{"id":304866,"date":"2024-11-17T17:29:39","date_gmt":"2024-11-17T10:29:39","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=304866"},"modified":"2024-12-03T13:01:22","modified_gmt":"2024-12-03T06:01:22","slug":"4-kuliner-jogja-yang-kurang-cocok-di-lidah-wisatawan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-kuliner-jogja-yang-kurang-cocok-di-lidah-wisatawan\/","title":{"rendered":"4 Kuliner Jogja yang Kurang Cocok di Lidah Wisatawan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kuliner Jogja yang beragam menjadi salah satu daya tarik wisata. Selain mendatangi tempat-tempat ikonik, wisatawan biasanya menjajal kuliner lokal atau kuliner viral. Nggak heran, wisatawan tidak pernah bosan datang ke daerah ini.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sudah beberapa kali menemani teman-teman dari luar kota yang ingin kulineran di Jogja. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Saya salut dengan semangat mereka mengeksplorasi panganan lokal. Sekalipun panganan itu kurang cocok di lidah mereka, mereka tetap dengan senang hati mencobanya. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, di bawah ini beberapa kuliner Jogja yang kurang cocok di lidah mereka.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Gudeg<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gudeg makanan khas Jogja yang paling ikonik. Panganan yang satu ini begitu mudah ditemukan di Jogja, baik varian gudeg basah maupun gudeg kering. Harganya pun beragam. Ada yang ramah di kantong, tapi tidak sedikit pula yang menguras dompet.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Varian apa pun itu, kebanyakan wisatawan tidak cocok dengan gudeg karena cita rasanya yang cenderung manis. Sebagai warga lokal, saya merasa tidak ada yang salah dengan panganan satu ini. Di lidah saya semuanya pas. Rasa manis, gurih, dan pedas krecek berpadu dengan sempurna.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, perpaduan itu ternyata tidak dirasakan oleh kawan-kawan saya yang berasal dari luar kota. Selalu saja rasa manis lebih terasa daripada rasa-rasa lain. Padahal, kebanyakan dari mereka tidak suka dengan rasa manis.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 Mie Letheg<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mie letheg adalah mi dengan bahan dasar tepung tapioka dan singkong yang berasal dari Srandakan, Bantul. Mi satu ini begitu khas karena tampilannya yang berwarna keruh kecoklatan sehingga tampak kurang menarik diolah menjadi panganan. Namun, jangan salah, tampilan yang kurang menarik itu sebenarnya hasil dari proses pembuatan yang alami alias tanpa pewarna dan pengawet.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi orang luar kota yang baru pertama kali mencicipi berbagai makanan berbahan mie letheg, mungkin mereka akan kurang sreg karena tampilan mi sebelum diolah. Namun, setelah mencicipinya, tidak sedikit yang jadi suka atau setidaknya doyan. Dari segi rasa, menurut saya mie letheg tidak ada bedanya dengan mi pada umumnya. Hanya saja, dari sisi tekstur mi memang sedikit berbeda, lebih kenyal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sayangnya, beberapa teman terlanjur terpengaruh dengan tampilan mie letheg sebelum diolah. Itu mengapa rasa seenak apa pun tetap sulit diterima di lidah mereka.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-kuliner-jogja-yang-kurang-cocok-di-lidah-wisatawan\/2\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em><strong>Baca halaman selanjutnya: #3 Gatot&#8230;<\/strong><\/em><\/a><br \/>\n<!--nextpage--><\/p>\n<h2><b>#3 Gatot<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Camilan berbahan dasar singkong ini bisa dengan mudah kalian temukan di penjual getuk dan tiwul. Camilan tradisional yang berasal dari<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/gunungkidul-daerah-penuh-kejadian-aneh-yang-bikin-bantul-terlihat-normal\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> Gunung Kidul<\/a> ini tidak hanya populer di Jogja, pamornya bahkan sudah sampai ke Jawa Tengah dan Jawa Timur. Tapi, kalau mau merasakan gatot yang benar-benar otentik, Jogja adalah tempat yang tepat.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya teman-teman saya bukannya kurang cocok dengan rasa Gatot, tapi tidak cocok dengan teksturnya. Camilan satu ini punya tekstur yang lengket, belum lagi taburan kelapa di atasnya yang sering berjatuhan ketika dimakan. Repotlah pokoknya makan camilan satu ini. Sementara itu, beberapa kawan lagi-lagi mengeluhkan rasa manis yang lebih dominan di camilan tradisional ini.<\/span><\/p>\n<h2><b>#4 Walang goreng<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"><a href=\"https:\/\/wisata.gunungkidulkab.go.id\/belalang-goreng\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Walang goreng<\/a> alias belalang goreng termasuk kuliner ekstrem yang banyak dijajakan di Gunungkidul. Panganan ini bisa dengan mudah ditemui di pinggir-pinggir jalan menuju Gunungkidul dalam bentuk toples maupun rentengan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kata orang-orang, walang goreng punya cita rasa gurih seperti camilan yang digoreng pada umumnya. Saya sebenarnya pernah mencicipinya dahulu, dahulu sekali. Namun, saya lupa bagaimana rasanya. Yang jelas, walang goreng bukan selera saya. Kalau cocok di lidah, saya pasti sudah mencicipinya berkali-kali dan bisa mengingat detail rasanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Teman-teman saya yang mampir ke Jogja ternyata juga kurang cocok dengan camilan satu ini. Memang dari segi rasa cenderung gurih, tidak manis seperti kuliner Jogja pada umumnya, tapi kawan saya jarang ada yang doyan. Mungkin karena termasuk panganan yang aneh ya, jadi belum terbiasa.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Di atas beberapa kuliner Jogja yang kurang cocok di lidah wisatawan. Namun, sekali lagi, ini menurut selera teman-teman saya ya. Bisa jadi selera orang lain berbeda. Di sisi lain, walau mungkin kurang cocok di lidah, saya tetap merekomendasikan untuk mencicipinya setidaknya sekali seumur hidup. Itung-itung sebagai pengalaman biar kunjungan ke Jogja semakin afdol\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Kenia Intan<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/alasan-orang-jogja-malas-kulineran-di-kopi-klotok\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Alasan Orang Jogja Malas Kulineran di Kopi Klotok<\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ada beberapa kuliner Jogja yang terasa kurang cocok di lidah wisatawan seperti gudeg, mie letheg, gatot, dan walang goreng. <\/p>\n","protected":false},"author":2401,"featured_media":304870,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[2948,115,438,4418,462],"class_list":["post-304866","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-camilan","tag-jogja","tag-kuliner","tag-kuliner-jogja","tag-makanan"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/304866","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2401"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=304866"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/304866\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/304870"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=304866"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=304866"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=304866"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}