{"id":297344,"date":"2024-10-01T10:44:31","date_gmt":"2024-10-01T03:44:31","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=297344"},"modified":"2024-10-01T12:53:18","modified_gmt":"2024-10-01T05:53:18","slug":"jogja-kota-yang-keburukannya-selalu-dimaafkan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jogja-kota-yang-keburukannya-selalu-dimaafkan\/","title":{"rendered":"Jogja, Kota yang Keburukannya (Entah Kenapa) Selalu Dimaafkan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jogja adalah anomali. Kota ini, sekalipun memberimu banyak luka, dan kenangan menyakitkan, kau akan memaafkannya dan tetap datang merayakan kenangan manis yang mungkin hanya sebesar biji sawi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kau mungkin pernah diputus pacarmu secara sepihak, melihatnya masuk kos dengan pria lain. Atau, melihat orang yang kau puja ternyata rasis dan berpanu. Atau, mungkin, cinta benar-benar jauh darimu selama di Jogja. Dilirik pun tidak, apalagi diperhitungkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, kau tetap datang, menyambutnya, merayakannya. Mengenang hal-hal indah, sekalipun tak pernah ada. Kau tetap melihat Tugu seakan-akan bangunan termegah. <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Stasiun_Lempuyangan\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Stasiun Lempuyangan<\/a> seakan-akan jadi saksi cintamu. Dan, tentu saja, kau menulis sajak angkringan, mengulang-ulangnya di media sosialmu yang hanya difollow akun bot.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalimat-kalimat di atas mungkin terkesan amat \u201ctaek\u201d bagi kalian, terlebih bagi kalian yang mengenal saya. Tapi, saya serius, kota ini memang penuh keindahan, sekalipun saya mengutuknya tanpa henti.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>Tak semua cinta berakhir jadi benci<\/strong><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hampir sepertiga hidup saya, saya lalui di Jogja. Entah cinta atau memang tak punya keberanian untuk pergi, saya mungkin masih bertahan hingga beberapa tahun ke depan. Yang jelas, saya tahu, bahwa yang saya cari hanya bisa saya dapat di Jogja: ruang dan keberanian untuk bermimpi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya datang ke Jogja pada 2011. Saya ingat betul, saya terkagum-kagum melihat Amplaz, macam beruk melihat pohon beringin. Lalu beberapa hari kemudian, saya masuk ke daerah UGM. Makin-makinlah saya kagum. Betapa udik saya waktu itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi yang bikin saya memutuskan untuk harus kuliah di Jogja adalah ya karena kultur kampusnya. Saya dijejali ide-ide besar oleh kawan saya yang kuliah di UGM. Untuk orang kabupaten macam saya, tentu hal tersebut begitu megah. Hal-hal megah, memang mudah mengikat manusia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada akhirnya, saya beneran kuliah di Jogja. Selama 7 tahun kuliah, ide-ide besar yang dijejalkan pada otak saya saat itu banyak yang tak terwujud. Tapi Jogja lah yang bikin saya berani bermimpi. Kota inilah yang memberi saya banyak pelajaran, kesalahan, penderitaan, dan cerita-cerita cinta.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski kini saya benar-benar ingin muntah melihat sajak-sajak yang dikeluarkan oleh akun romantisasi Jogja, saya memahami jika ada yang begitu cinta pada Jogja, dan memaafkannya meski hidupnya penuh nestapa di Kota Istimewa. Kenapa?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebab, dulunya, saya juga jatuh cinta. Dan tak semua cinta itu beralih jadi benci.<\/span><\/p>\n<p><strong>Baca halaman selanjutnya<\/strong><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jogja-kota-yang-keburukannya-selalu-dimaafkan\/2\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em>Ditinggal ngangenin, ditunggoni ra marai sugih<\/em><\/a><\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>Jogja, ditinggal ngangenin, ditunggoni ra marai sugih<\/strong><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berkali-kali, saya ketemu dengan orang yang berkata, tinggal di Jogja hanya akan buat seseorang tak berkembang. Tetap di situ-situ saja, tidak menjadi apa-apa. Lucunya, hampir semuanya hingga kini masih menetap di Jogja, tanpa ada tanda-tanda pergi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jujur saja, saya setuju dengan pendapat tersebut. Kalau mau kaya, ya nggak di sini tempatnya. Beda cerita jika kalian kerja remote di bawah perusahaan luar negeri. Karo ngising we yo sugih. Nah kalau kerja biasa? Ya susah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, hidup, untuk beberapa orang, tak melulu tentang kekayaan. Asalkan besok bisa makan, hal-hal menakutkan di masa depan hanyalah dongeng mengerikan yang tak perlu digenggam begitu erat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan Jogja dipenuhi orang-orang seperti itu. Orang-orang yang tak peduli esok hari. Orang-orang yang mencintai malam ini, sepenuh hati. Beberapa menggenggam tangan, beberapa menggenggam buku, sisanya memegang botol, percaya bahwa kota ini akan membawa kebahagiaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Benar. Jogja, ditinggal ngangeni, ditunggoni ra marai sugih. Tapi, hidup tak melulu tentang kekayaan, bukan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">***<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jogja adalah anomali. Kota ini, saat kau datangi lagi, dia berubah, wajahnya penuh dengan sapuan-sapuan rias yang kau benci. Tapi di tempat-tempat yang tak lagi berdiri, kau memandangnya, mereka-reka adegan yang pernah terjadi. Dan entah kenapa, kau datangi lagi kota ini, yang memberimu duka, bahkan merasuk ke tulang.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Rizky Prasetya<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jogja-salah-urus-yang-sulit-dinikmati-warganya-sendiri\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jogja Tidak Pantas Lagi Menyandang Kota Wisata dan Kota Pendidikan karena Tidak Bisa Dinikmati oleh Warganya Sendiri<\/a><\/strong><\/p>\n<div class=\"jeg_ad jeg_ad_article jnews_content_inline_2_ads \">\n<div class=\"ads-wrapper align-center \">\n<div class=\"ads_code\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jogja adalah anomali. Kota ini, sekalipun memberimu banyak luka, dan kenangan menyakitkan, kau akan memaafkannya dan tetap datang merayakan kenangan manis yang mungkin hanya sebesar biji sawi. Kau mungkin pernah diputus pacarmu secara sepihak, melihatnya masuk kos dengan pria lain. Atau, melihat orang yang kau puja ternyata rasis dan berpanu. Atau, mungkin, cinta benar-benar jauh [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":777,"featured_media":295201,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[115,3822,4683],"class_list":["post-297344","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-jogja","tag-keburukan","tag-romantisasi"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/297344","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/777"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=297344"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/297344\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/295201"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=297344"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=297344"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=297344"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}