{"id":304598,"date":"2024-11-15T10:00:04","date_gmt":"2024-11-15T03:00:04","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=304598"},"modified":"2024-11-25T17:25:09","modified_gmt":"2024-11-25T10:25:09","slug":"3-dosa-serial-upin-ipin-kepada-penonton-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-dosa-serial-upin-ipin-kepada-penonton-indonesia\/","title":{"rendered":"3 Dosa Serial Upin Ipin kepada Penonton Indonesia"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\"><em>Upin Ipin<\/em> punya sisi menarik yang nggak ada habis-habisnya untuk dibahas. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Latar ceritanya yang menyorot keseharian warga kampung terasa relate bagi kebanyakan penonton Indonesia. Selain itu, alur certinya yang sederhana membuat<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> tontonan ini mudah dicerna oleh berbagai kelompok usia. Nggak heran kalau serial TV anak-anak asal Malaysia ini berumur panjang di pertelevisian Indonesia, layaknya<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jika-doraemon-beneran-ada-di-dunia-nyata\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> Doraemon<\/a> sebagai pendahulunya.<\/span><\/p>\n<p>Asal tahu saja, <em>Upin Ipin <\/em>saat ini memiliki durasi tayang hingga 8 jam sehari di MNCTV. Walau<span style=\"font-weight: 400;\"> penayangannya diulang-ulang hingga ratusan kali, nyatanya masih banyak yang setia menonton serial dengan tokoh utama dua anak kembar botak itu. Saya kadang curiga, jangan-jangan duo botak itu <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">lebih populer di Indonesia dibanding negara asalnya.<\/span><\/p>\n<p><em>Upin Ipin <\/em>memang berhasil memberikan warna baru untuk tontonan anak-anak di Indonesia. Secara teknis gambar, serial ini semakin baik dari tahun ke tahun. Sementara dari sisi cerita, banyak pesan moral yang bisa dipetik. Namun, di balik semua sisi positif itu, <em>Upin Ipin <\/em>tetap menimbulkan beberapa kerasahan bagi penonton Indonesia.<\/p>\n<h2><b>Upin Ipin membuat anak-anak lebih fasih berbahasa Melayu<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di awal kemunculannya, <em>Upin Ipin<\/em> pernah dicap sebagai tontonan yang dapat melunturkan nasionalisme anak-anak Indonesia. Penggunaan bahasa Melayu dalam serial ini sering ditiru oleh anak-anak Indonesia. Sebenarnya wajar sekali sih kalau kartun ini menggunakan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bahasa-malaysia-lucu-karena-banyak-kosakatanya-persis-bahasa-indonesia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">bahasa Melayu<\/a>, wong asalnya saja dari Malaysia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahasa Melayu memiliki banyak kemiripan bahasa Indonesia karena berasal dari satu rumpun bahasa. Oleh sebab itu, penonton asal Indonesia bisa memahami dan meniru dialog dalam serial itu tanpa harus belajar bahasa Melayu dulu. Barangkali itulah yang menjadi alasan mengapa kartun ini tidak disulih suara ke dalam bahasa Indonesia, melainkan hanya menampilkan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">subtitle <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">terjemahan saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalahnya, penonton anak-anak memiliki kecenderungan untuk meniru apa yang mereka tonton. Jadilah anak-anak meniru gaya berbicara Upin dan Ipin dengan logat Melayunya yang khas. Padahal orang tua penonton anak-anak ini nggak pernah mengajarkan bahasa Melayu di rumah. Terkadang, anak-anak penonton setia Upin Ipin lebih fasih bertutur dalam bahasa Melayu ketimbang bahasa Indonesia.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-dosa-serial-upin-ipin-kepada-penonton-indonesia\/2\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em><strong>Baca halaman selanjutnya: Klaim budaya Indonesia secara halus&#8230;<\/strong><\/em><\/a><br \/>\n<!--nextpage--><\/p>\n<h2><b>Klaim budaya Indonesia secara halus<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"><em>Upin Ipin<\/em> bukan sekadar animasi hiburan saja. Lambat laun ia menjelma menjadi alat diplomasi budaya yang ampuh bagi Malaysia. Serial ini kerap mengangkat budaya asal Malaysia. Otomatis, duo kembar ini berperan sebagai alat promosi kebudayaan Malaysia secara halus.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"><em>Upin Ipin<\/em> pernah menayangkan beberapa kebudayaan Indonesia dalam beberapa episodenya. Misal, lagu <em>Rasa Sayange<\/em>, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mengenal-arti-motif-batik-dan-jarik-biar-nggak-salah-pakai-motif-slobog-di-acara-kawinan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">batik<\/a>, keris, wayang kulit, lemang, hingga rendang. Penikmat<em> Upin Ipin<\/em> dari luar Indonesia bisa dengan mudah menganggap bahwa semua kebudayaan itu asli dari Malaysia. Jika dibiarkan, negara kita akan kalah pengakuan di tingkat internasional.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Malaysia dan Indonesia memang punya sejarah panjang soal klaim budaya. Memiliki akar sejarah yang serumpun sebagai bangsa Melayu membuat dua negara ini punya kemiripan budaya. Di Indonesia, kemiripan ini sangat mudah dijumpai di Pulau Sumatera yang secara geografis\u00a0 lebih dekat dengan Negeri Jiran.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya, selisih paham tentang klaim kebudayaan ini menarik untuk dibicarakan. Alih-alih saling ribut, perwakilan Indonesia dan Malaysia harusnya bisa duduk bersama untuk mempelajari sejarah nenek moyangnya bangsa Melayu. Dengan begitu, akan muncul rasa saling menghargai kebudayaan satu sama lain.<\/span><\/p>\n<h2><b>Bikin anak-anak kecanduan makan ayam goreng<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sudah menjadi rahasia umum bahwa ayam goreng adalah makanan yang paling disukai oleh si kembar. Kegemaran Upin dan Ipin pada ayam goreng telah disebutkan berkali-kali dalam serial itu. Bahkan, digambarkan dalam adegan meja makan yang menggugah selera. Saking cintanya dengan ayam goreng, mereka pernah menolak makan karena hari itu Kak Ros tidak menyajikan ayam goreng di meja makan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Repetisi scene Upin dan Ipin makan ayam goreng jadi semacam doktrin bagi penonton anak-anak. Di benak mereka terbentuk narasi bahwa ayam goreng itu lezat, makan nggak akan lengkap tanpa kehadiran ayam goreng. Akibatnya, anak-anak yang hobi nonton Upin Ipin jadi kecanduan sama ayam goreng. Mereka meniru tabiat si kembar yang malas makan kalau nggak ada ayam goreng.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Paling ekstrem, anak-anak jadi susah disuruh makan sayur dan buah. Coba saja dari awal Upin dan Ipin diceritakan hobi makan sayur sop, pasti anak-anak jadi ikut-ikutan suka makan sayur yang nutrisinya lebih kompleks.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"><em>Upin Ipin<\/em> memang memiliki sederet dampak negatif yang sulit dihindari. Sebagai orang dewasa, sudah menjadi tugas kita untuk mendampingi anak-anak agar mereka tidak salah memahami apa yang mereka tonton. Meski demikian, harus diakui jika tayangan asal <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Malaysia\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Malaysia<\/a> ini memang memiliki banyak pengajaran yang baik bagi anak-anak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hingga saat ini belum ada animasi asal Indonesia yang bisa menyaingi kualitas Upin Ipin, terutama dari segi materi ceritanya. Tidak mengherankan kalau duo botak ini masih akan menjadi idola bagi anak-anak dan masyarakat Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Erma Kumala Dewi <\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-episode-upin-ipin-yang-cukup-ditonton-sekali-seumur-hidup\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">4 Episode Upin Ipin yang Cukup Ditonton Sekali Seumur Hidup<\/a><\/b><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Upin Ipin punya beberapa dosa ke penonton Indonesia: fasih berbahasa Melayu, klaim budaya Indonesia secara halus, kecanduan ayam goreng.<\/p>\n","protected":false},"author":1752,"featured_media":304602,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13083],"tags":[31,9299,5612,9298,5855],"class_list":["post-304598","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-acara-tv","tag-indonesia","tag-ipin","tag-malaysia","tag-upin","tag-upin-ipin"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/304598","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1752"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=304598"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/304598\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/304602"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=304598"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=304598"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=304598"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}