{"id":296462,"date":"2024-09-23T15:01:19","date_gmt":"2024-09-23T08:01:19","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=296462"},"modified":"2024-09-23T13:53:00","modified_gmt":"2024-09-23T06:53:00","slug":"saatnya-nganjuk-introspeksi-diri-supaya-bisa-seperti-kediri","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/saatnya-nganjuk-introspeksi-diri-supaya-bisa-seperti-kediri\/","title":{"rendered":"Sudah Saatnya Nganjuk Introspeksi Diri supaya Bisa seperti Kediri, Atau Minimal Bikin Bangga Warga Sendiri"},"content":{"rendered":"<p>Saya mulai risau dengan warga Nganjuk saat ini yang lebih suka main ke tetangga sebelah, Kediri. Bahkan, saking banyaknya orang Nganjuk yang main di Kediri, anak Kediri sampe hafal gaya-gayanya orang Nganjuk. Bagi orang Nganjuk, Kediri seakan-akan menjadi kiblat kemajuan peradaban kawasan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kosakata-daerah-plat-ag-yang-wajib-dipahami-perantau\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">plat AG<\/a>. Sebab, Kediri memang menjadi wilayah paling maju nan modern di kawasan AG.<\/p>\n<p>Kediri dan Nganjuk sebagai wilayah yang bertetangga ini justru memperlihatkan perbedaan signifikan, bagai langit dan bumi. Setiap tahunnya, Kediri menjadi daerah yang semakin bersinar dibandingkan dengan daerah plat AG lainnya. Sementara Nganj<span class=\"selectable-text copyable-text\">uk masih gini-gini saja, belum ada sesuat menarik, ibarate masih bertahan dengan peteng dedet. Makanya sudah saatnya Nganjuk introspeksi diri supaya bisa seperti kabupaten tetangga, atau minimal bikin bangga warga sendiri, deh.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Masalah jalan r<span class=\"selectable-text copyable-text\">usak<\/span>, penerangan jalan minim, dan sampah<span class=\"selectable-text copyable-text\">\u00a0nggak kunjung selesai<\/span><\/strong><\/h2>\n<p>Infrastr<span class=\"selectable-text copyable-text\">uktur dan fasilitas umum di Nganjuk sangat menyedihkan, saking menyedihkannya warga sini sudah pasrah, menerima apa adanya. Sebab, tiap kali ada keresahan yang disuarakan pun nggak langsung ditangani<\/span>.<\/p>\n<p>Permasalahan dalam infrastr<span class=\"selectable-text copyable-text\">uktur yang paling terlihat adalah jalan dan lampu penerangan jalan yang dari dulu hingga sekarang belum ada perubahan. Di wilayah Nganjuk, banyak sekali jalanan rusak, <\/span>mulai dari jalan yang masih makadaman, aspal rusak, bergelombang, dan berlubang menjadi pemandangan umum. Hal tersebut diperparah dengan minimnya penerangan jalan. Saya katakan demikian sebab sepanjang jalanan yang ja<span class=\"selectable-text copyable-text\">uh dari permukiman penduduk banyak yang nggak memiliki penerangan jalan. <\/span><\/p>\n<p>Bel<span class=\"selectable-text copyable-text\">um lagi kabupaten ini memiliki <\/span>20 kecamatan dan beberapa daerahnya memiliki kont<span class=\"selectable-text copyable-text\">ur ketinggian yang berbeda-beda. Kondisi tersebut sangat berbahaya bagi pengguna jalan dan bisa jadi daerah rawan tindak kejahatan. <\/span>Berdasarkan pengamatan saya yang beberapa kali m<span class=\"selectable-text copyable-text\">uter-muter Nganjuk, masalah tersebut tampak di wailayah <\/span>Kecamatan Ngluyu, Kecamatan Loceret, Kecamatan Rejoso, Kecamatan Gondang, Kecamatan Sawahan, Kecamatan Sukomoro, dan Kecamatan Lengkong.<\/p>\n<p>Selain itu, masalah sampah juga tak kalah merisaukan. Sebab, hampir di seluruh wilayah Nganjuk memiliki permasalahan ini. Area perm<span class=\"selectable-text copyable-text\">ukiman, pemakaman, pinggir jalan, sungai, dan bahkan area persawahan tak luput dari sampah. Belum lagi pada bulan <\/span>Juli, Agustus, dan September yang anginya kenceng ini, sampah yang dib<span class=\"selectable-text copyable-text\">uang sembarangan morat-marit membuat kabupaten ini semakin kelihatan kumuh<\/span>.<\/p>\n<p>Beda halnya dengan Kediri, masalah-masalah di atas bisa dibilang hampir nggak ada. Sebagai wilayah paling semp<span class=\"selectable-text copyable-text\">urna di kawasan AG, Kediri cuma punya satu kekurangan menurut saya, yakni banyak jalan satu arah. <\/span><\/p>\n<p>Teman saya yang asli Kediri dan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tag\/kkn\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">pernah KKN<\/a> di Nganj<span class=\"selectable-text copyable-text\">uk pernah mengeluh soal PR besar kabupaten kelahiran saya ini. Dia heran karena <\/span>wilayah Nganjuk kota minim penerangan, padahal <span class=\"selectable-text copyable-text\">umumnya daerah kota ya bersinar (terang). Sebagai warga asli, saya cuma bisa diam, karena faktanya begitu<\/span>.<\/p>\n<h2><strong>Minim r<span class=\"selectable-text copyable-text\">uang publik, kalaupun ada kurang menarik<\/span><\/strong><\/h2>\n<p>Dari segi r<span class=\"selectable-text copyable-text\">uang publik, wilayah Nganjuk tergolong minim ruang publik. Ruang publik yang saya maksud di sini ya tempat hiburan warga seperti spot untuk bermain, mall, kulineran, taman, dan area rekreasi lainnya. Bahkan saking minimnya ruang publik di kabupaten ini, anak sekolah di sini seringnya diajak berwisata keluar kota untuk <\/span>kegiatan rekreasi sekolah. Sementara, pengenalan wilayah Nganjuk yang dilakukan oleh pihak sekolah hanya terbatas melak<span class=\"selectable-text copyable-text\">ukan kunjungan ke <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Museum_Anjuk_Ladang\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Museum Anjuk Ladang<\/a> atau perpustakaan daerah.<\/span><\/p>\n<p>Sebenarnya di Nganjuk juga ada ruang publik yang mirip dengan Kediri, tapi nggak menarik. Sebab, kondisinya banyak yang k<span class=\"selectable-text copyable-text\">urang terawat. Misalnya, di alun-alun dan taman pintar yang kini fasilitas permainan anaknya mulai rusak. <\/span>Selain permasalahan tersebut, sekalinya Nganjuk punya ruang publik yang cukup bagus, aksesnya s<span class=\"selectable-text copyable-text\">ulit dan promosinya kurang menarik sehingga banyak orang yang nggak tahu. Akibatnya, <\/span>keberadaan ruang publik di Nganjuk terkesan nggak berg<span class=\"selectable-text copyable-text\">una karena warga lebih suka dolan ke daerah tetangga.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Nganjuk memang nggak p<span class=\"selectable-text copyable-text\">unya &#8220;Surya&#8221; tapi sebenarnya punya potensi maju juga<\/span><\/strong><\/h2>\n<p>Paradoks umum yang berkembang di masyarakat kawasan AG adalah Kediri nggak bisa maj<span class=\"selectable-text copyable-text\">u kalau nggak ada Surya alias <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bandara-dhoho-kediri-selamat-karena-gudang-garam\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Gudang Garam<\/a>. Kehadiran perusahaan tersebut memberikan banyak manfaat untuk warga Kediri dan sekitarnya<\/span>.<\/p>\n<p>Berbeda halnya dengan Nganjuk, meskipun nggak p<span class=\"selectable-text copyable-text\">unya Surya, kabupaten ini sebenarnya punya potensi untuk maju juga. Potensi tersebut terlihat dari segi lokasi, kekayaan alam, dan kerja sama dengan beberapa perusahaan. <\/span><\/p>\n<p>Dari segi lokasi, Nganj<span class=\"selectable-text copyable-text\">uk menjadi daerah perlintasan penting di Jawa Timur. Kabupaten ini kerap menjadi lokasi transit transportasi darat dari berbagai daerah. Sementara dari segi kekayaan alam terlihat dari hasil pertanian dan perkebunan Nganjuk. Kalau dari kerja sama yang dilakukan pemerintah kabupaten dan beberapa perusahaan diwujudkan melalui KING (Kawasan Industri Nganjuk) yang memperlihatkan arah progresif.<\/span><\/p>\n<p>Akan tetapi dengan potensi sedemikian r<span class=\"selectable-text copyable-text\">upa, kabupaten ini konsisten menjadi wilayah yang dipandang nggak maju oleh banyak orang. Hal tersebut disebabkan potensi yang dimiliki kabupaten ini nggak didukung dengan infrastruktur yang memadai, pengelolaan sumber daya yang kurang optimal, kebijakan pemerintah yang kurang proaktif, dan kurangnya diversifikasi ekonomi di sini.<\/span><\/p>\n<p>Oleh karena it<span class=\"selectable-text copyable-text\">u untuk mewujukan potensi wilayah Kabupaten Nganjuk yang lebih maju diperlukan upaya kolektif dari pemerintah, masyarakat, hingga sektor swasta<\/span> dalam menghadapai dan menyelesaikan masalah yang ada di Nganjuk. Jika kerja sama kolektif ini bisa berjalan dengan baik, t<span class=\"selectable-text copyable-text\">ujuan Nganjuk semakin bersinar juga memiliki kemungkinan tercapai. Kalaupun nggak tercapai, minimal kabupaten ini bisa membuat warganya bangga dengan daerahnya sendiri.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Desy Fitriana<br \/>\nEditor: Intan Ekapratiwi<\/p>\n<p><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/nganjuk-kalah-dari-kediri-nggak-ada-makanan-kekinian-di-sini\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Sedihnya Tinggal di Nganjuk: Saking Nggak Ada Apa-apa, Mau Makan Makanan Kekinian Aja Harus Jastip dari Kediri<\/a>.<\/b><\/p>\n<p><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>cara ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kemajuan di Kediri membuat banyak warga Nganjuk merasa iri. Sebab, ada beberapa hal yang tak bisa dijumpai di Nganjuk tapi ada di Kediri.<\/p>\n","protected":false},"author":2448,"featured_media":296530,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[20486,13230,6470,9349],"class_list":["post-296462","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-kabupaten-kediri","tag-kabupaten-nganjuk","tag-kediri","tag-nganjuk"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/296462","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2448"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=296462"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/296462\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/296530"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=296462"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=296462"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=296462"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}