{"id":300558,"date":"2024-11-04T11:59:28","date_gmt":"2024-11-04T04:59:28","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=300558"},"modified":"2024-11-04T11:48:07","modified_gmt":"2024-11-04T04:48:07","slug":"orang-lamongan-kesal-ditanyai-hal-hal-ini","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/orang-lamongan-kesal-ditanyai-hal-hal-ini\/","title":{"rendered":"4 Pertanyaan yang Bikin Orang Lamongan Ngelus Dada"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menjadi orang Lamongan tidak hanya perlu siap berhadapan dengan jalan rusak. Jadi orang Lamongan juga perlu sabar-sabar menghadapi pertanyaan yang aneh-aneh. Apalagi pertanyaan basa-basi dan bercandaan terkait kulinernya yang terkenal, pecel lele.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu pertanyaan yang berkali-kali saya jumpai adalah \u201cOh, Lamongan, deket sini berarti ya\u201d sambil penanya merujuk lokaksi tenda <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-hal-menjengkelkan-saat-membeli-pecel-lele\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">pecel lele<\/a>. Satu atau dua kali mungkin candaan dalam bentuk pertanyaan itu menghibur. Tapi, kalau terlalu sering, lama-lama bosan dan kesal juga.\u00a0 <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, selain hal-hal menyebalkan tadi, ada top 4 pertanyaan yang bikin orang Kota Soto ini ngelus dada:<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 \u201c Orang Lamongan? Jualan pecel lele ya?\u201d<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pecel lele Lamongan adalah salah satu kuliner yang populer. Apalagi di daerah-daerah yang banyak mahasiswanya. Selain harganya yang cenderung terjangkau, rasanya enak dan masuk hampir di semua palet lidah.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak pedagang pecel lele memang berasal dari Lamongan. Namun, itu bukan berarti semua orang yang berasal dari sana jualan kuliner ini. Ada juga yang jualan soto ayam. Bahkan, ada juga yang bekerja jauh dari bidang kuliner. Misal, artis dan komedian seperti Yusril Fahriza atau penulis kawakan seperti Mahfud Ikhwan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertanyaan candaan seperti di atas biasanya disusul dengan pertanyaan lanjutan, \u201cBukannya orang Lamongan nggak boleh makan lele?\u201datau \u201cPecel lele kok nggak ada pecelnya?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Biasanya kalau lagi semangat, bakal saya akan menjelaskan rentetan peristiwanya. Tapi, lebih seringnya saya cuma ketawa aja. Bukan apa-apa, tapi terlalu sering mendapatkan pertanyaan yang sama dari banyak orang itu capek, gais. Mending lanjut makan pecel lele aja, sih.<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 \u201cLamongan itu kabupaten? Kukira semacam rasa soto\u201d<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kata \u201cLamongan\u201d biasa terpampang di banner-banner penjual soto ayam. Itu mengapa banyak orang mengira Lamongan hanyalah salah satu varian <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/dosa-penjual-soto-ayam-lamongan-yang-mengaku-asli-lamongan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">soto ayam<\/a> bukan nama daerah. Betulan lho, pernah ada orang yang ngomong pada saya \u201cOh itu kabupaten? Kukira semacam rasa soto.\u201d<\/span><\/p>\n<h2><b>#3 \u201cEh, di Lamongan ada mal, nggak?\u201d<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertanyaan ini terdengar sederhana, tapi cukup nusuk di hati. Pertama, perlu diakui kalau di Kota Soto ini memang belum ada mal raksasa yang lengkap dengan bioskop dan pusat perbelanjaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hanya saja, ketika pertanyaan tersebut dijawab dengan, \u201cBelum ada\u201d, maka perspektif orang tersebut langsung menganggap kalau daeragh ini hutan, tidak ada sinyal, dan pedalaman. Yah, dianggap setara dengan <a href=\"https:\/\/blog.sahabatpedalaman.org\/daftar-wilayah-daerah-3t\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">daerah 3T.<\/a><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal Lamongan itu cukup maju lho. Bahkan, di sana ada gedung bioskop. Kami punya Lamongan Plaza. Satu tingkat di bawah mal. Ada juga Wisata Bahari Lamongan, yang setara dengan Jatim Park di Malang. Iya, meski nggak ada mal, bukan berarti daerah ini adalah hutan alas yang nggak ada peradaban. Tulung banget lho iki.<\/span><\/p>\n<h2><b>#4 \u201cOrang Lamongan kok nggak medok?\u201d<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di benak banyak orang, mungkin warga Lamongan itu medok semua. Itu mengapa pertanyaan \u201cKok kamu nggak medok?\u201d sering saya terima. Saya jelaskan ya, di Jawa Timur, Lamongan bak kota besar seperti Surabaya atau <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/malang-ternyata-sangat-berbeda-dari-apa-yang-saya-dengar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Malang<\/a>. Dengan kata lain, kabupaten menjadi primadona bagi banyak orang sebagai tujuan merantau. Mungkin hal itu bisa sedikit banyak mempengaruhi gaya hidup warganya, termasuk cara berbicara.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Wes, ya, cukup, anggap saja ini bentuk klarifikasi. Jadi ketika ketemu orang Lamongan, jangan lagi mendadak polos dan malah menanyakan seputar hal-hal di atas. Awas saja, lho.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: M. Afiqul Adib<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/orang-jogja-bisa-kesal-kalau-ditanya-hal-ini-terus-menerus\/\"><b>5 Pertanyaan yang Membuat Orang Jogja Kesal<\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jadi orang Lamongan harus panjang sabar. Sebab, orang Lamongan akan sering ditanyai berbagai pertanyaan yang lama-lama bikin kesal. <\/p>\n","protected":false},"author":580,"featured_media":300821,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[2250,26569,26570,26499],"class_list":["post-300558","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-lamongan","tag-ornag-lamongan","tag-pecel-lele-lamongan","tag-soto-ayam-lamongan"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/300558","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/580"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=300558"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/300558\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/300821"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=300558"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=300558"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=300558"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}