{"id":299282,"date":"2024-10-20T09:01:37","date_gmt":"2024-10-20T02:01:37","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=299282"},"modified":"2024-10-22T10:03:39","modified_gmt":"2024-10-22T03:03:39","slug":"konsep-alun-alun-surabaya-paling-relevan-di-zaman-sekarang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/konsep-alun-alun-surabaya-paling-relevan-di-zaman-sekarang\/","title":{"rendered":"Konsep Alun-Alun Surabaya Itu Menyalahi Kodrat, tapi Justru Paling Relevan di Zaman Sekarang"},"content":{"rendered":"<p style=\"font-weight: 400;\">Alun-Alun Surabaya adalah alun-alun yang menyalahi kodrat. Gimana nggak menyalahi kodrat, alun-alun satu ini full keramik. Padahal definisi alun-alun menurut Wikipedia adalah lapangan terbuka yang luas dan berumput. Belum lagi kalau dalam falsafah Jawa ada istilahnya Catur Gatra yang mengatur soal tata letak sebuah alun-alun. Alun-alun diyakini harus dikelilingi oleh 4 tempat publik, yakni\u00a0pusat pemerintahan, pusat kegiatan sosial, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-rekomendasi-masjid-terdekat-dari-alun-alun-malang-yang-bisa-dijangkau-dengan-jalan-kaki\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">masjid<\/a>, dan tentu saja pasar.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Meski begitu, kalau boleh jujur, saya justru menyukai konsep Alun-Alun Surabaya, sebab beginilah alun-alun yang dibutuhkan di zaman sekarang. Apalagi alun-alun di sini nggak cuma soal keramik. Di sini kita bisa menikmati fasilitas yang nggak kalah menarik.<\/p>\n<h2><strong>Jadi menarik karena menyediakan berbagai fasilitas yang bisa diakses publik meski nggak berupa lapangan\u00a0rumput luas<\/strong><\/h2>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Siapa sangka di Alun-Alun Surabaya ada perpustakaan buat pengunjung yang suka membaca buku sambil ngadem. Di sini, ada pula museum yang bisa dikunjungi untuk menambah pengetahuan. Bahkan, ada semacam<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/alun-alun-surabaya-tempat-wisata-baru-yang-menarik-untuk-dikunjungi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> galeri seni<\/a> di bawah tanah buat yang suka dengan suasana estetis dan kebutuhan konten media sosial itu.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Iya, di sini banyak tempat teduhnya. Tentu saja cocok bagi pengunjung yang ingin sekadar ngadem, duduk lesehan, atau melamun sepuasnya.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/konsep-alun-alun-surabaya-paling-relevan-di-zaman-sekarang\/2\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em><strong>Baca halaman selanjutnya: Konsep seperti ini tentu lebih bermanfaat&#8230;<\/strong><\/em><\/a><br \/>\n<!--nextpage--><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Konsep Alun-Alun Surabaya yang seperti ini tentu jauh lebih bermanfaat dibanding alun-alun dengan konsep lapangan terbuka yang panas. Memangnya siapa yang ingin berjemur? Apalagi di tengah kota besar yang suhunya seperti Surabaya yang panasnya ugal-ugalan ini.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Lagi pula alun-alun ini jelas lebih bermanfaat ketimbang konsep alun-alun tradisional yang isinya cuma lapangan luas tanpa fasilitas. Kalau Alun-Alun Surabaya masih mengikuti konsep tradisional berupa lapangan luas berumput, memangnya yakin orang-orang mau nongkrong lama-lama di sana? Saya sih ragu ya soalnya ini Surabaya, Gais, bukan pegunungan Dieng yang sejuk.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Sudah tahu kan panasnya Kota Pahlawan bikin orang-orang lebih memilih ngadem di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/marvell-mall-surabaya-mall-paling-menyedihkan-di-surabaya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">mall<\/a> atau kafe terdekat daripada nongkrong di lapangan terbuka? Jadi, kalau alun-alunnya terlalu lapang, ya siap-siap jadi tempat jemuran raksasa aja.<\/p>\n<h2><strong>Alun-Alun Surabaya menang telak dibanding alun-alun daerah lainnya<\/strong><\/h2>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Di daerah lain, konsep alun-alun masih tentang lapangan luas, berumput, dan minim tempat berteduh. Di Lamongan misalnya. Alih-alih menambah banyak tempat duduk dan berteduh, alun-alunnya malah ada wahana bianglala. Sebenarnya menambah spot hiburan dan membuatnya mirip Alun-Alun Kota Batu yang <a href=\"https:\/\/www.detik.com\/jatim\/wisata\/d-7216599\/bianglala-alun-alun-kota-batu-akan-diganti-baru\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">terkenal dengan spot bianglalanya<\/a> itu nggak salah. Tapi, kurang pas saja menurut saya. Sebab, kalau mencari sekadar bianglala, di pasar malam juga ada.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Di Tuban juga demikian. Beberapa kali dilakukan renovasi tapi konsepnya sama, yakni alun-alun yang panas ketika siang. Lantas, fungsi alun-alun sebagai tempat berkumpul ini apa? Siapa yang masih mau ke alun-alun kalau konsepnya saja dibuat sangat terbuka, yang panasnya ugal-ugalan ketika siang?<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Alun-alun yang keramikan ini juga bikin Surabaya menang telak dibanding alun-alun di daerah lain. Apalagi dengan kota sebelah yang, ehem, alun-alunnya dipagari itu sehingga warganya nggak bisa masuk. Iya, alun-alun yang selalu bikin orang mbatin, &#8220;Ngapain ada alun-alun kalau cuma bisa dipandangi dari luar pagar?\u201d Padahal esensi alun-alun kan sebagai ruang publik untuk semua orang. Nggak sekalian aja dibikin kolam koi?<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Jadi, meskipun konsep Alun-Alun Surabaya menyalahi pakem tradisional, saya harus bilang justru inilah alun-alun yang dibutuhkan di zaman sekarang. Sebuah tempat terbuka yang nyaman, modern, dan ramah buat nongkrong warga tanpa harus takut kepanasan.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Karena itu, untuk daerah lain, saya kira perlu banget mencontoh konsep Alun-Alun Surabaya ini. Sebab, masyarakat lebih butuh tempat nongkrong gratis yang nyaman, ketimbang lahan luas penuh rumput untuk berjemur.<\/p>\n<p>Penulis: M. Afiqul Adib<br \/>\nEditor: Intan Ekapratiwi<\/p>\n<p><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/alun-alun-surabaya-tempat-wisata-baru-yang-menarik-untuk-dikunjungi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Alun-alun Surabaya, Tempat Wisata Baru yang Menarik untuk Dikunjungi<\/a>.<br \/>\n<\/b><\/p>\n<p><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>cara ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Alun-Alun Surabaya tak seperti alun-alun pada umumnya yang berupa lapangan luas berumput. Di sini keramikan dan lebih modern.<\/p>\n","protected":false},"author":580,"featured_media":299438,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[15990,14993,405],"class_list":["post-299282","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-alun-alun","tag-alun-alun-surabaya","tag-surabaya"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/299282","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/580"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=299282"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/299282\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/299438"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=299282"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=299282"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=299282"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}