikan sebuah momentum yang hanya bisa diucapkan pada saat lebaran, lebih dari itu dalam setiap waktu kita harus senantiasa melakukannya sebagai panismen atas segala kesalahan kita.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sebagai bahan refleksi untuk kita semua, termasuk saya dan kalian, kalimat selipan \u201cMohon maaf lahir batin\u201d itu bukanlah kalimat yang sederhana.<\/p>\n","protected":false},"author":121,"featured_media":3114,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13080],"tags":[794,342,807,808],"class_list":["post-3052","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-personality","tag-idulfitri","tag-lebaran","tag-minal-aizin-wal-faizin","tag-mohon-maaf-lahir-batin"],"modified_by":"Ibil S Widodo","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3052","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/121"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3052"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3052\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3114"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3052"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3052"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3052"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}