{"id":297628,"date":"2024-10-03T11:40:42","date_gmt":"2024-10-03T04:40:42","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=297628"},"modified":"2024-10-03T11:40:42","modified_gmt":"2024-10-03T04:40:42","slug":"tidak-ada-yang-lebih-menggelikan-ketimbang-milenial-ngejekin-gen-z","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tidak-ada-yang-lebih-menggelikan-ketimbang-milenial-ngejekin-gen-z\/","title":{"rendered":"Tidak Ada yang Lebih Menggelikan ketimbang Milenial Fosil Wannabe yang Ngejekin Gen Z Tiap Saat, Situ Iri?"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut saya nggak ada yang lebih cringe ketimbang para fosil yang tiap saat ngejekin Gen Z tanpa henti.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Udah ngejeknya nggak pake jeda, variasinya nggak ada. Contohnya, \u201canak sekarang apa-apa mental health\u201d, \u201canak sekarang nggak mau nabung, konser terus\u201d, \u201canak sekarang mentalnya tempe\u201d dan sebagainya. Lo cari dah di tiap media sosial, pasti nemu. Pasti. Di LinkedIn apalagi, bertebaran kayak gini. Bahasanya aja yang diperhalus, isinya mah sama aja kocak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau ledekannya template gini, pilihannya sih dua: cuma ikut-ikutan, atau memang kreativitasnya mandek di situ. Dah mirip kek <a href=\"https:\/\/finance.detik.com\/infrastruktur\/d-5496177\/mega-proyek-rp-2-5-t-di-hambalang-dari-mangkrak-hingga-mau-digarap-jokowi\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Hambalang<\/a> lu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya setuju dengan beberapa kritikan orang-orang pada Gen Z. Misal, anak sekarang nggak nabung, konser terus. Tapi hanya karena saya setuju, bukan berarti saya ikutan mengejek, lalu tidak memahami. Orang itu bisa setuju sama hal buruk, tapi tidak ikut-ikutan punya pemahaman yang sama lho.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Contohnya gini wis, biar paham. Katakanlah kritikan tentang nggak mau nabung. Oke, saya setuju bahwa nggak nabung itu nggak bijak. Tapi, realitasnya adalah, bisa jadi mereka bukan nggak mau, TAPI EMANG NGGAK BISA. Kalaupun bisa, harus ada yang dikorbankan. Misal, uang untuk bersenang-senang. Orang zaman dulu mungkin bisa ngerem, tapi untuk manusia zaman sekarang, ya susah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Toh, tidak bersenang-senang bukanlah hal yang baik juga. Kenapa juga gen Z disuruh menderita?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang saya pahami adalah, dunia kini sudah bergeser, semua tak lagi sesuai dengan apa yang orang tua dulu ajarkan. Orang-orang tua itu kudu paham bahwa nilai kalian itu nggak bisa atau tidak sama dengan dunia yang gen Z kenal. Dan itu wajar nganggo banget. Apalagi yang kalian maki itu masih muda, masih panjang jalan mereka mengenal dunia. Wajar jika mereka melakukan kekeliruan dan kebodohan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ayolah, kalian yang tua-tua ini nggak usah sok kementhus deh. Kalian dulu ya mesti goblok dan banyak keliru kok.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Selalu ada yang buruk di tiap generasi<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski beberapa kali saya merasakan apa yang orang-orang keluhkan terhadap generasi muda, tak berarti saya langsung ngejudge. Seperti yang saya bilang tadi, value yang diajarkan pada saya itu beda sama yang mereka alami tiap hari. Dunia juga berubah lebih cepat kok. Sebagai contoh, dunia 4 tahun setelah 2020 itu beda banget sama sebelum 2019. Beda banget.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Friksi-friksi jelas lumrah terjadi. Ini tak eksklusif pada anak muda sekarang. Dulu, kalian milenial-milenial yang sekarang sok tua padahal yo lagi 30-an umure tapi berlagak setua pertapa, ya pasti mengalami gesekan-gesekan tak jelas dengan generasi tua. Ini siklus yang nggak berhenti. Nanti gen Z juga bakal geger karo generasi ngisore, dan ini hal yang lumrah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi kalau memaki, terus menyudutkan kek sekarang, ha yo ndasmu. Nggak bisa kayak gitu. Gen Z ruwet itu nggak ada bedanya dengan milenial yang ruwet. Selalu ada yang buruk di tiap generasi, dan itu wajar. Yang nggak wajar, menjadikan batch buruk itu sebagai representasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahwa mereka mungkin masih sulit dipahami, iya, tapi kalau mengatakan mereka adalah masalah, tunggu dulu. Ingat, kalian-kalian fosil wannabe ini dulunya juga dianggap ra mashok oleh generasi di atas kalian.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>Gen Z nggak punya adab (?)<\/strong><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya setuju jika ada yang bilang \u201cgen Z nggak punya adab\u201d, jika adab yang dimaksud adalah diam terhadap omongan orang tua yang nggak masuk akal, memang harusnya dibantah. Masa-masa sekarang, kita ditunjukkan bahwa banyak masalah hidup muncul dari fosil-fosil yang kebetulan jadi orang penting. Mereka nggak mau dibantah karena ya pertama, punya jabatan, kedua, merasa tua. Itu adalah kombinasi terburuk dari seorang pemimpin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk hal ini, saya berdiri di samping gen Z. Generasi ini akhirnya melakukan apa yang milenial selalu impikan, yaitu stand up for something right. Betul, dunia kerja memang tak memberi ruang untuk orang-orang yang berani stand up, tapi siapa tahu, gara-gara gen Z ini, akhirnya ada perubahan yang begitu signifikan. Kadang ada tuntutan ora mashok, tapi yo lumrah cah, jenenge jik enom. Dipahami wae.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, untuk para milenial fosil wannabe, tolong banget, nggak usah ikut-ikutan ngehujat gen Z. Boomer juga. Intinya berhenti ngehujat. Kalian dulunya juga kayak gen Z kok, kalian nggak mau ngaku aja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan saya yakin betul, jauh di lubuk hati kalian, kalian ingin jadi anak-anak muda ini, yang berani menyuarakan yang ada di hati, sekalipun itu berakhir jadi masalah.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Rizky Prasetya<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/indihome-bikin-pelanggan-merasakan-cobaan-sepanjang-hayat\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">IndiHome, Provider Internet Khusus untuk Orang-orang yang Kesabarannya Nggak Terbatas. Cobaannya Sepanjang Hayat!<\/a><\/strong><\/p>\n<div class=\"jeg_ad jeg_ad_article jnews_content_inline_2_ads \">\n<div class=\"ads-wrapper align-center \">\n<div class=\"ads_code\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Menurut saya nggak ada yang lebih cringe ketimbang para milenial fosil wannabe yang tiap saat ngejekin Gen Z tanpa henti.<\/p>\n","protected":false},"author":777,"featured_media":297631,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[4448,507,4772],"class_list":["post-297628","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-gen-z","tag-milenial","tag-stigma"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/297628","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/777"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=297628"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/297628\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/297631"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=297628"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=297628"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=297628"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}