{"id":298800,"date":"2024-10-14T13:03:01","date_gmt":"2024-10-14T06:03:01","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=298800"},"modified":"2024-10-14T13:03:01","modified_gmt":"2024-10-14T06:03:01","slug":"cerita-di-balik-3-sungai-yang-terkenal-angker-di-tegal","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/cerita-di-balik-3-sungai-yang-terkenal-angker-di-tegal\/","title":{"rendered":"Cerita di Balik 3 Sungai yang Terkenal Angker di Tegal"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tegal, menyimpan berbagai <a href=\"https:\/\/mojok.co\/maljum\/malam-jumat-cerita-horor-dari-alas-purwo-dan-pulosari-yang-dibongkar-simbah-putri-bagian-2\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">cerita mistis<\/a> yang tak kalah menarik dibandingkan daerah lain di Indonesia. Salah satunya adalah kisah-kisah misteri yang menyelimuti beberapa sungai di wilayah ini. Kisah yang selalu menarik untuk dibahas.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di balik aliran airnya yang tampak tenang, empat sungai di Tegal ternyata menyimpan cerita menyeramkan. Dari penampakan makhluk gaib hingga peristiwa-peristiwa aneh yang sulit dijelaskan oleh logika, sungai-sungai ini telah menjadi bagian dari cerita horor yang diturunkan dari generasi ke generasi. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Berikut adalah tiga sungai yang terkenal angker di Tegal:<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Sungai Gung jalur lelembut<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sungai Gung atau Kali Gung membentang panjang dari wilayah pegunungan selatan Tegal hingga bermuara di Laut Jawa. Sehingga sungai ini melewati banyak desa. Kali Gung diberi nama demikian karena mata airnya berasal dari Gunung Agung, yang merupakan sebutan kuno untuk Gunung Slamet pada masa sebelum Islam di Jawa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sungai ini terdapat sebuah bendungan, terletak di Desa Danawarih, Kecamatan Balapulang, Kabupaten Tegal. Bendungan ini dibangun oleh Ki Gede Sebayu pada sekitar abad ke 16, lalu sempat juga diperbaiki oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Menurut cerita lisan yang berkembang di masyarakat, Bendungan Danawarih dibangun oleh Ki Gede Sebayu dalam waktu satu malam saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada banyak sekali cerita yang beredar di masyarakat berkaitan dengan keangkeran Kali Gung, di mana masing-masing desa memiliki cerita horor masing-masing. Cerita yang sering didengar oleh masyarakat ialah bahwa Kali Gung ini menjadi jalur lalu lintas bangsa lelembut dari <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jalur-pantura-rembang-tuban-jalan-paling-indah-se-pantura\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Pantai Utara Jawa<\/a> menuju Gunung Slamet atau sebaliknya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, Sungai Gung ini pernah dijadikan tempat syuting Mister Tukul Jalan-Jalan, tepatnya di Jembatan Desa Tuwel, Kecamatan Bojong Kabupaten Tegal. Di mana saat itu yang datang ke tempat tersebut adalah Ustadz Sholeh Pati dan Citra Prima. Di dekat jembatan tersebut terdapat pintu air peninggalan Belanda, bernama Pintu Air Pinton. Konon katanya pembangunan pintu air ini menumbalkan pasangan pengantin baru.<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 Kali Ketiwon yang dihuni siluman<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di masyarakat Tegal, Sungai Gung ini memiliki tiga penyebutan, selain Kali Gung, penyebutan lainnya ialah Kali Ketiwon dan Kali Prepil. Nama Prepil digunakan untuk merujuk pada aliran sungai dari Desa Kalimati hingga Jembatan Pantura. Sementara itu, sebutan Ketiwon digunakan untuk menyebut aliran Kali Gung dari Jembatan Pantura hingga bermuara di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/semarang-bakal-tenggelam-duluan-di-laut-jawa-daripada-jakarta\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Laut Jawa<\/a>.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mitos yang berkembang di masyarakat menyebutkan bahwa nama sungai Ketiwon berasal dari nama dua makhluk gaib sejenis siluman yang menghuni sungai tersebut. Konon, sungai ini dihuni oleh siluman buaya putih bernama Nyai Saketi, yang memiliki musuh bebuyutan bernama Segawon.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Segawon digambarkan memiliki tubuh seperti manusia, namun berkepala anjing. Keduanya selalu berseteru dan sering adu kesaktian di sungai tersebut, yang akhirnya menyebabkan nama sungai ini diambil dari gabungan nama Nyai Saketi dan Segawon, menjadi Ketiwon.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mitosnya sungai tersebut juga dihuni oleh siluman buaya putih dan Naga Gringsing. Selain itu, sungai ini juga memiliki cerita kelam, di mana sungai ini menjadi tempat eksekusi para anggota Partai Komunis Indonesia Tegal dan daerah sekitarnya pada tahun 1965.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#3 Sungai Batil yang berada di dekat makam tua<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sungai Batil ini terletak di Desa Jejeg, Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal. Sebenarnya sungai ini spot yang enak untuk mancing, sebab ikannya banyak. Namun, sungai ini terkenal akan keangkerannya, seperti namanya batil yang berarti kejahatan. Hanya orang-orang berani saja yang berani mancing di tempat ini, sebab seringkali berakhir dengan kesambet. Itu sebabnya sungai ini diberi nama Batil yang berarti kejahatan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tak jauh dari sungai ini terdapat bendungan bernama Dawan. Di bendungan inilah dulu ditemukan remaja perempuan meninggal tenggelam ketika sedang mencuci piring. Namun, masyarakat percaya bahwa meninggalnya perempuan tersebut adalah ulah Wiyangga. Sebab, ditemukan dua lubang bekas gigitan di leher.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dekat Sungai Batil terdapat pemakaman tua yang sudah lama terbengkalai. Masyarakat menyebutnya dengan nama Depok. Menurut cerita turun temurun di Makam Depok terdapat makam Tentara Belanda. Ceritanya dahulu pejuang Republik Indonesia ketika <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Agresi_Militer_Belanda_I\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Agresi Militer Belanda 1<\/a> menghadang Tentara Belanda di dekat Sungai Batil.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di atas beberapa sungai angker di Tegal lengkap dengan asal-usulnya. Kalau kalian penasaran, boleh kunjungi sungai-sungai itu kalau mampir ke Tegal.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Malik Ibnu Zaman<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/hal-hal-menjengkelkan-yang-ada-di-alun-alun-tegal\/\"><b>Hal-hal Menjengkelkan yang Ada di Alun-Alun Tegal<\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ada 3 sungai yang terkenal angker di Tegal yaitu Kali Gung jalur lelembut, Kali Ketiwon yang dihuni siluman, dan Kali Batil dekat makam tua. <\/p>\n","protected":false},"author":1488,"featured_media":298965,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13078],"tags":[3113,26435,9690,26433,26434,2857],"class_list":["post-298800","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gaya-hidup","tag-angker","tag-kali-tegal","tag-sungai","tag-sungai-angker","tag-sungai-angker-tegal","tag-tegal"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/298800","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1488"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=298800"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/298800\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/298965"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=298800"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=298800"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=298800"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}