{"id":3041,"date":"2019-06-06T13:15:36","date_gmt":"2019-06-06T06:15:36","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=3041"},"modified":"2022-01-17T15:06:18","modified_gmt":"2022-01-17T08:06:18","slug":"pulang-adalah-sebuah-usaha-untuk-bertobat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pulang-adalah-sebuah-usaha-untuk-bertobat\/","title":{"rendered":"Pulang adalah Sebuah Usaha untuk Bertobat"},"content":{"rendered":"<p>Bertahun-tahun lalu\u2014jika saya tidak salah ingat, saya pernah menganggap orang-orang yang merantau sering kali pudar jati dirinya atau kehilangan kebiasaan-kebiasaan baik semasa di kampung. Jika sebelumnya mereka sering mengaji, maka di perantauan Alquran menjadi jauh darinya. Jika semasa di desa mereka senantiasa bersemangat dalam bekerja, maka kemalasan acapkali sering selalu menimpa jika tanah rantau sudah lama dipijak.<br \/>\nIni bukan asumsi saya belaka. Karena saya seringkali mendengar cerita dari beberapa orang di sekitar saya. Jadi semacam sudah terklarifikasi oleh berbagai pihak yang mengalaminya yhaaa~<br \/>\nBeberapa kerabat saya bercerita, juga kawan-kawan yang telah merasakan hidup di tempat perantauan nun jauh di sana. Pada awalnya saya menganggap mereka hanya kurang semangat, alasan. Mana mungkin menyempatkan mengaji barang sepuluh menit saja tidak bisa? Dalam dua puluh empat jam sehari, toh tidak kita gunakan semua untuk bekerja. Paling banter 12 jam. Itu sudah luar biasa.<br \/>\nBegitulah, hingga saya merasakan bagaimana kehidupan rantau sebenarnya. FYI, sekali lagi kini saya jadi mahasiswa salah satu universitas negeri di Semarang. Orang-orang sering menyebutnya UI (Universitas Indonesia) cabang Semarag.<br \/>\nHidup saya memang tidak benar-benar berubah 180 derajat. Namun, bahwa banyak hal yang tak lagi sama: iya. Perubahan itu tidak hanya soal pola makan atau buang air seperti yang kemarin saya tulis di sini,melainkan juga tabiat laku.<br \/>\nSoal salat misalnya, jika di rumah saya hampir selalu tepat waktu karena masjid berjarak semester di samping rumah, maka di Semarang, sebaliknya; hampir semua salat saya tak tepat waktu. Kadang telat setengah jam, satu jam, atau bahkan benar-benar kelewat.<br \/>\nJika saat masih di kampung Alquran selalu berada di tangan saya tiap bakda magrib, maka sekarang ia sering terlupakan. Iya. Gawailah yang jadi penggantinya.<br \/>\nPerubahan ini tentu tidak terjadi ujug-ujug\u2014tiba-tiba, melainkan bertahap, seiring berjalannya waktu. Awal-awal di kampus, spirit kebiasaan saya semasa di rumah masih terjaga. Setidaknya soal dua hal tadi\u2014salat dan ngaji.<br \/>\nTabiat-tabiat yang hilang itu, tak benar-benar saya ketahui penyebabnya apa. Entah saya memang sejak dulu tidak ikhlas beribadah\u2014hanya lahir dari keterpaksaan, atau saya rajin tetapi kemudian terpengaruh lingkungan. Entahlah. Yang jelas, tanah rantau memang begitu keras. Tidak ada orang tua yang akan mengingatkan kita tiap waktu. Kita harus benar-benar mandiri. Sebab ketika dulu orang tua bisa mengontrol laku kita, sekarang mereka tidak bisa.<br \/>\nPandangan saya terhadap orang-orang rantau tentu kemudian berubah. Menyempatkan barang sepuluh-lima belas menit untuk mengaji memang sulit. Sulit. Entah kenapa. Godaan memang begitu kuat. Dan saya belum cukut tangguh untuk menangkalnya.<br \/>\nFase-fase ini begitu sulit dan menyedihkan. <a href=\"https:\/\/today.line.me\/id\/pc\/article\/Bete+ya+Pacar+Nggak+Mau+Diajak+Teleponan+Pahami+Dulu+7+Alasannya-YwmXVa\">Kadang jika ditelepon<\/a> Bapak atau Mamak di rumah, kebohongan demi kebohongan harus senantiasa saya katakan.<br \/>\n\u201cNang, sudah salat magrib, kan?\u201d<br \/>\n\u201cSudah, Mak.\u201d<br \/>\n\u201c<a href=\"https:\/\/mojok.co\/agm\/liputan\/sowan-kiai-gus-karim-guru-ngaji-jokowi\/\">Sudah sampai juz berapa<\/a>?\u201d<br \/>\n\u201cDua puluh sembilan.\u201d<br \/>\n\u201cAlhamdulillah. Sebentar lagi khatam.\u201d<br \/>\nDialog di atas tentu merupakan ilustrasi kebohongan saya. Tiap kali bohong seperti itu, saya hanya bisa membayangkan Mamak dan Bapak saya tersenyum. Senyum yang ironis, tentu. Jika sudah begini, maka cara terbaik untuk semua\u2014mengembalikan sprit saya dan juga kelegaan di hati mereka\u2014adalah pulang.<br \/>\nPulang adalah sebuah usaha untuk bertobat.<br \/>\nTerlepas dari segala hal di tanah rantau\u2014entah kita sukses atau belum, masih sebaik di kampung atau tidak, pulang adalah sebuah usaha untuk membuat kita ingat kembali apa tujuan kita pergi dari kampung halaman. Kita mengingat ada orang tua yang selalu mengharap anaknya di rumah, kita mengingat ada masa depan yang patut kita perjuangkan, kita mengingat, bahwa sejauh mana pun langkah kita berpijak, Tuhan selalu melihat dan mencurahkan kasih saying.<br \/>\nPulang, sekali lagi, bukan untuk pamer. Pulang adalah seni mengingat. Sebab saat di rumah, memori kita menyatu. Jiwa kita seolah terisi kembali.<br \/>\nMaka di momen Idulfitri sekarang, pulang begitu bermakna. Kita pulang untuk sesuatu yang akan terbangun lebih jauh: tekad.<br \/>\nBegitulah.<br \/>\nSelamat Idulfitri.<br \/>\nSelamat merayakan kepulangan. []<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pulang, sekali lagi, bukan untuk pamer. Pulang adalah seni mengingat. Sebab saat di rumah, memori kita menyatu. Jiwa kita seolah terisi kembali.<\/p>\n","protected":false},"author":68,"featured_media":3117,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13080],"tags":[794,593,809],"class_list":["post-3041","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-personality","tag-idulfitri","tag-mudik-lebaran","tag-pulang"],"modified_by":"Ibil S Widodo","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3041","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/68"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3041"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3041\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3117"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3041"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3041"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3041"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}