{"id":301301,"date":"2024-11-09T13:56:03","date_gmt":"2024-11-09T06:56:03","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=301301"},"modified":"2024-11-09T13:56:03","modified_gmt":"2024-11-09T06:56:03","slug":"3-pertanyaan-dibenci-mahasiswa-jurusan-pendidikan-agama-islam","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-pertanyaan-dibenci-mahasiswa-jurusan-pendidikan-agama-islam\/","title":{"rendered":"3 Pertanyaan yang Membuat Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam Muak"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya percaya setiap jurusan kuliah menyimpan suka dan duka. Tidak terkecuali Jurusan Pendidikan Agama Islam alias Jurusan PAI. Sebagai salah satu alumni mahasiswa PAI, saya memahami betul hal-hal menyebalkan kuliah di jurusan ini. Salah satu yang paling menyebalkan adalah banyak orang menyamakan kami dengan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/6-tipe-ustaz-yang-harus-kamu-hindari-ceramahnya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">ustaz<\/a>.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Anggapan itu sebenarnya baik. Namun, anggapan itu kadang merepotkan kami sebagai mahasiswa yang masih dalam proses belajar. Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan muncul setelah orang-orang mengetahui kami adalah mahasiswa PAI. Entah karena mereka benar-benar penasaran atau sekadar ingin menggoda kami.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>\u201cGimana hukumnya ini itu?\u201d<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini hal paling sering ditanyakan. Iya, karena kuliah di jurusan yang ada embel-embel \u201cIslam\u201d, kami jadi menanggung beban moral. Seringkali kami ini dikira ustad, alhasil sering sekali kami menerima pertanyaan seputar hukum keislaman. Soal halal-haram, boleh-tidaknya, dan segudang hukum lainnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal, kami ada di fakultas pendidikan. Artinya fokusnya adalah soal cara mengajar materi (Alquran, Aqidah, <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Fikih\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Fiqh<\/a>, Sejarah Islam) di sekolah, bukan mempelajari hukum Islam secara mendalam seperti anak-anak di Fakultas Syariah. Sebab, kami memang lebih diarahkan untuk menjadi tenaga pengajar, bukan jadi ustaz atau penceramah yang siap menjawab persoalan apa saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kami akan menjawab tidak tahu ketika benar-benar tidak mengetahui kebenarannya. Setelah itu, biasanya penanya akan merespon dengan \u201cLho, kuliah agama kok nggak bisa jawab soal hukum agama?\u201d Di saat yang sama, kalau kami coba menjawab, maka bisa-bisa tiap kali mereka ragu soal hal-hal sepele, kami jadi langganan yang ditanya. Serba salah memang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal serupa juga terjadi ketika menjelaskan persoalan hukum Islam karena ada banyak versi dan pendapat. Ribet pokoknya. Alhasil, kami lebih sering senyum-senyum saja, kemudian pelan-pelan meninggalkan obrolan yang mencekam itu.<\/span><\/p>\n<h2><b>\u201cMahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam pasti alumni pesantren?\u201d<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertanyaan kedua ini cukup sering muncul dan selalu bikin mahasiswa PAI garuk-garuk kepala. Entah dari mana asumsi berasal, tapi banyak orang mengira kalau mahasiswa PAI itu pasti alumni pesantren, atau kuliahnya sangat fokus untuk ngaji dan hafalan Qur&#8217;an.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Persepsi ini membuat kami dianggap pasti bisa menjadi guru ngaji atau bahkan ustad. Masalahnya, anggapan ini sudah ada sejak kami baru masuk kuliah. Iya, bukan ketika lulus, tapi bahkan ketika masih menjadi mahasiswa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Efeknya apa? Ketika <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/kampus\/warga-desa-muak-dengan-mahasiswa-kkn\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">KKN<\/a>, kami sering \u201cdilempar\u201d ke tempat mengajar TPQ atau sekolah diniyah. Bahkan, ada juga yang langsung disuruh untuk khutbah Jumat atau ngisi kultum dan pengajian.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi mahasiswa PAI, momen itu serem sekali. Kami tidak punya banyak pilihan selain akhirnya pura-pura bisa dan harus belajar kilat supaya terlihat mampu menyesuaikan diri dengan ekspektasi masyarakat.<\/span><\/p>\n<h2><b>\u201cMahasiswa PAI pasti alim-alim ya?\u201d<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, ini pertanyaan yang nggak kalah sering muncul. Anak PAI kerap dipandang alim-alim, rajin sholat berjamaah, dan paling malas keluar malam untuk nongkrong atau sekadar ngopi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Asumsi ini biasanya muncul karena jurusan agama diasosiasikan dengan dunia yang \u201cbersih\u201d dari kebiasaan anak muda yang dianggap \u201cnakal\u201d. Akhirnya kami sering dianggap kurang gaul, nggak seru, dan bahkan nggak mau untuk sekadar pacaran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yah, sebenarnya, anggapan ini ada benarnya, beberapa mahasiswa memang demikian. Tapi, sebagaimana mahasiswa pada umumnya, mahasiswa PAI juga manusia biasa, kok. Ada yang memang rajin ikut kajian, tapi ada juga yang nggak bisa jauh dari maido, dunia malam, dan kenakalan remaja lainnya. Apalagi banyak lho mahasiswa PAI yang merasa salah jurusan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Teman kelas saya bahkan pernah cerita kalau dia sudah melakukan semua dosa, kecuali membunuh. Ada juga yang ahli judi, member dunia malam, serta hal-hal negatif lainnya. Serius, memang demikian kok yang terjadi. Iya, mahasiswa PAI nggak sealim bayangan kalian. Jadi, tolong, ya, dikondisikan ekspektasinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di atas beberapa pertanyaan yang sering diterima oleh mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam. Saya memahami pertanyaan itu muncul karena stereotip yang melekat pada jurusan ini. Hanya saja, pertanyaan-pertanyaan itu terlalu sering kami terima hingga bosan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: M. Afiqul Adib<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mahasiswa-jurusan-pertanian-kesal-dengan-3-pertanyaan-ini\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">3 Pertanyaan yang Bikin Mahasiswa Jurusan Pertanian Kesal<\/a><\/strong><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mahasiswa Jurusan pendidikan Agama Islam kerepotan menjawab pertanyaan yang muncul karena stereotipe yang melekat pada jurusan mereka. <\/p>\n","protected":false},"author":580,"featured_media":301493,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12910],"tags":[26620,34,26621,26622],"class_list":["post-301301","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pendidikan","tag-jurusan-pendidikan-agama-islam","tag-mahasiswa","tag-mahasiswa-jurusan-pendidikan-agama-islam","tag-mahasiswa-pai"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/301301","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/580"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=301301"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/301301\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/301493"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=301301"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=301301"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=301301"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}