{"id":296866,"date":"2024-09-27T14:39:17","date_gmt":"2024-09-27T07:39:17","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=296866"},"modified":"2024-09-27T14:39:17","modified_gmt":"2024-09-27T07:39:17","slug":"berhenti-fafifu-benahi-gaji-guru","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/berhenti-fafifu-benahi-gaji-guru\/","title":{"rendered":"Berhenti Fafifu Kurikulum Finlandia, Sebab Akar Masalahnya Adalah Gaji Guru yang Segitu-segitu Saja"},"content":{"rendered":"<p><em>Nggak usah fafifu ngomongin kurikulum Finlandia kalau gaji guru masih di bawah logika begini<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagaimana yang diketahui, kurikulum merdeka memang secara konsep cukup kontras dengan kurikulum sebelumnya. Sehingga memicu banyak polemik. Ada banyak diskusi yang membicarakan tema ini. Di X misalnya, perdebatan tentang kurikulum ini terjadi dengan begitu sentosa .<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misal, ada salah satu akun, ia mengatakan \u201c<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Di Finlandia guru wajib S2, jika keterima, mereka punya otonomi penuh dalam mengajar, gaji super gede Kurikulum ganti 10 tahun sekali, kesadaran belajar dari rumah udah mulai kuat Lu mau niru Finland, benerin ini dulu, baru tuh hapus sekolah favorit, ranking, UN dsb<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yah, di X mulai heboh tentang pembahasan kalau Indonesia itu tidak cocok memakai sistem pendidikan ala Finlandia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya cuma tertawa. Cukup seru menyimak obrolannya. Tapi ketika ada akun yang mengatakan, intinya, \u201cyang diambil dari Finland cuma zonasi dan kurikulum merdekanya aja, gaji gurunya tidak\u201d. Nah, dari sana, saya ikut berkomentar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sering membayangkan andai saja guru menjadi profesi yang begitu keren di Indonesia, yang dibayar dengan layak. Sehingga tiap merancang modul pembelajaran, ia bisa mengerjakan di kafe-kafe mahal itu, persis seperti profesi keren lainnya, tanpa harus melakukan pinjol terlebih dahulu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pun saya selalu setuju jika apa pun kurikulum yang dipakai, jika gaji gurunya segitu-segitu saja, maka tidak akan banyak yang berubah. Iya, bagi saya, program paling penting dari Kemendikbud harusnya adalah menaikkan gaji guru.<\/span><\/p>\n<h2><b>Sebab, persoalannya itu, bukan kurikulumnya apa, tapi berapa gaji gurunya?<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita tahu bahwa <a href=\"https:\/\/www.sekolahmuridmerdeka.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Sekolah Murid Merdeka<\/a>, yang merupakan sekolahnya Mbak Najeela, adalah salah satu pionir dan acuan dari kurikulum Merdeka yang akhirnya diterapkan secara nasional. Jujur, secara konsep memang cukup bagus. Hanya saja, sekolahnya Mbah Najeela ini kan nominal gaji guru juga lumayan, jadi wajar saja kalau guru bisa dituntut untuk ini-itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lha, masalahnya, di sekolah lain tidak demikian. Bayangin saja, ada guru yang digaji 500 ribu rupiah sebulan. Tapi, ia punya tuntutan membuat konsep belajar berbasis projek, menerapkan pembelajaran berdiferensiasi, ikut guru penggerak, dan segala beban administrasinya. Ya, bakal susah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Digaji UMR aja masih susah, apalagi yang di bawah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau dicermati, meski ganti kurikulum, cara ngajar guru juga tidak jauh beda. Yang berubah cuma administrasinya saja. Kenapa demikian? Lagi-lagi, akar masalahnya adalah gaji guru rendah. Sehingga orang yang punya kapasitas otak di atas rata-rata itu ketika ia kuliah, lebih memilih jurusan selain pendidikan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Btw, pendidikan juga sering menjadi jurusan alternatif. Dulu ketika saya kuliah, ada banyak teman yang mengaku salah jurusan. Ada juga yang merasa kalau jurusan pendidikan adalah pilihan terakhir. Sebab, memang banyak yang lebih mengutamakan jurusan yang nantinya punya penghasilan secara layak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yah, hidup memang semakin pragmatis kawan. Lihat saja lowongan CPNS, yang paling diminati ya bagian yang gajinya paling gede.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>Peminat jurusan pendidikan tinggi, tapi yang jadi guru berapa?<\/strong><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, karena guru dijadikan jurusan alternatif, maka output yang akhirnya menjadi tenaga pengajar juga kebanyakan orang-orang yang (maaf) bukan merupakan \u201cunggulan\u201d di sekolahnya dulu. Kebanyakan lho ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Satu lagi, kalau ditelisik, kampus spesialis pendidikan di Indonesia, mana ada, sih, yang jadi favorit? Katakanlah, ada. Tapi, tentu saja, kalah mentereng dan kurang menjanjikan untuk masa depan. Sebab, ya memang profesi guru ini kurang prestisius, sehingga yang lebih diminati adalah semacam kampus riset. Sebut saja, UGM, UI, ITB, atau UB.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang, angka pendaftar jurusan dan kampus keguruan masih besar. Tapi itung lagi, berapa outputnya yang beneran jadi guru?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Coba bayangkan kalau guru ini gajinya gede, maka pendaftar jurusan pendidikan juga pasti orang-orang pilihan yang penuh ambisi itu. Dan kalau itu terjadi, saya kira meski nggak pakai kurikulum pun, pembelajaran bakal tetep optimal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, sudahi debat kurikulum Finlandia itu. Sebab, akar masalahnya bukan itu. Akar masalahnya adalah gaji guru ini hanya seperempat UMR Jogja. Iya, seperempat saja. Padahal, yang punya UMR Jogja saja sudah ngeluh, apalagi yang digaji seperempatnya saja. Gini kok dituntut mencerdaskan kehidupan bangsa. Halah, omong kosong, Gais!<\/span><\/p>\n<p>Penulis: M. Afiqul Adib<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/selama-gaji-guru-tidak-naik-uny-jadi-pencetak-orang-miskin\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Selama Gaji Guru Tidak Naik, Universitas Pendidikan macam UNY Hanya Akan Jadi Pencetak Orang Miskin Baru<\/a><\/strong><\/p>\n<div class=\"jeg_ad jeg_ad_article jnews_content_inline_2_ads \">\n<div class=\"ads-wrapper align-center \">\n<div class=\"ads_code\" style=\"text-align: left;\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Nggak usah fafifu ngomongin kurikulum Finlandia kalau gaji guru masih di bawah logika begini<\/p>\n","protected":false},"author":580,"featured_media":268918,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[16864],"tags":[4707,26238,21404,2706],"class_list":["post-296866","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-profesi","tag-gaji-guru","tag-kurikulum-finlandia","tag-kurikulum-merdeka","tag-pemerataan-pendidikan"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/296866","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/580"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=296866"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/296866\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/268918"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=296866"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=296866"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=296866"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}