{"id":300531,"date":"2024-11-01T14:05:41","date_gmt":"2024-11-01T07:05:41","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=300531"},"modified":"2024-11-01T14:05:41","modified_gmt":"2024-11-01T07:05:41","slug":"saya-yakin-nggak-akan-ada-razia-mi-ayam-wonogiri","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/saya-yakin-nggak-akan-ada-razia-mi-ayam-wonogiri\/","title":{"rendered":"Saya Yakin Nggak Akan Ada Razia Mi Ayam Wonogiri, sebab Kami Cinta Damai dan Memilih Fokus Mengejar Rezeki"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak kawan tanya ke saya, apakah saya mendukung kalau misal ada razia mi ayam Wonogiri, sama seperti <a href=\"https:\/\/regional.kompas.com\/read\/2024\/10\/31\/140230678\/kontroversi-razia-rumah-makan-padang-di-cirebon-klarifikasi-dan-permintaan?page=all\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">razia warung makan padang<\/a> di Cirebon kemarin. Katanya, banyak warung mi ayam yang mengaku asli Wonogiri. Saya jelas menjawab tidak akan mendukung, biar saja ada orang yang mengaku. Nggak ada masalah bagi saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Statement saya tentu tidak mewakili bakul mi ayam Wonogiri di Indonesia. Ini cuman pendapat pribadi saya saja. Nggak ada untung yang diraih dari razia-razia begituan. Orang Wonogiri asli pasti memilih untuk fokus dengan jualannya, mengejar rezeki jauh lebih masuk akal ketimbang memantik konflik tak perlu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tak pernah melihat pentingnya pemurnian-pemurnian ini. Setuju bahwa akar suatu kultur harus dipegang dan dilestarikan. Tapi kalau memegang dan melestarikannya dilaksanakan dengan kekerasan, jadi males sendiri. Lagian berantem perkara makanan itu bener-bener nggak masuk akal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beda dengan ngeklaim ya. Kalau misal Malaysia tiba-tiba ngeklaim mi ayam Wonogiri adalah milik mereka, ha yo ndasmu.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>Mending nggak usah debat aja nggak sih?<\/strong><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi misal ada yang punya ide \u201cpemurnian mi ayam Wonogiri\u201d alias yang jualan harus orang Wonogiri, saya sih pengin nanya ke yang punya ide: mi ayam Wonogiri itu sebenernya kek apa sih yang asli?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Soalnya saya sebagai warga Kota Gaplek asli melihat ada buanyak jenis mi ayam yang beredar. Tiap bakul punya khasnya tersendiri. Ketebalan mi tiap penjual itu berbeda, rasanya pun berbeda. Hell, bumbu ayamnya aja kayaknya pada punya pakem sendiri-sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejauh ini, saya nggak pernah nemu rendang yang berbeda. Setau saya ya rendang itu kayak gitu. Agak masuk akal jika mungkin orang Minang mau bikin standardisasi rendang. Lha kalau mi ayam, standardisasinya gimana?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah kalau penjual harus Wonogiri, ini agak tricky juga. Nggak sedikit penjual yang saya kenal itu nggak lahir di Kota Gaplek. Misal, kakek asli Ngadirojo, terus merantau ke Jakarta, terus anaknya lahir di sana. Terus, kakek tersebut punya cucu, lahir di Jakarta juga, dan meneruskan usahanya di Jakarta. Nah, kamu mau nyebut cucunya itu orang Jakarta apa Wonogiri?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang saya tahu sih, debat ini nggak akan muncul kalau kita nggak ngomongin kemurnian-kemurnian ini. Ketimbang debat, mending pesen mi ayam aja sekarang.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>Orang Wonogiri cinta damai<\/strong><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya yakin nggak akan ada razia-razia begini sih. Orang Wonogiri yang saya tahu nggak akan bikin masalah nggak perlu kayak begini. Justru mungkin malah ada bagusnya jika ada yang ngeklaim, karena bikin nama Kota Gaplek makin dikenal. Bukankah ini marketing gratis?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misalnya ada yang ngaku asli Wonogiri dan jebul nggak enak jualannya, ya mau gimana lagi. Di Kota Gapleknya aja banyak kok mi ayam yang nggak enak, apalagi di luar sana. Udah biasa kayak gitu, namanya juga jualan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi kawan-kawan di luar sana, tenang, penduduk Kota Gaplek cinta damai. Mi ayam kalian dibuat dengan penuh rasa cinta dan kegigihan para perantau. Rasanya tentu saja enak, mosok ngene yo isih takok?<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Rizky Prasetya<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/kuliner\/5-karakter-mie-ayam-wonogiri\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">5 Ciri Mie Ayam Wonogiri Asli yang Sulit Ditebak Pelanggan<\/a><\/strong><\/p>\n<div class=\"jeg_ad jeg_ad_article jnews_content_inline_2_ads \">\n<div class=\"ads-wrapper align-center \">\n<div class=\"ads_code\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saya yakin tidak akan ada razia warung mi ayam Wonogiri. Orang Wonogiri cinta damai, dan fokus meraih rezeki.<\/p>\n","protected":false},"author":777,"featured_media":300532,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12909],"tags":[10586,4012,11307,783],"class_list":["post-300531","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kuliner","tag-mi-ayam-wonogiri","tag-razia","tag-warung-makan-padang","tag-wonogiri"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/300531","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/777"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=300531"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/300531\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/300532"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=300531"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=300531"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=300531"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}