{"id":297680,"date":"2024-10-03T16:06:29","date_gmt":"2024-10-03T09:06:29","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=297680"},"modified":"2024-10-03T16:06:29","modified_gmt":"2024-10-03T09:06:29","slug":"kenapa-bisa-orang-orang-menolak-kenaikan-gaji-guru","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kenapa-bisa-orang-orang-menolak-kenaikan-gaji-guru\/","title":{"rendered":"Kenapa (Bisa) Orang-orang Menolak Kenaikan Gaji Guru?"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat membaca komenan di postingan IG Mojok tentang gaji guru, saya merasa ada yang salah dengan cara orang memandang isu ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Komen macam \u201ctuh ada guru yang digaji gede tapi tetep males-malesan\u201d mudah ditemukan. Tak hanya di postingan Mojok sebenarnya, di mana-mana juga gitu. Dan ini menurut saya pandangan yang amat salah serta contoh logika bengkok. Istilah saya sih, patah bawah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tak tahu kenapa orang hobi banget ngambil contoh buruk, lalu digeneralisasi. Hanya karena ada guru bergaji besar dengan kemampuan ampas, tak berarti semuanya begitu. Bahkan contoh itu tidak bisa dibawa-bawa dalam tuntutan kenaikan gaji guru.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini sama halnya dengan bagaimana orang-orang mengulang-ulang narasi \u201cburuh demo naik upah tapi naik Ninja\u201d di tiap May Day. Satu orang naik Ninja dirasa cukup untuk meng-counter narasi kenaikan upah. Padahal ya, itu ya tidak pas, untuk tidak mengatakannya bodoh.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>Tuntutan kenaikan gaji guru itu sederhana<\/strong><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Begini. Tuntutan gaji guru itu sebenarnya sederhana, banyak guru diupah kelewat rendah, maka naikkanlah. Banyak honorer yang gajinya\u2014meminjam kata Mbak <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/dyan-arfiana-ayu-puspita\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Dyan<\/a>\u2014di bawah logika. Jika terus-terusan seperti ini, kualitas pendidikan akan sulit naik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Betul bahwa kenaikan gaji guru bukanlah satu-satunya faktor meningkatkan kualitas pendidikan. Tapi ketika tenaga kerja tidak diupah sebagaimana mestinya, maka guru, sebagai pelaksana kegiatan pendidikan tidak bisa maksimal dalam menjalankan tugasnya. Ingat, tiada logika tanpa logistik. Ini logika dasar yang harusnya dipahami semua pembuat kebijakan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, jika ingin kualitas pendidikan naik, bereskan dulu semua faktor-faktor yang berpengaruh. Salah satunya, jelas gaji guru. Ya gila saja kau berharap menghasilkan murid sepintar Jimmy Neutron jika gaji gurunya cuman 200 ribu. Itu bahkan bukan lagi mimpi, tapi gila. Straight, pure insanity.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>Menteri digaji UMR<\/strong><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Argumen ada guru yang tetap ampas sekalipun gajinya gede juga tidak bisa dijadikan pembenaran. Kalau pakai logikamu, ya menteri digaji UMR saja kalau begitu. Kan banyak yang tidak bekerja sebagaimana mestinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kritik terhadap kualitas guru juga akan bersinggungan dengan gaji, pada akhirnya. Saya sudah pernah menulis tentang ini, bahwa sebenarnya kalau mau guru jago, kita bisa-bisa aja menghasilkan. Tinggal benahi kualitas kampus pencetak guru. Benahi total. Setelah itu, diberi pelatihan yang bener-bener pelatihan, bukan duduk dengerin ceramah, jadi itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski saya kerap mengkritik <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Universitas_Negeri_Yogyakarta\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">UNY,<\/a> tapi saya nggak bisa memungkiri bahwa UNY itu bisa banget menghasilkan guru yang hebat. Tinggal benahi aja ini universitas, beres.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, misalkan kualitas guru yang ada jelek, itu bukan argumen yang bisa kau bawa untuk mengcounter kenaikan upah. Ini udah bahasan yang berbeda lagi. Lagian apa yang salah dari menuntut gaji yang layak?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekarang saya tanya, kenapa kalian kok tega liat ada orang digaji 200 ribu? Kok bisa kalian tega?<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>Asal bukan saya<\/strong><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau memang kalian-kalian maunya gaji guru boleh naik kalau kualitas guru membaik, fine. Tapi yang dibenahi jauh lebih banyak. Ini butuh sinergi (benci betul aku dengan kata ini) banyak bidang. Dan lagi-lagi, kalau mau dapet orang berkualitas, kudu siap menggajinya dengan amat layak. Lha ini udah hukum dunia kerja: you pay peanuts, you get monkeys.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai penutup, kalian nggak usah keras-keras amat menolak para guru memperjuangkan upahnya. Apalagi kalian yang menolak ini hidupnya nggak ada sangkut pautnya dengan guru. Ini yang sering bikin saya bingung, kenapa tiap isu di Indonesia ini, selalu ditolak orang yang bahkan nggak paham isi isunya apa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Atau memang inilah realitas negara kita: nggak apa-apa orang lain menderita, asalkan bukan saya.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Rizky Prasetya<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/selama-gaji-guru-tidak-naik-uny-jadi-pencetak-orang-miskin\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Selama Gaji Guru Tidak Naik, Universitas Pendidikan macam UNY Hanya Akan Jadi Pencetak Orang Miskin Baru<\/a><\/strong><\/p>\n<div class=\"jeg_ad jeg_ad_article jnews_content_inline_2_ads \">\n<div class=\"ads-wrapper align-center \">\n<div class=\"ads_code\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kalau memang kalian-kalian maunya gaji guru boleh naik kalau kualitas guru membaik, fine. Tapi yang dibenahi jauh lebih banyak.<\/p>\n","protected":false},"author":777,"featured_media":253832,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[4707,20938,21323,9570],"class_list":["post-297680","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-gaji-guru","tag-kualitas-guru","tag-kualitas-pendidikan","tag-uny"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/297680","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/777"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=297680"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/297680\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/253832"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=297680"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=297680"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=297680"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}