{"id":298041,"date":"2024-10-07T11:32:33","date_gmt":"2024-10-07T04:32:33","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=298041"},"modified":"2024-10-07T11:32:33","modified_gmt":"2024-10-07T04:32:33","slug":"tahun-ini-jogja-menjadi-kota-paling-keramat-di-dunia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tahun-ini-jogja-menjadi-kota-paling-keramat-di-dunia\/","title":{"rendered":"Tahun Ini, Jogja Menjadi Kota Paling Keramat di Dunia"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jogja menyiratkan banyak hal tentang manusia. Ia menjadi wujud perpaduan antara <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/teror-mistisisme-jawa-bikin-warga-jogja-selalu-narimo-ing-pandum\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">aura mistis dan budaya<\/a>. Bagi banyak orang, kota ini juga menjadi pegangan hidup lewat pemaknaan akan angka. Dan kebetulan, tahun ini, 2024, Jogja menapaki usia baru. Ia berusia 268 tahun, tepat di hari Senin, tanggal 7 Oktober 2024.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semua angka dan hari mengandung makna yang luas biasa. Berikut beberapa makna yang bisa saya sarikan. Silakan menambahkan jika pembaca menemukan makna lain yang mewarnai kota istimewa ini.<\/span><\/p>\n<h2><b>Ulang tahun di hari Senin<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hari Senin mengandung makna \u201cawal baru\u201d. Ada yang menganggapnya sebagai hari yang menyebalkan. Misalnya karena hawa akhir pekan masih tersisa. Namun, bagi beberapa orang, ini adalah sebuah hari yang memberi energi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, bagi sebagian orang yang lain, tidak ada yang namanya kebetulan di dunia ini. Termasuk ulang tahun Jogja tepat di hari Senin. Semoga fakta ini menjadi titik baru di mana energi kota ini semakin besar. Semua demi kemakmuran warga yang masih menjadi keprihatinan bersama.<\/span><\/p>\n<h2><b>Ulang tahun di tanggal 7<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Budaya Jawa, khususnya Jogja, menyimpan banyak pitutur terkait angka 7 atau \u201cpitu\u201d. <a href=\"https:\/\/mojok.co\/esai\/7-tahun-mojok-dan-angka-tujuh-dalam-filosofi-jawa\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Irfan Afifi<\/a>, seorang budayawan muda, pernah menulis begini:<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAngka 7 atau \u201cpitu\u201d dalam bahasa Jawa, dari kerangka othak-athik atau gathuk-mathuk-nya orang Jawa bisa dimaknai sebagai \u201cpituduh\u201d atau \u2018petunjuk\u2019. Yakni sebuah \u201cpetunjuk\u201d akan arah yang akan dituju.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Angka 7 di hari ulang tahun Jogja ini adalah angka \u201ckeramat\u201d dan \u201cwingit\u201d. Filosofi Jawa mempunyai kosakata khas untuk menyebut tujuh lapisan jagad-langit kita dengan ungkapan \u201csapta petala langit\u201d (tujuh lapis langit yang menyelubungi jagad kita).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, saya pikir angka \u201ctujuh\u201d ini bukan saja menandai fase penting Jogja dalam perjalanan usianya. Ini juga fase \u201cgenting\u201d untuk merumuskan kembali arah tujuannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seperti dalam kasus hari ketujuh, Jogja harus mulai meluruskan dan merefleksikan ulang \u201cniat\u201d dan \u201ctujuan\u201d awal (hubungkan kata tujuh dengan tuju) sejak Jogja lahir, agar selamat melalui fase lingkaran siklus perjalanan waktu (cakra-manggilingan).<\/span><\/p>\n<h2><b>Makna angka ulang tahun 268 Jogja<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tahun ini, Jogja berusia 268 tahun. Semua angka di dalam usia tersebut adalah angka genap. Budaya Jawa, khususnya Jogja, banyak mendapat pengaruh dari budaya Cina. Nah, di dalam budaya Cina, angka genap menggambarkan beberapa hal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertama, soal keseimbangan. Ini berkaitan dengan konsep yin dan yang. Keseimbangan adalah unsur penting dalam mencapai harmoni dan keselarasan. Kedua, kesempurnaan. Banyak orang memandang angka genap sebagai \u201ckesempurnaan\u201d karena lengkap dan utuh.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketiga, keberkahan. Ulang tahun di angka genap dianggap sebagai usia yang membawa keberuntungan. Semoga warga Jogja, pada akhirnya, mendapatkan kehidupan yang harmonis dan penuh keberkahan. Baik soal kesehatan, sampai yang sangat penting, tidak ada lagi orang miskin.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, keempat, angka genap juga berkaitan dengan siklus. Adalah harapan dan doa besar dari warga yang mengharapkan kehidupan yang lebih baik. Ini berkaitan dengan siklus. Jika selama ini banyak warga menderita, ulang tahun Jogja seyogyanya menjadi titik siklus perubahan ke arah yang lebih baik lagi.<\/span><\/p>\n<h2><b>Rikat, Rakit, Raket, Jogja Kota Kita<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tepat di ulang tahun ke-268, Jogja mengusung tema \u201cRikat, Rakit, Raket, Jogjakarta Kota Kita\u201d. Tema ini memiliki <a href=\"https:\/\/jogjapolitan.harianjogja.com\/read\/2024\/10\/07\/510\/1190635\/hut-ke-268-kota-jogja-rikat-rakit-raket-jogjakarta-kota-kita\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">filosofi kehidupan masyarakat<\/a> Jogja yang selalu bergerak dan bekerja cepat, berproses dan saling melengkapi, hingga kebersamaan yang saling mendukung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maka klop sudah. Antara tema ulang tahun kali ini dengan falsafah dan harapan yang terkandung di dalam hari, tanggal, dan angka genap Jogja. Pada akhirnya, ini semua adalah harapan supaya Kota Jogja akhirnya bisa menjadi rumah bersama.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semoga kota Jogja bukan lagi hanya bermakna sebuah wilayah di mana tidak semua warga bisa merasakan nikmat. Semua harus bisa merasakan keharmonisan hidup, pemerataan ekonomi, jaminan pendidikan, kesejahteraan yang hakiki, dan hidup bahagia di dalam sebuah kerajaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno\u00a0<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\"><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jogja-berhati-nyaman-lebih-bijak-daripada-jogja-istimewa\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Saatnya Kembali ke Jogja Berhati Nyaman<\/a><br \/>\n<\/b><\/span><\/p>\n<p class=\"p2\"><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><span class=\"s2\"><i>ini<\/i><\/span><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ada harapan besar dan makna luhur dari momen ulang tahun ke-268 Jogja. Mulai dari hari, tanggal, hingga soal makna besar dari angka &#8220;7&#8221;. <\/p>\n","protected":false},"author":425,"featured_media":298042,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[115,26356,26353,13804,26355,26354,26351,26352,3812],"class_list":["post-298041","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-jogja","tag-jogjakarta-kota-kita","tag-makna-angka-7","tag-raket","tag-rakit","tag-rikat","tag-tema-ulang-tahun-jogja","tag-ulang-tahun-268-jogja","tag-ulang-tahun-jogja"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/298041","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/425"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=298041"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/298041\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/298042"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=298041"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=298041"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=298041"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}