{"id":301612,"date":"2024-11-11T12:52:35","date_gmt":"2024-11-11T05:52:35","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=301612"},"modified":"2024-11-11T12:52:35","modified_gmt":"2024-11-11T05:52:35","slug":"orang-wonosobo-tidak-mengenal-cilok-tahunya-salome","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/orang-wonosobo-tidak-mengenal-cilok-tahunya-salome\/","title":{"rendered":"Orang Wonosobo Tidak Mengenal Cilok, Tahunya Salome"},"content":{"rendered":"<p><em>Mengenal salome, cilok khas Wonosobo yang menggoyang lidah.\u00a0<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Wonosobo, salah satu daerah di Jawa Tengah yang banyak dikenal orang. Daerah ini kerap menjadi tujuan wisata karena keindahan alamnya. Selain panoramanya yang ciamik, Wonosobo punya banyak kuliner khas yang menarik untuk dijajal. Sebut saja,<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mie-ongklok-nggak-seenak-itu\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> mie ongklok<\/a>, carica, hingga nasi megono.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bicara soal makanan Wonosobo, ada satu camilan unik yang saya rasa menarik untuk dikulik lebih dalam yakni Salome. Pada dasarnya camilan ini mirip dengan cilok, sama-sama terbuat dari aci dan dicicipi dengan berbagai bumbu. Warga Wonosobo, apalagi mereka orang sudah lama tinggal di sini, lebih familiar dengan sebutan Salome daripada cilok.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Punya kekenyalan yang lebih pas daripada cilok<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalian akan lebih mudah menemukan salome daripada cilok dan pentol di Wonosobo.\u00a0 Salome memang sangat mirip dengan cilok dan pentol. Jajanan kaki lima ini terbuat dari aci dengan cita rasa yang gurih. Penyajiannya pun menggunakan bumbu-bumbu tambahan seperti saus sambal, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/gado-gado-ketoprak-dan-lotek-apa-bedanya-dan-mana-yang-lebih-enak\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">saus kacang<\/a>, dan kecap. Sangat mirip bukan?\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perbedaannya, di lidah orang Wonosobo, kekenyalan salome lebih pas daripada cilok. Ketika mengunyah jajanan kaki lima ini, tidak perlu bersusah payah seperti ketika mengunyah cilok. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Perbedaan lainnya, ada pada tambahan daging. Di salome, tambahan daging begitu terasa. Daging benar-benar memperkaya tekstur camilan dan rasa. Berbeda dengan cilok yang menjadikan daging seperti pelengkap saja.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Disajikan dengan sambal kacang<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penjual <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/menormalisasi-jajanan-kaki-lima-yang-nggak-higienis-adalah-hal-goblok\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">jajanan kaki lima<\/a> ini biasanya berkelilling Wonosobo dengan menggunakan gerobak yang ditaruh di atas motor. Penjualnya terkenal ramah dan humoris. Mereka bahkan tidak segan-segan menjelaskan apa itu salome kepada orang-orang yang baru pertama kali mencicipi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mirip dengan cilok, jajanan ini bisa disajikan dengan berbagai macam saus. Saus yang paling populer adalah saus kacang. Menambahkan saus kacang memperkaya cita rasa panganan menjadi lebih gurih. Selain itu, ada juga bumbu saus cabai, saus tomat, dan kecap. Bisa campur semua bumbu agar tercipta kombinasi rasa yang pas di lidah masing-masing pembeli.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Penjual salome di Wonosobo memiliki teloletnya tersendiri<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ibarat bus punya telolet untuk menarik perhatian di sepanjang jalan. Penjual salome juga punya <a href=\"https:\/\/oto.detik.com\/oto-galeri\/d-7324167\/fenomena-klakson-bus-basuri-yang-bikin-anak-anak-menari\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">basuri<\/a> atau teloletnya sendiri lho. Penjual biasanya menggunakan terompet hitam kecil yang jika ditekan berbunyi \u201cngik ngok ngik ngok\u201d. Jadi, jika mendengar suara ini, pasti sudah hafal jika itu adalah penjual jajanan yang satu ini.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, dengan suaranya yang ikonik itu saat dibunyikan itu juga jadi salah satu daya tarik tersendiri. Bocil-bocil biasanya jika membeli sembari nunggu dengan bermain terompet kecil itu sambal dibunyikan berkali-kali. Lucu dan menarik kan.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Mulai banyak variasi salome di Wonosobo<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dahulu, salome hanya ada varian kukusnya aja. Sekarang, di tengah perkembangan zaman dan juga persaingan dagang yang semakin tinggi, penjual selalu berinovasi. Ini dilakukan supaya dagangannya tetap eksis dan digemari siapapun.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itu mengapa,\u00a0 sekarang banyak muncul variasi di antaranya, salome goreng telur dan isi telur puyuh. Olahan variasi tersebut bisa menarik hati pembeli. Terbukti, sampai sekarang salome tetap dicari dan disukai anak-anak. Bahkan, orang dewasa tetap mencarinya untuk sekadar bernostalgia.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah salome, makanan kaki lima yang jadi kebangaan warga Wonosobo. Kenyal, gurih, dan mengenyangkan. Intinya kalau ke Wonosobo jangan nyari cilok ya karena namanya beda. Jika penasaran bagaimana rasanya jajanan yang satu ini, cobain deh kalau lagi di Wonosobo. Harganya murah meriah, dan dapat banyak lagi! Ayo ke Wonosobo!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Wulan Maulina<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/hal-yang-wajar-di-wonosobo-tapi-nggak-lumrah-di-jogja\/\"><b>4 Hal yang Wajar di Wonosobo, tapi Nggak Lumrah di Jogja<\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Orang Wonosobo lebih familier dengan salome daripada cilok. Dua jajanan itu memang mirip, hanya saja salome lebih nikmat di lidah. <\/p>\n","protected":false},"author":2312,"featured_media":302369,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12909],"tags":[6197,25634,12650,8615],"class_list":["post-301612","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kuliner","tag-cilok","tag-kuliner-wonosobo","tag-salome","tag-wonosobo"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/301612","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2312"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=301612"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/301612\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/302369"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=301612"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=301612"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=301612"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}