{"id":296546,"date":"2024-09-24T14:22:01","date_gmt":"2024-09-24T07:22:01","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=296546"},"modified":"2024-09-25T13:36:39","modified_gmt":"2024-09-25T06:36:39","slug":"dusun-semilir-semarang-destinasi-wisata-yang-tidak-ramah-kantong","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/dusun-semilir-semarang-destinasi-wisata-yang-tidak-ramah-kantong\/","title":{"rendered":"Pengalaman Pertama Berkunjung ke Dusun Semilir Semarang, Destinasi Wisata yang Tidak Ramah untuk Kaum Mendang-Mending"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perjalanan saya menuju Dusun Semilir, sebuah destinasi wisata di Semarang, membawa pengalaman yang tak terduga. Meski saya sering melewati jalur Bawen-Ambarawa dalam perjalanan pulang-pergi antara Jogja dan Demak, saya tidak pernah menyadari bahwa Dusun Semilir berada tepat di sebelah jalur tersebut. Keingintahuan saya baru muncul setelah keluarga besar saya mengajak liburan ke sana. Saya tertarik setelah mendengar cerita adik saya yang mendapatkan informasi dari TikTok, bahwa Dusun Semilir merupakan tempat wisata yang menarik, penuh dengan wahana dan memiliki suasana sejuk dan layak untuk dikunjungi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karena percaya pada penjelasan adik saya yang seolah meyakinkan, saya pun tidak terlalu memikirkan untuk mencari informasi lebih lanjut. Namun, keputusan itu berakhir dengan kekecewaan. Sebagai seorang yang termasuk dalam kategori &#8220;kaum mendang-mending,&#8221; saya merasa menyesal dan kapok setelah berkunjung ke Dusun Semilir Semarang. TikTok jelas terlalu melebih-lebihkan, dan informasi yang tersebar ternyata tidak sepenuhnya akurat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Adapun hal-hal yang bertolak belakang pada ideologi saya sebagai kaum mendang-mending adalah sebagai berikut.<\/span><\/p>\n<h2><b>Cuaca yang panas, tak sesuai ekspektasi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nama &#8220;Dusun Semilir&#8221; mungkin menimbulkan ekspektasi bahwa tempat ini menawarkan konsep suasana pedesaan yang sejuk dan nyaman. Sebab, jika merujuk nama tersebut merupakan adaptasi dari bahasa Jawa, yang memiliki arti \u201cDesa Sejuk.\u201d Namun, kenyataannya jauh dari harapan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Secara geografis, Dusun Semilir Semarang memang terletak di daerah dataran tinggi, tapi belum cukup tinggi untuk menawarkan kesejukan yang signifikan. Udara di sana masih panas, mirip dengan daerah Semarang lainnya yang berada di dataran rendah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal ini sangat berbeda jika dibandingkan dengan destinasi wisata lain di sekitar, seperti Umbul Sidomukti, yang hanya berjarak 12 kilometer dari Dusun Semilir Semarang. <a href=\"https:\/\/regional.kompas.com\/read\/2022\/03\/26\/173245278\/umbul-sidomukti-di-semarang-harga-tiket-jam-buka-syarat-masuk-dan-wahana\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Umbul Sidomukti<\/a> benar-benar terletak di dataran tinggi dan menawarkan udara yang segar dan sejuk, sesuai dengan ekspektasi wisata pegunungan. Namun, Dusun Semilir gagal memberikan pengalaman serupa, dan ini menjadi salah satu kekecewaan terbesar saya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Harga yang membuat dompet tersiksa<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak hanya cuaca yang mengecewakan, harga yang ditawarkan di Dusun Semilir juga tidak sesuai dengan ekspektasi. Bagi saya, konsep &#8220;dusun&#8221; biasanya identik dengan kehidupan yang sederhana dan murah. Sayangnya, hal ini tidak berlaku di Dusun Semilir Semarang. Tiket masuk standar memang relatif terjangkau, seharga 45 ribu rupiah, namun tiket tersebut hanya memberikan akses untuk berjalan-jalan melihat-lihat wahana, tanpa bisa mencoba aktivitas apa pun. Jika ingin menikmati semua wahana, Anda harus siap mengeluarkan lebih banyak uang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai contoh, jika Anda tidak ingin capek berjalan kaki, tersedia opsi untuk menyewa golf car dengan biaya sekitar 145 ribu rupiah. Jika Anda tertarik untuk mencoba wahana salju, seperti yang diinginkan adik saya, biaya tambahan sebesar 75 ribu rupiah per orang harus dikeluarkan. Bagi kaum mendang-mending seperti saya, harga-harga ini tentu sangat memberatkan dan jauh dari kesan wisata yang ramah kantong.<\/span><\/p>\n<p><strong>Baca halaman selanjutnya<\/strong><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/dusun-semilir-semarang-destinasi-wisata-yang-tidak-ramah-kantong\/2\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em>Es teh 10 ribu<\/em><\/a><\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lebih parah lagi, pengunjung dilarang membawa makanan dan minuman dari luar, memaksa kita membeli makanan dan minuman di dalam area wisata yang harganya sangat mahal. Bayangkan saja, untuk membeli satu gelas es teh, saya harus merogoh kocek sebesar 10 ribu rupiah, tiga kali lipat dari harga normal di luar. Memang benar, di tempat wisata harga-harga biasanya lebih mahal, namun kenaikan harga sebesar itu benar-benar di luar dugaan saya, setidaknya merujuk pada pengalaman saya berkunjung pada tempat wisata lain. Pengalaman ini membuat saya merasa wisata ini tidak ramah bagi pengunjung yang ingin berhemat.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Kecewa dengan Dusun Semilir<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah beberapa hal yang membuat saya sebagai kaum mendang-mending kecewa terhadap Dusun Semilir Semarang, dan kapok untuk mengunjungi kembali. Saran saya, bagi Anda yang berencana mengunjungi Dusun Semilir, pastikan bahwa Anda adalah bukan kaum mendang-mending. Setelah menggugurkan syarat pertama, saya sangat menyarankan untuk melakukan riset mendalam terlebih dahulu. Jangan hanya mengandalkan informasi dari media sosial seperti TikTok, karena bisa jadi ekspektasi yang diberikan tidak sesuai dengan realitas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, perhitungkan baik-baik anggaran yang Anda miliki. Jangan terkecoh dengan nama &#8220;Dusun&#8221; yang mungkin terkesan sederhana dan murah. Di balik nama tersebut, tersimpan pengalaman yang bagi saya, sebagai kaum mendang-mending, cukup memberatkan.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Aditya Firmansyah<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/dusun-semilir-alternatif-tempat-wisata-di-semarang-yang-family-friendly\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Dusun Semilir: Alternatif Tempat Wisata di Semarang yang Family Friendly<\/a><\/strong><\/p>\n<div class=\"jeg_ad jeg_ad_article jnews_content_inline_2_ads \">\n<div class=\"ads-wrapper align-center \">\n<div class=\"ads_code\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saya sebagai kaum mendang-mending kecewa terhadap Dusun Semilir Semarang, dan kapok untuk mengunjungi kembali.<\/p>\n","protected":false},"author":2489,"featured_media":296627,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[16088,4652],"class_list":["post-296546","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-dusun-semilir","tag-semarang"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/296546","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2489"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=296546"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/296546\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/296627"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=296546"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=296546"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=296546"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}