{"id":296737,"date":"2024-09-26T13:13:15","date_gmt":"2024-09-26T06:13:15","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=296737"},"modified":"2024-09-26T19:25:08","modified_gmt":"2024-09-26T12:25:08","slug":"seyegan-daerah-paling-tidak-terkenal-di-yogyakarta","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/seyegan-daerah-paling-tidak-terkenal-di-yogyakarta\/","title":{"rendered":"Seyegan, Daerah Paling Tidak Terkenal di Yogyakarta: Nggak Punya Bangjo, Olive Baru Masuk, serta Daerah Termiskin di Sleman"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apa yang pertama kali terpikir di benak Anda ketika mendengar nama Seyegan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin sebagian akan menjawab nama daerah yang ada di lagunya Shaggydog. Saya akan memaklumi hal itu karena &#8220;Sayidan&#8221; dan &#8220;Seyegan&#8221; terdengar mirip, tetapi tentu bukan itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang, salah satu di antara 14 kapanewon di Sleman ini kurang dikenal, bahkan untuk warga DIY sendiri. Orang ke Seyegan hanya sekedar lewat saja, entah akan menuju ke Kulonprogo atau alternatif menuju ke Magelang. Bukan tanpa alasan juga Seyegan kurang dikenal, tak ada potensi yang bisa dijual di sini. Satu-satunya yang membuat Seyegan sedikit dikenal hanya Mie Ayam Goreng Mekaton, pelopor skena mie ayam goreng di Jogja bahkan Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tak adanya tempat wisata di Seyegan mungkin juga jadi salah satu penyebabnya. Sebenarnya, ada satu embung di Dusun Barepan, itu pun tak berhasil terjual sebagai tempat wisata. Saking tidak terkenalnya Seyegan, Olive Chicken baru masuk pada 2024 ini, sehingga dulunya kami harus nglurug ke Godean atau Mlati sekedar untuk menikmati ayam goreng ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bayangin, Olive baru masuk tahun ini. Popularitas daerah ini emang udah rock bottom.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi sekarang agaknya sedikit lebih lega, Seyegan mulai dikenal karena dilewati jalan tol. Tiang beton tinggi menjulang berdiri di antara Selokan Mataram, lalu lalang kendaraan proyek jadi pemandangan biasa akhir-akhir ini, tentu dibarengi dengan debu-debu yang beterbangan. Jalan pinggir selokan yang dulu jadi sarana healing jalan-jalan sore, sekarang sudah tak bisa lagi, jalan ini dicegat di beberapa tempat guna kepentingan proyek prestisius pemerintah pusat, entah sampai kapan proyek ini akan berakhir.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Warga Seyegan nrimo ing pandum<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tetapi santai saja, warga Seyegan sudah biasa menghirup debu-debu dan mendengar bisingnya mesin-mesin besar sepanjang hari. Warga Seyegan sudah biasa nrimo ing pandum, praktis tak ada masalah berarti saat lahan-lahan mereka dibeli oleh pemerintah untuk dijadikan jalan tol. Mungkin memang kecerdikan dari strategi pemerintah sehingga warga mau merelakan tanahnya. Selama ini pun tak pernah saya dengar ada warga yang mengeluhkan soal ganti rugi dan semacamnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin memang uang ganti rugi ini jadi oase di tengah predikat Seyegan sebagai kapanewon termiskin di Sleman. Berdasarkan <a href=\"https:\/\/slemankab.bps.go.id\/id\/statistics-table\/2\/NjcjMg==\/persentase-penduduk-miskin.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">data dari BPS<\/a> Sleman tahun 2023, presentase KK miskin di Seyegan mencapai 12,49%, tertinggi se-Sleman. Selain itu presentase KK rentan miskin juga mencapai 59%, tertinggi juga se-Sleman . Entah apa sebabnya, apa mungkin karena sebagian besar warga di sini bekerja di sektor pertanian, sektor yang bagi manusia Indonesia modern selalu dibilang kurang menjanjikan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski beton-beton yang ada dan debu-debu masuk perlahan ke paru-paru, tapi, tak masalah. Kami nrimo ing pandum, menerima semua apa adanya. Meski ya, nggak bisa dibilang menyenangkan.<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> Kesannya memang menggerutu, tapi, menang beginilah rasanya menjadi warga Seyegan. Harus terima tinggal di daerah yang kurang dikenal, tak punya tempat wisata, daerah termiskin se-Sleman, dan juga daerah yang tak punya bangjo.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bangjo wae ra ndue, jan.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Imam Choyru Fhadoli<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tinggal-di-sleman-utara-adalah-privilese\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">5 Privilese Tinggal di Sleman Sisi Utara yang Bakal Sulit Dipahami oleh Warga Bantul<\/a><\/strong><\/p>\n<div class=\"jeg_ad jeg_ad_article jnews_content_inline_2_ads \">\n<div class=\"ads-wrapper align-center \">\n<div class=\"ads_code\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saking tidak terkenalnya Seyegan, Olive Chicken baru masuk pada 2024 ini. Bangjo saja tidak punya, bayangno.<\/p>\n","protected":false},"author":2768,"featured_media":296826,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[26222,26221,7235,8333],"class_list":["post-296737","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-daerah-miskin-di-sleman","tag-seyegan","tag-sleman","tag-tol"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/296737","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2768"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=296737"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/296737\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/296826"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=296737"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=296737"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=296737"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}