{"id":295334,"date":"2024-09-10T14:48:22","date_gmt":"2024-09-10T07:48:22","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=295334"},"modified":"2024-09-10T14:48:22","modified_gmt":"2024-09-10T07:48:22","slug":"jadi-mahasiswa-jurusan-pendidikan-yang-hidup-di-desa-itu-berat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jadi-mahasiswa-jurusan-pendidikan-yang-hidup-di-desa-itu-berat\/","title":{"rendered":"Jadi Mahasiswa Jurusan Pendidikan yang Hidup di Desa Itu Berat: Dianggap Calon Guru, Moral Compass, dan Dianggap Serbabisa"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi mahasiswa yang hidup di desa, bagaimanapun adalah kebanggaan bagi saya, karena tak semua orang desa bisa kuliah. Lebih tepatnya, sih, kebanggaan sekaligus keberuntungan. Dan menjadi mahasiswa yang kuliah di jurusan pendidikan, kebanggaan tersebut makin berlipat. Sayangnya, ada harga yang harus saya bayar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pandangan masyarakat desa terhadap guru dan mahasiswa jurusan pendidikan membuat saya terheran-heran. Masyarakat desa sangat menghargai keberadaan guru. Mereka beranggapan bahwa guru adalah orang terhormat. Meski di luar sana banyak orang terhormat dan memiliki jabatan lebih tinggi, tetap saja mereka memandang guru di kasta yang berbeda.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal kenyataannya, kemampuan guru itu terbatas. Tidak semua hal bisa dilakukan oleh guru. Tapi, beban ini tetap harus saya terima.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>Suasana jadi awkward<\/strong><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski saya belum resmi menjadi guru, saya sudah dipanggil \u201cBu Guru\u201d di desa. Panggilan \u201cBu Guru\u201d yang selalu melekat. Dari panggilan itu, sudah terlihatkan bagaimana masyarakat desa membagi tingkatan komunikasi berdasarkan profesi. Biasanya disematkan pula untuk memanggil Pak\/Bu Dukuh, Pak\/Bu Lurah, Pak\/Bu RT. Bentuk rasa hormat masyarakat desa memang tidak perlu diragukan lagi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal yang membuat lebih heran lagi adalah teman seumuran menyelipkan bahasa <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Krama\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jawa Krama<\/a> dalam komunikasi, seolah-olah sedang berbicara dengan seorang guru. Komunikasi yang berlangsung menjadi aneh dan membuat risih karena tidak sesuai dengan konteks. Di sekolah memang menjadi guru, tapi kalo sudah di luar sekolah, saya menjadi seorang teman yang seumuran. Masa tiap hari harus merasakan suasana yang sama seperti di sekolah. Bertemu teman serasa bertemu orang tua atau wali murid.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dianggap \u201csudah resmi\u201d jadi guru juga lumayan memberatkan untuk saya. Contohnya, ungkapan guru dilarang telat dilontarkan pada saya saat telat rapat atau kegiatan lain. Menyebalkan betul saat mereka ngomong \u201cBu Guru kok telat\u201d. Langsunglah saya jawab, \u201cMending telat daripada nggak berangkat\u201d.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>Beginilah rasanya jadi mahasiswa jurusan pendidikan di desa<\/strong><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beban lain yang saya dapat sebagai calon guru adalah saya pasti jadi orang yang pertama kali diajukan untuk hal apa pun. Setelah mengajukan nama, pasti akan menjabarkan segala keterampilan yang dimiliki. Entah yang tulisannya bagus, rajin, percaya diri, kreatif, dan sejenisnya. Padahal saya justru ingin memberikan kesempatan untuk teman lain supaya bisa berkembang. Biar nggak itu-itu terus. Celakanya, yang lain pun nggak mau. Lagi-lagi, saya jadi korban.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi seperti itulah hidup di desa sebagai mahasiswa jurusan pendidikan, alias calon guru. Siap-siap menjadi andalan banyak orang. Masyarakat akan mengenalmu sebagai orang yang terhormat, paling tahu aturan, dan paling disiplin seperti di sekolah. Ya, setidaknya saya bersyukur karena masih ada orang yang memandang baik profesi keguruan.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Angelina Nawang<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jurusan-pendidikan-itu-memang-gampang-dan-sepele\/q\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jurusan Pendidikan Itu Memang Gampang dan Sepele kok, Beneran deh, Serius<\/a><\/strong><\/p>\n<div class=\"jeg_ad jeg_ad_article jnews_content_inline_2_ads \">\n<div class=\"ads-wrapper align-center \">\n<div class=\"ads_code\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sulit, beneran sulit.<\/p>\n","protected":false},"author":2756,"featured_media":264608,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13089],"tags":[21433,322,2093],"class_list":["post-295334","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kampus","tag-calon-guru","tag-desa","tag-jurusan-pendidikan"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/295334","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2756"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=295334"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/295334\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/264608"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=295334"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=295334"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=295334"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}