{"id":300451,"date":"2024-11-06T11:58:23","date_gmt":"2024-11-06T04:58:23","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=300451"},"modified":"2024-11-06T11:59:44","modified_gmt":"2024-11-06T04:59:44","slug":"unpopular-opinion-kajian-ustaz-hanan-attaki-itu-bukanlah-pengajian-agama","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/unpopular-opinion-kajian-ustaz-hanan-attaki-itu-bukanlah-pengajian-agama\/","title":{"rendered":"Unpopular Opinion: Kajian Ustaz Hanan Attaki Itu Bukanlah Pengajian Agama"},"content":{"rendered":"<p><em><span style=\"font-weight: 400;\">Harus diakui juga kalau &#8220;kajian agama&#8221; dari Hanan Attaki tersebut cukup laris dan punya banyak peminat. Tapi, maaf, ini kajian agama model apa ya?<\/span><\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejujurnya, saya cukup asing dengan kajian agama yang berbayar. Iya, sebagai anak desa, saya biasanya ikut pengajian yang digelar oleh masyarakat secara gratis, bahkan malah dapat konsumsi dari panitia. Meski konsumsi ala kadarnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, saya juga baru tahu kalau ada kajian keislaman tapi yang dibahas adalah seputar jodoh, hubungan asmara, atau motivasi hidup. Saya langsung mbatin, ini pengajian agama atau seminar motivasi, sih?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sedikit cerita, pacar saya pernah mengajak saya untuk ikut kajian keislaman yang dipandu oleh ustaz populer, Ustaz Hanan Attaki. Sejujurnya, saya tidak terlalu mengikuti blio, tapi awalnya saya tertarik untuk ikut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kemudian setelah dijelaskan kalau ternyata acara tersebut berbayar dan topik kajiannya seputar persoalan anak muda, yakni: jodoh, permasalahan hubungan, hingga persoalan mental health. Dari sana, saya langsung bilang, kayaknya mending ngopi di Trawas aja deh. Hehehe.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>Kajian agama model apa ya?<\/strong><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Disclaimer. Ini bukan berarti saya meremehkan Hanan Attaki. Bukan. Saya sangat menghormati blio. Pun saya juga nggak bermaksud menganggap topik tersebut nggak penting atau sepele. Tentu saja bukan demikian. Sebab, hal-hal seperti ini memang perlu dibahas, dan ada manfaatnya. Tapi, bagi saya, format acara tersebut lebih cocok disebut sebagai talk show, atau seminar motivasi ketimbang pengajian agama, atau kajian keislaman.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebab, jujur saja, saya masih kebingungan mencerna informasi ini, menghubungkan antara sebuah acara yang disebut kajian agama, yang isinya tentang pacaran, dan masuknya berbayar. Maaf, ini konsep kajian agama model apa, ya?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Betul, dalam praktiknya, memang \u201ckajian agama\u201d tersebut terasa ringan dan menyenangkan, karena menyentuh masalah-masalah harian yang relatable. Misalnya, bagaimana menghadapi kesedihan pasca putus cinta, mencari makna hidup di tengah kekosongan jiwa, atau tips-tips untuk menjemput jodoh yang katanya sudah ditakdirkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pun harus diakui juga kalau kajian agama dari Hanan Attaki tersebut cukup laris dan punya banyak peminat, terutama dari kalangan muda. Karena memang tema-temanya relevan dengan keresahan sehari-hari mereka. Generasi muda sekarang cenderung tertarik dengan pendekatan yang praktis dan simpel, yang langsung &#8220;kena&#8221; ke masalah hidup mereka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lagi pula, siapa sih yang nggak senang mendengar tips menemukan jodoh ala Islam? Selain itu, formatnya pun nggak terlalu &#8220;berat,&#8221; sehingga banyak yang merasa ini pas untuk didengar sambil ngopi atau bahkan ngemil.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi tetap saja, di kepala saya, itu bukan kajian agama. Tidak salah memang, tapi kemasannya lebih mengarah pada hiburan atau seminar ketimbang penyampaian ilmu agama yang substansial.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karena itu kalau harapannya adalah memperdalam keimanan atau mendalami ajaran Islam dengan serius, rasanya kok agak nanggung. Selain itu pembahasan seputar percintaan dan kehidupan remaja bukankah seharusnya masuk di wilayah psikologi?<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>Hanan Attaki bisa melihat Cak Nun<\/strong><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">FYI, saya tidak melarang acara kajian dari Hanan Attaki tersebut. Tentu boleh saja dilakukan. Setidaknya, bagi banyak orang yang mungkin baru mulai belajar atau mencari sentuhan agama dalam hidupnya, konten yang ringan dan mudah dicerna bisa menjadi pintu masuk yang bagus untuk mengenal perspektif keislaman.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hanya saja bagi saya, hal demikian tidak pas dikategorikan sebagai pengajian agama. Pun saya di sini hanya heran saja dengan konsep \u201cpengajian agama\u201d model terbaru ini, yang tema pembahasannya malah ke arah percintaan anak muda, yang bagi saya, kalau konsultasi seputar itu, ya lebih pas ke psikolog saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terlepas dari itu, saya kira konsep \u201c<a href=\"https:\/\/www.caknun.com\/tag\/sinau-bareng\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Sinau Bareng Cak Nun<\/a>\u201d bisa menjadi inspirasi. Iya, jika ingin membuat acara yang agak beda dari pakem, bisa membuat istilahnya sendiri. Jadi, saya kira Hanan Attaki dan ustaz lain yang membuat acara dengan membahas seputar hubungan percintaan akan lebih pas jika acaranya dinamai sesi dengar, atau talk show bersama ustaz, atau apa pun itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang jelas, kalau dinamai pengajian agama, kok rasanya kurang pas saja. Meski tentu saja, ini pendapat saya pribadi. Kalau pun tidak setuju, ya gapapa, boleh saja, bebas. Pokoknya nggak perlu sampai ngamuk-ngamuk, atau bikin video di TikTok kemudian mengatakan kalau saya sedeng. Itu respons yang lebay.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: M. Afiqul Adib<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/rame\/moknyus\/kata-ustaz-hanan-attaki-wanita-salihah-itu-yang-beratnya-55-kg\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kata Ustaz Hanan Attaki, Wanita Salihah Itu yang Beratnya 55 Kg<\/a><\/strong><\/p>\n<div class=\"jeg_ad jeg_ad_article jnews_content_inline_2_ads \">\n<div class=\"ads-wrapper align-center \">\n<div class=\"ads_code\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Harus diakui juga kalau &#8220;kajian agama&#8221; dari Hanan Attaki tersebut punya banyak peminat. Tapi, maaf, ini kajian agama model apa ya?<\/p>\n","protected":false},"author":580,"featured_media":301120,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13078],"tags":[26587,26588,8610],"class_list":["post-300451","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gaya-hidup","tag-hanan-attaki","tag-kajian-agama","tag-pengajian"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/300451","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/580"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=300451"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/300451\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/301120"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=300451"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=300451"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=300451"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}