{"id":297531,"date":"2024-10-02T15:13:59","date_gmt":"2024-10-02T08:13:59","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=297531"},"modified":"2024-10-02T15:13:59","modified_gmt":"2024-10-02T08:13:59","slug":"lontong-sayur-yu-wur-lamongan-bukan-jualan-tapi-sedekah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/lontong-sayur-yu-wur-lamongan-bukan-jualan-tapi-sedekah\/","title":{"rendered":"Lontong Sayur Yu Wur Lamongan Bukan Jualan, tapi Sedekah.\u00a0Seporsi Cuma Rp1.000-an\u00a0"},"content":{"rendered":"<p><em>Saking murahnya, Lontong Sayur Yu Wur Lamongan memang pantas disebut sedekah daripada jualan.\u00a0<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi yang sering nonton konten kuliner, pasti familier dengan kata-kata andalan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/food-vlogger-miskin-kosakata-cuma-menang-pedas\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">food vlogger<\/a>, \u201cIni mah bukan jualan, tapi sedekah\u201d. Ungkapan itu seakan menggambarkan bahwa kuliner yang mereka beli terkesan murah meriah. Ketika mendengar kata-kata itu, saya sebenarnya geli-geli jengkel. Sebab, food vlogger semacam itu sering kali berlebihan. Harga kuliner yang dibeli sebetulnya ya normal-normal saja.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, empat hari lalu, ketika saya keluyuran ke Lamongan, saya menemukan kuliner yang cocok disebut \u201cbukan jualan tapi sedekah\u201d. Bersama seorang teman, saya diajak ke sebuah warung bernama Lontong Sayur Yu Wur. Katanya, harga seporsinya cuma Rp1.000. Tentu saya kaget campur ragu awalnya. Masak iya zaman seperti sekarang masih ada pedagang kuliner yang mematok harga seperti di tahun 90-an.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penasaran, saya mengiyakan ajakan teman saya itu. Meluncurlah kami ke lokasi warung Lontong Sayur Yu Wur.<\/span><\/p>\n<h2><b>Tempat, cara memasak, hingga penyajian masih tradisional<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sesampainya di lokasi, saya sempat ragu lagi. Sebab dari luar, tempatnya itu nggak terlihat seperti warung. Seperti rumah khas warga pedesaan pada umumnya. Sama sekali nggak ada tanda-tanda yang menunjukkan adanya tempat makan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada satu lorong yang lumayan sempit di antara tembok rumah. Setelah teman saya menyuruh masuk ke lorong itu, ternyata di sanalah warung Lontong Sayur Yu Wur. Ada banyak orang yang mengantre sambil melihat Yu Wur, pemilik warung, sedang memasak lontong dan bakwan. Menariknya, cara memasak di warung ini tidak pakai kompor. Tapi, masih menggunakan kayu jati sebagai bahan bakar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak hanya itu, setelah giliran saya memesan, ternyata penyajian lontong sayur ini juga masih memakai <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/nasi-berkat-bungkus-daun-jati-terbaik-tapi-mulai-langka\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">daun pohon jati<\/a> sebagai alas piring. Kalian yang hidup di tahun 90-an pasti relate dan paham kenapa makanan pakai alas daun pohon jati. Betul, menambah aroma dan menjaga kehangatan makanan. Benar-benar masih kental nuansa tradisional di warung ini.<\/span><\/p>\n<h2><b>Lontong Sayur Yu Wur Lamongan: murah harganya, seimbang rasanya<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karena di awal sempat ragu dengan harganya, tanyalah saya ke Yu Wur berapa seporsinya. Waktu itu saya memesan satu lontong sayur dan satu gorengan bakwan. Yu Wur bilang, \u201cLontongnya seribu, gorengannya satu, berarti semuanya Rp1.500, Mas\u201d. Ternyata beneran seribu rupiah harga seporsinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentu saja harga segitu terlampau murah. Dan asal tahu saja, sayur lodeh pepaya muda di sana itu <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jebakan-rumah-makan-prasmanan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">prasmanan<\/a>, alias ambil sendiri semaunya. Saya benar-benar nggak bisa menalar, bagaimana kalkulasi Yu Wur mengambil untung dari lontong sayur yang dia hargai segitu murahnya. Apalagi mengingat harga beras sekarang lagi naik-naiknya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi ya sudahlah, itu urusan Yu Wur sendiri. Yang jelas, saya memang beneran makan lontong sayur dengan harga seribu rupiah. Terkait rasanya, saya pikir sederhana. Tidak yang terlalu wah, tidak juga mengecewakan. Istilah yang tempat mungkin seimbang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk lontong, teksturnya kayak lontong pada umumnya; lembut dan sedikit kenyal. Sedangkan untuk sayur lodeh pepaya muda, gurihnya nggak terlalu tajam, juga nggak terlalu pedas. Kalau asumsi saya, ini rempah-rempahnya sedikit. Ya maklum sih, wong seribu rupiah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cuman bagi saya pribadi, yang istimewa adalah aroma daun pohon jatinya. Sebab, Lontong sayur Yu Wur ini, sedikit terasa lebih segar daripada lontong sayur pada umumnya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Menjajakan berbagai jajanan pasar yang tidak kalah tradisional<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain menjual lontong sayur, Yu Wur juga menjajakan berbagai jajanan pasar tradisional. Mulai dari kue klepon, onde-onde, lupis, saplak, hingga puli. Lagi-lagi bagi kalian yang hidup di tahun 90-an pasti relate sama jajanan pasar tersebut. Tapi, bagi <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/ragam\/stigma-gen-z-yang-dianggap-nggak-becus-di-dunia-kerja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Gen Z<\/a>, hampir pasti asing, terutama dengan kudapan bernama saplak dan puli.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sedikit gambaran, saplak itu makanan yang terbuat dari bahan dasar tepung singkong dan kacang tunggak. Rasanya mirip gethuk, manis dan gurih dengan tekstur yang kenyal. Sementara untuk puli, adalah kudapan yang terbuat dari nasi yang ditumbuk dan diberi obat puli, kemudian digoreng. Rasanya gurih, dan biasanya dimakan bersama beragam lauk, kadang parutan kelapa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jajanan pasar di warung Lontong Sayur Yu Wur ini memang tradisional banget. Kata Yu Wur, warungnya ini sudah berdiri selama 3 generasi, sekitar tahun 60-an. Terkait harganya pun masih murah. Untuk klepon 5 butir dihargai seribu rupiah, lupis Rp2 ribu. Sementara untuk onde-onde, saplak, dan puli cuma lima ratus rupiah.<\/span><\/p>\n<h2><b>Jangan lupa mampir ke Sayur Yu Wur kalau ke Lamongan biar nggak rugi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya pikir warung Yu Wur memang cocok disebut \u201cbukan jualan tapi sedekah\u201d seperti yang vlogger-vlogger bilang.\u00a0 Harga lontong sayur dan jajanan pasar benar-benar ramah di kantong. Secara tempat dan penyajian makanan pun terbilang nyentrik, karena masih menggunakan cara-cara tradisional.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itu mengapa, bagi kalian yang nantinya berencana ke Lamongan, saya sarankan mampirlah ke Lontong Sayur Yu Wur ini. Rugi kalian kalau cuma mencicipi sotonya saja. Lokasi tepatnya ada di <a href=\"https:\/\/g.co\/kgs\/nS1DmND\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Dusun Krajan, Desa Sukobendu, Kecamatan Mantup, Kabupaten Lamongan<\/a>.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oh ya, tapi kalau ke sini jangan lupa perhatikan hari ya. Sebab, warung lontong sayur ini nggak buka setiap hari. Mereka hanya buka pada malam Legi dan Wage saja, sebagaimana tanggal kalender pasaran Jawa. Kalau kalian tanya kenapa bukanya cuma pada tanggal itu, saya nggak tahu pasti. Tapi, konon katanya, pada malam Legi dan Wage ini adalah hari yang baik untuk bersedekah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Achmad Fauzan Syaikhoni<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <\/strong><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kasta-siomay-enak-di-jogja-silakan-coba-dan-buktikan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kasta Siomay Enak di Jogja, Silakan Coba dan Buktikan<\/a><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Lontong Sayur Yu Wur Lamongan bukan jualan, tapi sedekah saking murahnya. Satu porsi lontong sayur hanya Rp1.000. <\/p>\n","protected":false},"author":2221,"featured_media":297550,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12909],"tags":[26307,2250,26306,26305],"class_list":["post-297531","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kuliner","tag-kuliner-lamongan","tag-lamongan","tag-lontong-sayur-yu-wur","tag-lontong-sayur-yu-wur-lamongan"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/297531","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2221"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=297531"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/297531\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/297550"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=297531"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=297531"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=297531"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}