{"id":297526,"date":"2024-10-03T14:11:05","date_gmt":"2024-10-03T07:11:05","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=297526"},"modified":"2024-10-03T14:26:45","modified_gmt":"2024-10-03T07:26:45","slug":"tugu-1000-km-anyer-panarukan-di-situbondo-nggak-mirip-tugu-pengingat-sejarah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tugu-1000-km-anyer-panarukan-di-situbondo-nggak-mirip-tugu-pengingat-sejarah\/","title":{"rendered":"Tugu 1000 Km Anyer-Panarukan di Situbondo Lebih Mirip Tiang Jemuran Tanpa Baju daripada Pengingat Sejarah"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu sejarah kelam yang ada di Indonesia adalah proyek kerja rodi yang dilakukan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jalan-daendels-purworejo-dan-jalan-anyer-panarukan-dibangun-oleh-daendels-yang-berbeda\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Daendels.<\/a> Membuat monumen atau tugu adalah upaya masyarakat Indonesia untuk mengenang sejarah kelam ini. Adalah Tugu 0 Km di Anyer yang jadi penanda tempat proyek Daendels dimulai. Ada pula tugu 1000 Km di Situbondo yang mengingatkan bahwa tempat ini adalah titik terakhir dari proyek mengerikan Daendels tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kedua tugu tersebut menjadi bukti bahwa ada tetes keringat, air mata, hingga darah yang mengalir dari area yang selama ini menjadi salah satu jalur utama perdagangan di Indonesia: Pantura. Tapi, saya agak tersenyum getis tiap kali melihat langsung seperti apa bentuk dari tugu pengingat ini. Saya nggak sedang membicarakan tugu yang di Anyer, melainkan yang di Situbondo.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>Tugu 0 Km di Anyer begitu artistik sarat akan makna<\/strong>\u00a0<\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekarang mari kita bandingkan Tugu 0 Km di <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Anyar,_Serang\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Anyer Banten<\/a> dan Tugu 1000 Km di Situbondo. Tugu 0 Km di Anyer berbentuk silinder berbahan utama batu marmer hitam. Kemudian di bagian atas tugu ada ornamen berbentuk bola dunia yang cukup mencolok. Bola dunia ini sarat dengan arti dan menjadi semacam mahkota dari kehadiran tugu. Sementara sepasang tangan yang memegang bola dunia menjadi part yang cukup menarik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tangan di tugu itu seolah tenggelam. Saya nggak memaknainya sebagai simbol kekuatan kolonial kala itu, melainkan tangan dari orang-orang yang tewas dalam proyek untuk membangun dunia. Di situ ada semacam pesan bahwa &#8220;dua tangan&#8221; yang rela tenggelam, terutama dalam proyek Daendels yang begitu keji, berperan membangun dunia yang kita tinggali ini. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Prasasti di bagian bawah Tugu 0 Km di Anyer pun menjelaskan secara singkat seperti apa proyek Jalan Raya Pos yang dibangun oleh Daendels. Selain itu ada pula fakta yang menunjukkan di situ merupakan titik nol atau titik awal pembangunan dari <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/jalan-raya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">jalan raya<\/a> ini.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Secara visual, tugu yang ada di Anyer begitu artistik sekaligus penuh dengan makna. Kesan yang muncul adalah tugu ini memang ingin memberitahukan sesuatu yang telah atau sudah pernah terjadi kala itu. Beda dengan Tugu 1000 Km yang ada di kota kelahiran saya, Situbondo. <\/span><\/p>\n<h2><strong>Tugu 1000 Km di Situbondo terlalu &#8220;sederhana&#8221;<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seperti apa bentuknya Tugu 1000 Km di Situbondo? Biar saya deskripsikan untuk kalian semua, terutama yang belum pernah berkunjung ke sini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada pilar-pilar berukuran tak jelas yang berjejer di sini yang bahkan untuk memicu selera melihatnya saja belum cukup. Bentuk pilar ini tegak lurus serta berjejer kurang rapi. Tak ada ornamen yang rumit maupun dekoratif.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang Tugu 1000 Km di Situbondo ini menunjukkan kesederhanaan. Tapi kesederhanaan macam apa yang layak untuk menghargai jasa orang-orang yang sudah mati untuk membangun jalan ini? <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Mereka harus dihargai secara mewah dan tentu harus besar karena jasanya bisa kita rasakan sampai kini dan mungkin sampai kiamat nanti.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Monumen dengan beton berjejer ini justru mengingatkan saya pada gambaran besi untuk tiang rumah baru dicor dan pengerjaannya belum beres alias rumah belum jadi. Kemudian makin nggak menarik karena yang membangunnya kala itu sama sekali kurang nyeni. Alih-alih membuat prastasi dan tulisan kecil yang menjelaskan cerita atau sejarah di balik tugu tersebut, justru memberi tulisan besar &#8220;1000 Km Anyer Panarukan&#8221; secara eksplisit.\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Sangat tidak estetis.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau kalian belum pernah melihatnya langsung, coba cari tahu sendiri di Google seperti apa tugu ini. Yang tercantum berupa material yang dicetak menjadi huruf-huruf besar dan terpasang dengan teknik dudukan dan tumpuan antara pilar-pilar beton.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari jauh, tugu ini memang tampak melayang dan agak keren. Tapi coba didekati, kelihatan sekali dudukannya lebih seperti <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/alasan-saat-kecil-kita-gemar-tiduran-di-tumpukan-baju-yang-baru-diangkat-dari-jemuran\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kawat jemuran<\/a> daripada membentuk monumen atau tugu berharga untuk mengingatkan kita pada sesuatu yang besar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau melihat secara keseluruhan Tugu 1000 Km di Situbondo, akan ada kesan macam tiang jemuran tanpa baju dan jejeran tiangnya nggak teratur baik dari jarak maupun tingginya. Coba bandingkan langsung dengan tugu yang ada di Anyer, yang jadi titik awal mula proyek berjalan.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Seharusnya digarap dengan baik dan serius<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perbedaan lainnya antara Tugu 0 Km di Anyer dengan Tugu 1000 Km di Situbondo adalah letak tugunya. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Di Anyer, tugu tersebut terletak di pantai yang begitu indah. Bola dunia yang dipegang dua tangan langsung bersanding dengan angin laut dan suara ombak yang memecah pantai.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Warga sana juga pasti sering datang untuk menikmati suasana sekitar sambil belajar sejarah. Soalnya tugu yang dibangun di sana memang tampak memancing rasa ingin tahu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Coba Tugu 1000 Km di Situbondo. Duh, lebih mirip <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-spare-part-motor-yang-sering-hilang-saat-sedang-di-parkiran\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">parkiran motor<\/a> luas yang ada hiasan pilarnya. Lebih cocok jadi lokasi parkir kendaraan dan ditinggal buat memancing beneran ke sungai sebelahnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya letak tugu tersebut cukup oke. Soalnya berada di muara tempat aliran sungai menuju laut. Kalau digarap dengan serius dan baik, tugu ini bisa jadi lokasi yang mantap, setidaknya untuk memandangi aliran sungai.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah saya baca-baca lagi, mungkin hanya ada satu filosofi dari dibangunnya tugu yang seharusnya menjadi simbol untuk menunjukkan jasa besar orang-orang yang membangun jalan raya ini. Filosofi &#8220;yang penting selesai, yang penting ada, dan yang khas pembangunan-pembangunan yang ada di Situbondo sampai sekarang.\u201d<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Firdaus Al Faqi<br \/>\nEditor: Intan Ekapratiwi<\/p>\n<p><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mencoba-memahami-fungsi-dua-gapura-di-alun-alun-kabupaten-situbondo\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Mencoba Memahami Fungsi Dua Gapura di Alun-Alun Kabupaten Situbondo<\/a>.<\/b><\/p>\n<p><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>cara ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tugu 1000 Km Anyer-Panarukan di Situbondo nggak estetis blas jika dibandingkan Tugu 0 Km di Anyer. Nggak mirip monumen pengingat sejarah.<\/p>\n","protected":false},"author":585,"featured_media":297659,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[3604,23473,23169,10709,26312],"class_list":["post-297526","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-daendels","tag-jalan-anyer-panarukan","tag-jalan-raya-pos-daendels","tag-situbondo","tag-tugu-1000-km-situbondo"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/297526","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/585"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=297526"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/297526\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/297659"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=297526"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=297526"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=297526"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}