{"id":296432,"date":"2024-09-24T11:58:55","date_gmt":"2024-09-24T04:58:55","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=296432"},"modified":"2024-09-25T10:35:55","modified_gmt":"2024-09-25T03:35:55","slug":"klaten-kota-kecil-yang-terlupakan-ditengah-pesona-jogja-solo","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/klaten-kota-kecil-yang-terlupakan-ditengah-pesona-jogja-solo\/","title":{"rendered":"Klaten, Kota Kecil yang Terlupakan di Tengah Pesona Jogja dan Solo"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Klaten berada di antara dua kota besar, yaitu <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-hal-yang-wajar-di-bali-tapi-nggak-lumrah-di-jogja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jogja<\/a> dan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-lagu-tentang-solo-yang-bikin-para-perantau-rindu\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Solo<\/a>. Sayangnya, banyak wisatawan yang sekadar lewat saja atau minimal cuma menjadi tempat transit saja.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Makanya, melihat kondisi ini, saya merasa miris. Terkadang, sulit bagi saya menjelaskan lokasi klaten ke orang-orang yang tidak tinggal di sini dan orang-orang dari luar Pulau Jawa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalahnya, dulu, informasi yang terserap oleh publik itu terlalu sedikit. Situasi menjadi lebih mendingan ketika media sosial sudah semakin ramai. Kini kita bisa dengan mudah menemukan destinasi wisata, tempat makan, dan berbagai kelebihan dari Klaten.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Wisatawan masih \u201cterpaku\u201d hanya kepada Jogja dan Solo<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu kondisi yang menjadi keprihatinan saya adalah masih banyak orang, terutama wisatawan, yang hanya terpaku kepada Jogja dan Solo. Maklum, keduanya unggul dari sisi wisata budaya dan kekayaan sejarah. Kondisi ini seolah-olah menjepit Klaten.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kondisi ini menjadi bayang-bayang yang sejak dulu menjadi masalah. Padahal, posisi Klaten sangat strategis. Lantaran berada di antara dua tujuan wisata, kabupaten ini mampu menawarkan hal yang berbeda.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski berada di antara dua destinasi wisatawan, Klaten memiliki keindahan yang tidak dimiliki Jogja dan Solo. Misalnya, Klaten memiliki potensi wisata alam yang unik dalam wujud umbul.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak umbul atau mata air alami, seperti Umbul Manten, Umbul Cokro, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/desa-kemudo-klaten-istimewa-karena-penuh-prestasi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Umbul Ponggok<\/a>, yang menawarkan pengalaman unik. Wisatawan bisa snorkeling di air tawar.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa umbul ini menawarkan kesegaran dan keindahan yang masih alami. Makanya, tempat-tempat itu jadi ideal untuk bersantai. Intinya, kabupaten ini mempunyai potensi besar di bidang wisata alam.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/klaten-kota-kecil-yang-terlupakan-ditengah-pesona-jogja-solo\/2\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em><strong>Baca halaman selanjutnya: Klaten punya potensi menjadi sebesar Jogja dan Solo.<\/strong><\/em><\/a><\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<h2><b>Kekayaan budaya dan tradisi di Klaten sebenarnya tidak kalah<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jogja dan Solo unggul karena branding mereka dalam hal wisata budaya dan tradisi. Namun sebenarnya, Klaten juga punya kekuatan yang sama. Ya sama-sama masih memegang adat Jawa yang kental, wisata budaya di sini tak kalah menarik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Wisatawan bisa menemukan kerajinan batik tulis di Klaten. Salah satunya adalah batik bayat yang terkenal. Kamu juga bisa menikmati suguhan seni karawitan dan wayang kulit.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, ada <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Yaqowiyu\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">tradisi Yaqowiyu<\/a> yang dinantikan setiap bulan Sapar. Yaqowiyu adalah festival tradisi yang diadakan di Jatinom, Klaten, yang diadakan setiap bulan Sapar, bulan kedua penanggalan Jawa. Penduduk setempat juga menyebutnya Saparan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ciri khas Yaqowiyu adalah penyebaran kue apem, penganan bundar terbuat dari tepung beras, kepada ribuan warga yang saling memperebutkannya. Hal ini menunjukkan bahwa Klaten punya dan selalu berusaha untuk mempertahankan kekayaan budaya. Ini potensi besar bagi sebuah kabupaten kecil.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Tantangan dan peluang<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meskipun memiliki banyak potensi, Klaten menghadapi beberapa tantangan terkait pertumbuhan dan perkembangan pariwisata. Tidak adanya promosi yang memadai dan kekurangan infrastruktur adalah salah satu masalah terbesar. Makanya banyak wisatawan tidak menyadari bahwa di antara Jogja dan Solo terdapat kota lain yang menarik dan indah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk mengatasi hal ini, pemerintah Klaten harus lebih proaktif dalam mengembangkan dan mempromosikan wilayahnya sebagai destinasi wisata independen. Untuk menarik perhatian wisatawan, pembangunan infrastruktur seperti jalan raya, transportasi, dan fasilitas yang memadai bisa menjadi langkah awal.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, promosi melalui media sosial dan kerja sama dengan agen pariwisata dapat meningkatkan citra sebagai kota wisata yang menarik. Branding yang terbentuk akan menjadi pilar kuat dalam proses promosi. Ingat, Klaten adalah kota yang dikenal memiliki <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/12-tempat-wisata-klaten-seru-untuk-liburan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">potensi pariwisata<\/a> yang luar biasa dan memiliki peluang besar untuk bangkit.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Najwa Salsabila<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sidowarno-klaten-desa-wisata-pewaris-wayang-kulit-kerbau\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Sidowarno Klaten, Desa Wisata Pewaris Wayang Kulit Kerbau<\/a><br \/>\n<\/strong><\/p>\n<div class=\"jeg_ad jeg_ad_article jnews_content_inline_2_ads \">\n<div class=\"ads-wrapper align-center \">\n<div class=\"ads_code\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a> ya.<\/em><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Klaten tidak lagi sekadar tempat &#8220;di antara&#8221; Jogja dan Solo. Kabupaten dan kota ini punya potensi wisata budaya dan alam yang sangat besar. <\/p>\n","protected":false},"author":2766,"featured_media":296604,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[115,8095,2284,17886,25573,8097],"class_list":["post-296432","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-jogja","tag-klaten","tag-solo","tag-umbul-besuki","tag-umbul-klaten","tag-umbul-ponggok"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/296432","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2766"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=296432"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/296432\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/296604"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=296432"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=296432"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=296432"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}