{"id":297837,"date":"2024-10-06T14:55:06","date_gmt":"2024-10-06T07:55:06","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=297837"},"modified":"2024-10-06T14:55:06","modified_gmt":"2024-10-06T07:55:06","slug":"bogor-sering-disalahpahami-oleh-orang-palembang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bogor-sering-disalahpahami-oleh-orang-palembang\/","title":{"rendered":"Meluruskan Stereotipe Keliru tentang Bogor yang Ada di Benak Orang Palembang"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai orang Palembang yang sedang merantau di Bogor, saya menyadari ada beberapa stereotipe keliru dalam benak orang-orang Palembang soal daerah dengan julukan Kota Hujan ini. Saya menyadarinya sejak hari pertama menginjakkan kaki di Bogor. Banyak sekali hal-hal yang tidak sesuai dengan perkiraan di kepala saya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebetulnya, stereotipe ini hadir bukan tanpa sebab. Stereotipe berkembang dari para perantau yang kembali ke Palembang dari Bogor. Salah satu cerita yang paling sering dibawa, daerah yang terletak 59 km dari <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jakarta-daerah-yang-paling-enak-dikritik-ketimbang-jogja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jakarta<\/a> itu sejuk dan dingin. Cerita ini turun-temurun dan seolah-olah sudah mendarah daging. Masih banyak stereotipe lain soal Bogor lainnya yang saya sadari keliru:<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Bogor pasti sejuk dan dingin<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Stereotipe ini adalah yang paling lumrah dan cukup membosankan bagi saya. Ketika para tetangga saya mengetahui saya sedang berkuliah di Bogor, sebagian besar respon pertama yang mereka lontarkan adalah, \u201cEnak, ya, Bogor kan dingin.\u201d Untuk menanggapi ini, respon balik yang bisa saya berikan hanyalah senyum kepalsuan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak jarang pula warna kulit saya disebut agak cerah setiap pulang ke Palembang lantaran daerah tempat saya merantau terkenal dengan udaranya yang sejuk. Pernyataan ini sebenarnya tidak sepenuhnya salah. Apabila dibandingkan dengan Palembang, suhu di Bogor memang lebih rendah. Hal ini juga didukung oleh curah hujan yang cukup tinggi, ya namanya saja Kota Hujan. Namun, percayalah, Bogor tidak sesejuk yang kalian bayangkan. Apalagi sampai dapat mencerahkan warna kulit.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bogor yang disebut sejuk dan dingin itu adalah daerah <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Kawasan_Puncak\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Puncak<\/a> dan sekitarnya. Sementara saya tinggal jauh dari daerah tersebut, hanya kebagian angin sepoi-sepoinya saja. Terlebih lagi daerah Kecamatan Dramaga dan sekitarnya, suhunya tidak jauh berbeda dengan Kota Palembang.<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 Makanannya manis-manis<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lantaran berada di Pulau Jawa, orang Palembang kerap beranggapan seluruh makanan di Pulau Jawa rasanya manis. Orang Palembang kira makanan di Bogor mirip seperti yang ada di Jawa Tengah dan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/kilas\/hiburan\/rekomendasi-7-kuliner-legendaris-di-jogja-ada-yang-favorit-pak-sultan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jogja<\/a>. Padahal, orang di Kota Hujan sendiri kadang nggak mau disebut orang \u201cJawa\u201d karena suku mereka adalah Sunda dan beberapa sudah terpengaruh dengan budaya Jakarta dan sekitarnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perkara makanan ini, entah mengapa saya sering sekali mendapat pertanyaan terkait rasa sambal di tanah perantauan. \u201cSambal di Bogor tuh nggak pedas, ya?\u201d Saya kerap bingung menjawab pertanyaan seperti ini. Menurut saya rasa pedas itu sangat subjektif. Bagi saya yang nggak begitu tahan dengan makanan pedas, rasa sambal atau makanan lainnya di Bogor sudah cukup pedas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terkait kuliner, satu hal yang pasti, saya dapat cepat beradaptasi dengan makanan di sini karena rasanya nggak terlalu jomplang dengan kuliner di Palembang. Jadi, stereotipe bahwa makanan di Bogor itu rasanya manis tidak sepenuhnya benar.<\/span><\/p>\n<h2><b>#3 Sulit menemukan orang Palembang di Bogor<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lantaran saya adalah seorang perantau, orang-orang, setidaknya para tetangga saya mengira bahwa sulit menemukan orang Palembang di Bogor. Padahal, ada begitu banyak orang Palembang di Bogor. Di kampus saya sendiri, di setiap parkiran fakultas, tidak sulit menemukan motor atau mobil dengan plat \u201cBG\u201d yang berarti berasal dari Sumatera Selatan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukan hanya di kampus, saya sering berpapasan pula dengan kendaraan bernomor polisi BG ini di jalan raya. Bagi perantau seperti saya, menjumpai plat kendaraan diawali BG jadi kebahagiaan tersendiri. Otomatis timbul rasa kesamaan nasib. Saya jadi merasa tidak sendirian dan senang bahwa ada orang Palembang lainnya yang mampu bertahan dan hidup dengan baik di Bogor.<\/span><\/p>\n<h2><b>#4 Bogor hanyalah Baranangsiang dan sekitarnya<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Baranangsiang adalah nama terminal sekaligus kelurahan di Kota Bogor. Banyak orang Palembang mengira Bogor sebatas Baranangsiang dan sekitarnya karena terbiasa naik\/turun bus di terminal ini. Padahal, kalau mau mengulik lebih dalam, daerah ini sangat luas. Bahkan, bisa 7 kali lebih luas daripada Kota Palembang.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itu adalah beberapa stereotipe keliru di kebanyakan benak orang Palembang terhadap Kota Hujan. Beberapa stereotipe keliru di atas sebenarnya tidak fatal dan bisa diluruskan. Oleh karena itu, saya menulis artikel ini supaya setidaknya bisa memberi sedikit pencerahan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Aulia Syafitri<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/stasiun-kertapati-palembang-stasiun-unik-yang-terlupakan\/\"><b>Mengenal Stasiun Kertapati Palembang, Stasiun Unik yang Terlupakan<\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Stereotipe keliru soal Bogor yang ada di benak orang Palembang: daerahnya dingin, makanannya manis-manis, sedikit orang Palembang di sana. <\/p>\n","protected":false},"author":2152,"featured_media":297969,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[9819,26348,1418,7729,5807,26349],"class_list":["post-297837","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bogor","tag-kota-bogor","tag-merantau","tag-palembang","tag-perantau","tag-steriotipe"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/297837","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2152"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=297837"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/297837\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/297969"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=297837"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=297837"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=297837"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}