{"id":295864,"date":"2024-09-16T12:35:45","date_gmt":"2024-09-16T05:35:45","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=295864"},"modified":"2024-09-16T12:35:45","modified_gmt":"2024-09-16T05:35:45","slug":"kediri-memang-lebih-murah-ketimbang-di-surabaya-tapi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kediri-memang-lebih-murah-ketimbang-di-surabaya-tapi\/","title":{"rendered":"Bagi Mahasiswa Asal Surabaya yang Merantau ke Kediri, Catat 3 Hal Ini agar Kalian Tidak Menderita Selama (Setidaknya) 4 Tahun di Kota Ini"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa waktu lalu, bude saya di Surabaya memberi kabar soal anaknya yang baru diterima kuliah di Kediri. Sebagai keponakan yang sempat kuliah di kota itu, tentu saya ikut senang, mengucapkan selamat dan mendoakan semoga anaknya segera betah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi sayang sekali, kegembiraan itu tak bertahan lama. Saya terpaksa memberi bude sedikit catatan setelah mengetahui keterangannya tentang Kediri sebagai tempat kuliah anaknya. Melalui telepon WhatsApp, bude saya sempat bilang begini:<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSyukurlah, Zan, akhirnya bisa kuliah di Kediri juga. Soalnya kan, biaya hidup di sana itu terkenal murah. Terus pergaulan bebas kayake nggak sekacau di Surabaya karena di sana terkenal <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Daftar_pesantren_di_Kabupaten_Kediri\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">banyak pesantren<\/a>.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau kalian mahasiswa baru dari Surabaya yang saat ini merantau di Kediri, dan punya anggapan semacam itu, maka bacalah tulisan ini sebelum jauh tersesat. Soal biaya hidup murah dan ada banyak pesantren memang benar.<\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kediri-berubah-tak-lagi-aman-bagi-mahasiswa-perantau-karena-balapan-liar\/\"> <span style=\"font-weight: 400;\">Kejahatan jalanan<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> yang sempat menghajar saya pun sudah mulai hilang (setidaknya per artikel ini selesai ditulis).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, melihat kehidupan di Kediri sebatas itu saja jelas terlalu naif. Saya yang bertahun-tahun hidup di kota ini tahu betul sisi-sisi pahitnya. Kalian perlu waspada dan sedikit berkompromi supaya nanti aman dan tidak terlalu kecewa berat.<\/span><\/p>\n<h2><b>Banyak kos-kosan bebas di mana-mana<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai mahasiswa baru perantauan, hal pertama yang pasti kalian adalah kos-kosan. Perihal kos-kosan ini memang tidak terlalu sulit di Kediri, tinggal mau apa tidak tanya-tanya ke kating atau cari-cari di grup Facebook terkait. Begitu pun soal harga, sudah barang tentu murah meriah, tergantung jauh tidaknya jarak kos-kosan dengan lokasi kampus kalian.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi harap diingat, mencari kos-kosan di Kediri yang murah dan dekat dengan kampus saja nggak cukup. Pertanyaan kalian ketika mencari info ini kudu lengkap dan jelas. Kalimatnya kira-kira harus seperti ini: mencari kos-kosan yang murah, dekat dengan kampus A, dan tidak bebas bawa pasangan. Mengapa begitu?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentu saja karena di Kediri banyak sekali kos-kosan bebas. Bahkan buanyak yang lokasinya itu berdekatan dengan beberapa kampus. Rendah-tingginya harga pun nggak bisa dijadikan patokan apakah kos-kosan itu bebas atau tidak. Satu-satunya yang pasti, ya pakai cara tadi, bertanya dengan kata-kata yang jelas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oleh sebab itu, kalian perlu hati-hati mencari kos-kosan di Kediri. Jangan hanya mengutamakan lokasi dekat kampus atau harga murah. Pastikan betul kalau kos-kosan yang dipilih memang untuk mahasiswa berstatus lajang. Sebab kalau tidak, kalian nanti perlahan akan terpapar sama pergaulan bebas, atau ya minimal tidur kalian kalau malam akan terganggu dengan suara-suara yang jelas kurang menyenangkan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Banyak muda-mudi yang menjadi PSK<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Potensi kalian terpapar dengan pergaulan bebas bukan hanya karena kos-kosan bebas, tetapi juga karena keberadaan Pekerja Seks Komersial (PSK). Ya, di Kediri banyak orang-orang yang menyandang profesi itu. Bahkan, muda-mudi di kota ini juga banyak yang menyamar jadi PSK. Mulai usia yang masih SMP, SMA, sampai kuliah, semuanya ada.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya bisa tahu begituan karena di Kediri saya punya beberapa teman mahasiswa yang bekerja sebagai sopir taksi online. Mereka ini cukup sering mendapat order dari PSK. Sebagian bahkan sempat jadi sopir taksi pribadinya yang di-order via offline. Dan menariknya lagi, selama mereka mendapat customer PSK di beberapa kota di Jawa Timur, katanya Kediri adalah yang paling banyak mereka temui.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentu saya bukan bermaksud menganggap Kediri adalah kota yang paling banyak PSK-nya. Hanya saja, saya ingin ingatkan kembali, bahwa kalian sebagai mahasiswa baru perantauan beneran harus hati-hati saat mencari kos-kosan. Serius. Sebab para PSK ini, kebanyakan tinggal di kos-kosan bebas, termasuk yang lokasinya dekat dengan kampus tertentu.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kuliner Kediri memang murah, tapi&#8230;<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alasan utama mengapa Kediri menarik bagi mahasiswa perantauan adalah karena biaya hidupnya yang murah. Ini sudah tentu, harga komoditi di kota ini, terutama kuliner, memang kelewat murah ketimbang di Surabaya atau kota-kota sekitarnya. Bahkan seandainya kalian bukan tipe mahasiswa yang suka jajan, biaya makan tiga kali sehari di Kediri nggak sampai menghabiskan uang 20 ribu rupiah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi fakta pahitnya, nggak semuanya kuliner di Kediri itu cocok dengan lidah kalian yang dari Jawa Timur wilayah arekan. Seperti Surabaya, Mojokerto, atau sekitarnya. Makanan kayak nasi goreng, mie ayam, bakso, ataupun soto, itu cita rasanya selalu cenderung manis. Mau kalian beli di Kediri bagian mana pun, rasanya tetap sama; nggak ada yang cenderung asin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ya kalau kalian mau maksa biar terbiasa, sih, nggak apa-apa, toh ya 4 tahun itu bukan waktu yang sebentar. Tapi, kalau kalian tanya makanan apa saja yang saya beli saat awal merantau di Kediri, jawabannya ada tiga: nasi padang, makanan warteg, dan tentu saya ayam geprek. Ketiga kuliner itu aman, nggak yang manis-manis banget. Untuk yang lain saya nggak tahu, silakan buka TikTok biar lebih jelas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekali lagi, jangan berekspektasi tinggi-tinggi hidup di Kediri. Biaya hidupnya memang lebih murah ketimbang di Surabaya dan kota-kota sekitarnya. Tapi itu tetap nggak bisa jadi patokan kalian selalu bahagia di kota ini. Tetap ada hal-hal yang perlu kalian waspadai dan sedikit berkompromi biar tetap aman dan bahagia.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Achmad Fauzan Syaikhoni<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sisi-gelap-hidup-di-pedesaan-kabupaten-kediri\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Sisi Gelap Hidup di Pedesaan Kabupaten Kediri: Suasananya Membosankan, Tiap Hari Jadi Bahan Gunjingan Tetangga, Plus Penuh Jamet!<\/a><\/strong><\/p>\n<div class=\"jeg_ad jeg_ad_article jnews_content_inline_2_ads \">\n<div class=\"ads-wrapper align-center \">\n<div class=\"ads_code\" style=\"text-align: left;\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kalau kalian mahasiswa baru dari Surabaya yang saat ini merantau di Kediri, dan punya anggapan Kediri itu menyenangkan, tahan dulu.<\/p>\n","protected":false},"author":2221,"featured_media":279494,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[6470,26144,438,11035,405],"class_list":["post-295864","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-kediri","tag-kos-kosan-bebas","tag-kuliner","tag-prostitusi","tag-surabaya"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/295864","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2221"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=295864"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/295864\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/279494"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=295864"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=295864"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=295864"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}