{"id":300327,"date":"2024-10-30T17:14:25","date_gmt":"2024-10-30T10:14:25","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=300327"},"modified":"2025-11-25T12:33:51","modified_gmt":"2025-11-25T05:33:51","slug":"retribusi-sampah-jogja-solusi-jangka-pendek-yang-bagus","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/retribusi-sampah-jogja-solusi-jangka-pendek-yang-bagus\/","title":{"rendered":"Retribusi Sampah Jogja: Solusi Jangka Pendek yang Bagus, Tinggal Menunggu Solusi Jangka Panjangnya"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Info Cegatan Jogja, ada satu postingan tentang uji coba <a href=\"https:\/\/www.facebook.com\/photo\/?fbid=122124942686443450&amp;set=gm.28889409320658683&amp;idorvanity=734752093217783\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">retribusi sampah<\/a>. Intinya, jika buang sampah, tarif akan dihitung berdasar berat sampah. Saya menangkapnya seperti itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Secara pribadi, saya nggak bisa bilang ini langkah bagus atau tidak. Mau dibilang itu memberatkan, ya iya, soalnya masih harus nimbang dan sebagainya. Tapi di satu sisi, ini langkah yang mungkin harus diambil mengingat masalah sampah di Jogja masih belum kelihatan akan berakhir.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bisa kita lihat, di grup ICJ juga masih banyak postingan tentang sampah yang berserakan di jalan. Pinggir jalan jadi tempat sampah dadakan, dan tidak ada yang bisa berbuat apa pun. Mau bagaimana lagi, itu konsekuensi yang muncul dari langkah-langkah yang ada.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejak TPST Piyungan <a href=\"https:\/\/www.kompas.id\/baca\/nusantara\/2024\/05\/01\/tpa-piyungan-tutup-permanen-tiga-daerah-di-diy-tak-bisa-lagi-kirim-sampah\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">ditutup,<\/a> praktis tak ada lagi tempat untuk menampung sampah di Jogja, setidaknya seperti dulu. Beberapa daerah akhirnya memilih untuk mengolahnya secara mandiri. Tapi volume sampah yang amat besar tentu tak bisa diatasi secara mandiri dengan mudah. Akhirnya bisa ditebak, orang tak peduli lagi mau dibuang di mana. Pembatas jalan di depan Pasar Demangan pun sempat jadi tempat sampah dadakan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Retribusi sampah ini, secara kasarnya, bisa dilihat sebagai upaya agar orang mulai mengatur sampah mereka. Sampah organik, bisa diolah atau dibuang secara mandiri. Untuk sampah anorganik, mereka bisa menekannya agar tak perlu bayar mahal untuk buang sampah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di atas kertas, ini bagus, tapi untuk jangka pendek. Jangka panjang, belum tentu.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>Pengelolaan yang tak maksimal<\/strong><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika boleh disederhanakan, penyebab masalah sampah di Jogja ini adalah pengolahan sampah yang tak maksimal. Akhirnya, hal tersebut jadi bom waktu. Sampah tak diolah, sementara tiap hari orang menghasilkan sampah. Saya tak mau menuding siapa yang salah, ini urusan yang kompleks.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, akhirnya kita bisa mendapat kesimpulan kalau urusan sampah ini bakal kelar jika pengolahannya beres. Ini solusi jangka panjang yang bisa diambil oleh pemerintah Jogja, dan memang harus diambil. Tak ada opsi lain. Untuk saat ini mungkin belum maksimal, karena mungkin terlalu mepet.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maka dari itu, retribusi sampah bagi saya bukanlah solusi jangka panjang. Program ini bisa membentuk habit rakyat untuk tidak membuang sampah begitu saja, tapi juga berpikir 1-2 langkah ke depan. Langkah selanjutnya ya ketika rakyat sudah mengatur volume sampah mereka, sampah yang ada tak boleh dibiarkan saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Daerah lain seperti <a href=\"https:\/\/lestari.kompas.com\/read\/2024\/01\/29\/181730586\/sukses-kelola-sampah-desa-di-banyumas-raup-rp-140-juta-per-bulan\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Banyumas<\/a> saja bisa mengelola, Jogja harusnya tak punya alasan untuk mengatakan tak bisa. Logikanya begitu, kan?<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>Sampah di Jogja mau diapakan?<\/strong><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya lagi-lagi tidak akan bilang program retribusi sampah ini bagus atau tidak. Terlalu awal untuk menilai hal tersebut. Saya cuman bisa bilang kalau jangan hanya berhenti meminta rakyat untuk berubah, tapi harus ada lanjutannya juga. Pemerintah juga tak boleh tinggal diam, harus memikirkan 1-2 langkah selanjutnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalah sampah di Jogja ini bukan urusan rakyat semata, pemerintahnya juga. Yang perlu kita tunggu adalah mau diapakan sampah ini, dan sampai mana program penanggulangan volume sampahnya. Kalau berhenti di perkara nimbang tok, yo angel, Bolo.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Rizky Prasetya<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jogja-darurat-sampah-monumen-ketidakbecusan-pemerintah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jogja Darurat Sampah, Monumen Ketidakbecusan Pemerintah yang Terus Meminta Waktu untuk Belajar. Mahasiswa 5 Tahun Gagal Saja DO, Pemerintah Minta Sabar?<\/a><\/strong><\/p>\n<div class=\"jeg_ad jeg_ad_article jnews_content_inline_2_ads \">\n<div class=\"ads-wrapper align-center \">\n<div class=\"ads_code\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Retribusi sampah di Jogja bukanlah solusi jangka panjang. Program ini bisa membentuk habit rakyat, tapi kelanjutannya juga harus ada.<\/p>\n","protected":false},"author":777,"featured_media":275536,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_comment_section":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[2858,115,24256,11101],"class_list":["post-300327","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-banyumas","tag-jogja","tag-sampah-di-jogja","tag-tpst-piyungan"],"modified_by":"Anggi Thoat Ariyanto","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/300327","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/777"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=300327"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/300327\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/275536"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=300327"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=300327"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=300327"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}