{"id":296461,"date":"2024-09-23T13:46:09","date_gmt":"2024-09-23T06:46:09","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=296461"},"modified":"2024-09-23T13:46:09","modified_gmt":"2024-09-23T06:46:09","slug":"kediri-yang-lupa-ingatan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kediri-yang-lupa-ingatan\/","title":{"rendered":"Kediri yang Lupa Ingatan: Tingkat Kegemaran Membaca Rendah, padahal Sejarah Kediri Erat dengan Literasi"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Membicarakan Kediri memang tak ada habisnya. Bagaimana tidak, lha wong Kediri ini terkenal wingit, lho. Salah satu mitos yang terkenal sampai detik ini ialah para presiden tak ada yang berani untuk datang ke Kediri, sebab jika ke Kediri maka tak lama kemudian jabatan itu akan lepas dari pundak mereka. Tapi itu, ya, mitos.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tulisan ini tidak hendak membahas mitos itu. Sungguh, bukan bidang saya. Dalam tulisan ini saya hendak mengingatkan Kediri\u2014khususnya pada pejabatnya\u2014bahwa rupanya hari ini Kediri lupa ingatan. Mengapa lupa ingatan? Begini&#8230;<\/span><\/p>\n<h2><b>Tingkat kegemaran membaca yang rendah<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Indeks Tingkat Kegemaran Membaca Masyarakat Kota Kediri terbaru menyatakan bahwa Kota Kediri menempati urutan ke-37 di Provinsi Jawa Timur. Sedangkan kita tahu, bahwa jumlah kabupaten\/kota se-Jawa Timur berjumlah 38. Tahu kan artinya? Ya. Kota Kediri menempati urutan kedua dari bawah untuk Indeks Tingkat Kegemaran Membaca.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lantas apa hubungannya dengan lupa ingatan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lupa ingatan berarti melupakan sejarah (atau bahkan tidak tahu?) bahwa Kediri memiliki peran penting dalam gelanggang literasi di Indonesia, bahkan sejak sebelum Indonesia ada, yaitu sejak zaman kerajaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejarah Kediri, mulai dari zaman kerajaan hingga zaman sebelum kemerdekaan erat kaitannya dengan gerakan literasi dan budaya baca-tulis. Selain itu Kediri juga melahirkan tokoh-tokoh yang memang sangat dekat dengan dunia literasi.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kerajaan Kediri berdiri dengan pondasi kesusastraan yang kuat<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika banyak kerajaan di Nusantara yang berdiri dengan bermandi darah, maka beda halnya dengan Kerajaan Kediri. Pada abad ke-11, Kerajaan Kediri berdiri dengan sederet karya sastranya yang dielu-elukan sebagai awal keemasan bagi kesusastraan Jawa Kuno.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karya sastra dari Kerajaan Kediri diakui dengan mutu sastra yang tinggi dan adiluhung. Sebut saja Mpu Sedah dan Mpu Panuluh dengan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Kitab Bharatayudha<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">-nya, Mpu Tanakung dengan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Kitab Wertasancaya-<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">nya yang berisi petunjuk cara pembuatan syair yang baik, atau kalau zaman sekarang bisa dikatakan bahwa Mpu Tanakung adalah role<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">model<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">kepenyairan Sastra Jawa kuno, dan sederet Mpu-Mpu lain yang namanya akan kalian temui di Mata Pelajaran sejarah.<\/span><\/p>\n<h2><b>Penerbit Tan Khoen Swie, penerbit ternama yang berdiri sebelum Balai Pustaka lahir<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi penggemar buku, tentu tidak asing dengan penerbit Balai Pustaka di Jakarta yang kerap dianggap penerbit buku legendaris di Indonesia. Penerbitan itu lahir tahun 1917 yang didirikan oleh pemerintah kolonial Belanda. Tapi 2 tahun sebelum itu, sudah ada, lho, penerbit beken yang memiliki pengaruh besar terhadap budaya literasi di Hindia-Belanda (sebelum Indonesia).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penerbit itu bernama Boekhandel Tan Khoen Swie yang terletak di Kota Kediri Jawa Timur. Ya, meskipun penerbit itu dibangun oleh orang Tionghoa yang besar di Indonesia, tetapi penerbit itu cukup sukses mencetak generasi pribumi yang dekat dengan literasi dan membentuk budaya baca-tulis di Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebelum nama Tan Khoen Swie masyhur, budaya di Indonesia masih berupa budaya lisan. Setelah kehadiran Tan Khoen Swie, budaya itu mulai bergeser menjadi budaya baca-tulis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita mengenal nama Ronggowarsito serta karya-karyanya hingga saat ini salah satunya karena jasa penerbit Tan Khoen Swie ini yang dulu menerbitkan buku-bukunya. Selain itu penerbit ini juga menerbitkan semacam modul atau panduan membaca untuk anak-anak yang ingin belajar membaca dengan judul \u201c<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Kitab A.B.C dan Batjaan oentoek Anak-Anak. Jang Hendak Beladjar Membatja dan Menoelis Bahasa Melajoe Hoeroef Olanda<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201d pada tahun 1929.<\/span><\/p>\n<h2><b>Akhir Perjalanan Tan Malaka<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Siapa yang asing dengan nama Tan Malaka? Seorang kesepian yang memiliki gelar Bapak Republik itu memiliki sejarah panjang dan kontribusi besar bagi Indonesia. Tentu dari bukunya yang terkenal, seperti <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMadilog\u201d, \u201cDari Penjara ke Penjara\u201d, <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">dan satu karyanya yang membuatnya dijuluki Bapak Republik, yaitu <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cNaar de Republik\u201d <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">atau <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMenuju Republik\u201d.<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perjalanan hidupnya yang berpindah-pindah, dari satu daerah ke daerah lain, dari satu negara ke negara lain cukup membuktikan bahwa sepak terjangnya tidak main-main. Namun siapa sangka, akhir perjalanan Tan Malaka rupanya di Kediri, di sebuah lereng Gunung Wilis, di sanalah ia beristirahat\u2014lebih tepatnya dipaksa istirahat oleh tentara\u2014untuk terakhir kalinya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Musso, dedengkot PKI Madiun yang ternyata anak seorang kiai dari Kediri<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tragedi PKI 1948 di Madiun sampai detik ini masih dipelajari oleh anak-anak sekolah. Dalam buku pelajaran pun jelas, bahwa pimpinan gerakan itu adalah Munawar Musso. Dari pelajaran itu pula, guru sejarah acap kali menjelaskan bahwa PKI itu sesat dan anti-Tuhan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi tunggu dulu. Kediri setidaknya perlu sadar diri bahwa ia rupanya turut menyumbang tokoh (yang katanya) anti-Tuhan, kafir, dan tetek<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">bengek<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">lainnya. Ya. Musso adalah seseorang yang dilahirkan di Pagu, Kediri pada 1897. Beliau merupakan putra dari Kiai Hasan Muhyi, seorang pelarian pasukan Diponegoro yang kemudian membikin pondok Kapurejo di Kediri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Musso sebenarnya memang bukan anak kandung Kiai Hasan Muhyi. Sebab diceritakan bahwa saat Kiai Hasan Muhyi menikahi seorang janda bernama Nyai Juru yang merupakan ibu dari Musso. Akan tetapi tak dapat disangkal, bahwa Kediri melahirkan tokoh yang cerdas sekaligus berbahaya sekaliber Munawar Musso ini.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kediri menjadi \u2018kawah candradimuka\u2019 bagi Bung Karno<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tak bisa membayangkan, andaikan seorang bocah bernama Koesno itu tak pernah mengenal Raden Soemosewojo di Kediri. Bisa-bisa Indonesia tak Merdeka di tahun 1945. Tapi ini cuma pengandaian saya saja yang bisa jadi keliru.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Koesno yang kala itu masih bocah kerap sakit-sakitan membuat ayahnya berikhtiar keras hingga bertemu dengan Soemosewojo di Pojok, Kediri. Saat itu Koesno bisa sembuh dengan dua syarat, yaitu mengganti namanya dan menjadi anak angkat dari Soemosewojo.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alhasil digantilah namanya menjadi Soekarno dan ia menjadi anak angkat dari Soemosewojo. Di Pojok itulah yang sekarang dikenal dengan <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Situs_Ndalem_Pojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Ndalem Pojok<\/a>, Soekarno kecil hingga remaja menghabiskan sebagian waktunya. Bahkan di Ndalem Pojok itu pula, tepatnya di bawah pohon kepuh, Soekarno banyak merenung terkait merenungi tentang dasar negara, sebelum ia dibuang ke Ende.<\/span><\/p>\n<h2><b>Pramoedya Ananta Toer ternyata juga berdarah Kediri<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sungguh keterlaluan kita jika tak mengenal nama Pramoedya Ananta Toer. Seorang sastrawan yang mendunia dengan karya-karya fenomenal, serta kisah hidup yang sungguh menyesakkan dada.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi siapa menduga, bahwa Pramoedya Ananta Toer memiliki darah asli dari Kediri. Bapak dari Pramoedya Ananta Toer, Raden Mastoer, merupakan anak dari Imam Bajuri yang merupakan seorang penghulu di wilayah Ngadiluwih, Kediri. Setelah dewasa barulah Raden Mastoer ini pindah ke Blora hingga akhir hayatnya di sana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, lagi-lagi Kediri memiliki andil besar dalam melahirkan tokoh-tokoh yang menyejarah. Bahkan sejak zaman kerajaan, penerbitan, Tan Malaka, Musso, Soekarno, hingga Pramoedya Ananta Toer.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari semua hal yang saya sebutkan di atas, tak ada satu pun yang tak menyentuh dunia baca-tulis alias dunia literasi. Tapi kok hari ini nyatanya Tingkat Kegemaran Membaca saja menduduki peringkat kedua dari bawah. Sungguh saru<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">sekali. Benar-benar lupa ingatan Kediri ini. Apa nggak malu sama sejarahnya sendiri? Peh<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">sulit.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Moh. Ainu Rizqi<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sisi-gelap-hidup-di-pedesaan-kabupaten-kediri\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Sisi Gelap Hidup di Pedesaan Kabupaten Kediri: Suasananya Membosankan, Tiap Hari Jadi Bahan Gunjingan Tetangga, Plus Penuh Jamet!<\/a><\/strong><\/p>\n<div class=\"jeg_ad jeg_ad_article jnews_content_inline_2_ads \">\n<div class=\"ads-wrapper align-center \">\n<div class=\"ads_code\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sejarah Kediri, mulai dari zaman kerajaan hingga zaman sebelum kemerdekaan erat kaitannya dengan gerakan literasi.<\/p>\n","protected":false},"author":2649,"featured_media":279494,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[6470,464,26192,4631,8999],"class_list":["post-296461","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-kediri","tag-literasi","tag-musso","tag-pram","tag-soekarno"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/296461","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2649"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=296461"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/296461\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/279494"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=296461"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=296461"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=296461"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}