{"id":304672,"date":"2024-11-15T11:00:44","date_gmt":"2024-11-15T04:00:44","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=304672"},"modified":"2024-11-16T13:54:54","modified_gmt":"2024-11-16T06:54:54","slug":"mees-hilgers-minta-maaf-gara-gara-cedera-adalah-hal-konyol","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mees-hilgers-minta-maaf-gara-gara-cedera-adalah-hal-konyol\/","title":{"rendered":"Mees Hilgers Minta Maaf Gara-gara Cedera Adalah Hal Terkonyol dalam Dunia Sepak Bola"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Baru kali ini, saya lihat ada pemain cedera minta maaf. Yak, Mees Hilgers yang saya maksud.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mees Hilgers membuat <a href=\"https:\/\/www.instagram.com\/p\/DCTePIJMcj7\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">postingan<\/a> bahwa dia meminta maaf tidak bisa ikut gabung Timnas karena harus menjalani pemulihan. Hal ini sebenernya amat, sangat, masuk akal. Logikanya sederhana: kau tak akan ikut lomba lari jika kakimu keseleo. Bener kan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, sayangnya, yang logika gini nggak masuk di netizen fans karbitan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sebenernya benci betul dengan istilah fans karbitan. Tapi saya terpaksa memakainya setelah melihat banyak postingan dan komentar yang menyudutkan Mees Hilgers, yang dianggap tidak nasionalis. Orang-orang banyak yang mengira cedera hanyalah alasan. Ya begitulah kalau otaknya mengira tukang urut adalah solusi palugada untuk semua penyakit.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya kecewa betul dengan sikap ini. Kasihan dengan Mees Hilgers yang harus berurusan dengan imbesil-imbesil yang kebetulan pegang hape. Nggak tahu dan nggak mau menggunakan otaknya untuk berpikir sedikit keras bahwa penanganan cedera dalam sepak bola bukan urusan yang sepele.<\/span><\/p>\n<p>Lebih lucu lagi, netizen menggeruduk akun FC Twente yang tidak melepas Mees karena alasan cedera. Iki wong jan-jane ngerti ora sih. Koyo wong ra tau kerjo.<\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>Solidaritas pada Mees Hilgers<\/strong><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya melihat sendiri di minggu lalu bagaimana Eder Militao berteriak kesakitan memegangi kakinya. ACL lagi. Musim pun praktis berakhir untuk Militao. Wajah horor Vini, Bellingham, saya lihat begitu dekat dari layar. Semua orang terdiam. Ancelotti menatap nanar, mengutuk dirinya yang harus kehilangan satu pemain lagi dalam mengarungi musim.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seluruh pemain Madrid bersolidaritas dan mendoakan. Klub-klub lain menunjukkan dukungannya pada Militao. Dan setahu saya hingga sekarang, tak ada satu pun yang menekan Militao untuk meminta maaf.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah yang harusnya netizen lakukan pada Mees Hilgers. Bukan mengutuknya dan menganggap cedera tak bisa dijadikan alasan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Betul, Mees tidak terkena ACL. Perbandingan ini tak apple to apple, tapi poin saya adalah, sikap terhadap pemain cedera harusnya sama: tidak ada yang menekan. Itu risiko yang menghantui pemain. Jadi kau sebagai penonton, nggak usah banyak cingcong dan berisik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Postingan minta maaf Mees Hilgers ini menunjukkan memang kemunduran logika itu nyata. Atau memang dari dulu tidak pernah meningkat, fans (karbitan) sepak bola tetep gini-gini aja. Kalau ada pemain cedera saja bacotnya sudah sengeri ini, saya nggak bisa membayangkan kalau nantinya Indonesia tidak lolos Piala Dunia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang bisa saya tebak adalah, kolom komentar Instagram pemain akan penuh dengan sumpah serapah dan ancaman mengerikan. Nggak usah menganggap saya berlebihan lah, selama ini di dunia maya, tak sedikit orang berani mengancam menghilangkan nyawa, sekalipun nyalinya hanya sebesar butiran ciki.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>Semoga menang, agar pemain aman<\/strong><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jujur saja, saya berharap Indonesia nanti malam menang atau setidaknya imbang lawan Jepang. Saya sebenarnya malu menulis ini, karena saya tahu betul ini benar-benar khayalan. Kemungkinan memang selalu ada, tapi, lihat, ini Jepang, Bolo. Jepang. Pemain mereka kaliber tier 1 Eropa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi saya terpaksa berharap seperti itu karena tak ingin pemain-pemain Timnas diserang. Saya tak ingin ada postingan kayak milik Mees Hilgers. Mereka hanyalah pemain sepak bola. Mereka tidak bertanggung jawab atas apa-apa yang kalian rasakan nanti. Kalah wajar, menang ya sangar. Memang begitu harusnya sepak bola.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya pikir harusnya kita mulai tinggalkan cara-cara primitif dengan menekan orang lewat komen instagram dan sejenisnya. Apalagi, ini hanya perkara cedera. Mereka hanyalah pemain sepak bola, bukan pelaku kriminal. Tak perlu dihujani tuduhan-tuduhan yang muncul dari otak mini kalian yang tak bisa mencerna informasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rasanya lucu betul melihat bagaimana Mees Hilgers ditekan sebegitu keras, tapi terhadap orang-orang yang merusak negara ini secara gamblang, banyak yang masih membela. Ah, mau jadi apa dunia ini nanti.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Rizky Prasetya<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bahrain-tidak-perlu-takut-berlaga-di-jakarta\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Bahrain Tidak Perlu Takut Berlaga di Jakarta, Semua Akan Baik-baik Saja, Semoga<\/a><\/strong><\/p>\n<div class=\"jeg_ad jeg_ad_article jnews_content_inline_2_ads \">\n<div class=\"ads-wrapper align-center \">\n<div class=\"ads_code\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Postingan minta maaf Mees Hilgers ini menunjukkan memang kemunduran logika itu nyata. Atau mungkin dari dulu tidak pernah meningkat.<\/p>\n","protected":false},"author":777,"featured_media":304673,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[26672,1046],"class_list":["post-304672","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-mees-hilgers","tag-timnas-indonesia"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/304672","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/777"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=304672"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/304672\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/304673"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=304672"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=304672"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=304672"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}