{"id":295302,"date":"2024-09-11T15:49:03","date_gmt":"2024-09-11T08:49:03","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=295302"},"modified":"2024-09-11T15:49:03","modified_gmt":"2024-09-11T08:49:03","slug":"menjadi-dosen-muda-tak-seindah-konten-di-tiktok","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/menjadi-dosen-muda-tak-seindah-konten-di-tiktok\/","title":{"rendered":"Menjadi Dosen Muda Tak Seindah Konten di TikTok!"},"content":{"rendered":"<p><em>Percayalah, jadi dosen muda itu tak seindah di konten TikTok<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Entah sejak kapan, tapi tidak bisa dimungkiri bahwa TikTok cukup memberi pengaruh dalam beberapa hal di hidup saya. Khususnya tentang referensi tempat wisata, outfit, atau hal-hal yang berbau wawasan lainnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Iya, saya suka sekali memantau tema-tema tersebut. Selain itu, saya juga menyimak konten dengan genre \u201ca day in my life\u201d. Bagi saya, konten tersebut cukup menghibur dan punya kesan \u201cmenambah wawasan\u201d. Sebab, dari sana, saya jadi tahu sedikit-banyak bagaimana macam-macam orang menjalani kehidupan dan pekerjaannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, dari genre konten tersebut ada satu tema yang saya kurang sepakat. Yakni, tentang dosen muda. Beberapa konten yang lewat di FYP saya, seakan menunjukkan betapa serunya menjadi dosen di usia muda. Saya langsung mbatin, \u201cHalah, ngapusi\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Harus diakui, meski sempat heboh di X dengan tagar #janganjadidosen, profesi ini memang masih cukup popular. Apalagi bagi warga kabupaten. Menjadi dosen adalah satu hal yang cukup diidamkan. Meski tentu saja, sama halnya dengan pekerjaan lainnya, bakal ada saja hal-hal yang kurang menyenangkan ketika dijalani.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Disclaimer, di usia yang belum genap 28 tahun ini, saya sudah dua tahun lebih menjadi dosen di sebuah kampus swasta dekat rumah saya. Dan perlu saya tegaskan bahwa keindahan menjadi dosen muda itu hanya ada di dunia konten semata.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>Gampang akrab dengan mahasiswa<\/strong><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mari kita bedah pelan-pelan. Kita mulai dari anggapan dosen muda itu gampang akrab dengan mahasiswa. Iya, jarak usia yang tidak terpaut jauh dengan mahasiswa memang membuat kami lebih mudah mencari tema obrolan yang yang relate dengan mahasiswa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Suasana kelas juga lebih terkesan riang-gembira ketika mahasiswa diajar oleh dosen yang masih muda ketimbang dosen-dosen senior yang terkesan serius banget itu. Hanya saja, hal ini malah bikin serba salah. Sebab, sekat hubungannya jadi tipis. Kami jadi agak susah kalau mau pasang wajah gahar untuk menunjukkan keseriusan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, kalau hal ini tidak diimbangi dengan menjaga jarak, bisa-bisa hubungan antara dosen dan mahasiswa bakal kebablasan. Dan dosen jadi kehilangan aura wibawanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kedua, sering dianggap masih mahasiswa. Untuk sebuah konten, hal ini memang terkesan lucu. Tapi, pada kenyataannya terasa agak menyebalkan. Bayangin saja, di awal-awal sebelum banyak dikenal, saya beberapa kali disuruh memindahkan motor di area parkir mahasiswa. Saat meminta bantuan administrasi pun sering ditanggapi dengan sewajarnya mahasiswa.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>Saling bergantian untuk salim<\/strong><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, selalu ada kemungkinan yang tidak diprediksi ketika menjadi dosen muda. Misalnya, kita tidak pernah tahu bakal mengajar siapa. Saya masih ingat, dua tahun lalu, ketika saya baru masuk kelas, ada mahasiswa yang nyeletuk, \u201clho, kok mas iki\u201d. Usut punya usut, mahasiswa tersebut adalah adik satu tingkat saya ketika di sekolah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pernah juga saya mengajar teman satu angkatan ketika ikut organisasi di zaman sekolah. Dan yang paling parah, saya pernah ngajar guru saya sendiri. Iya, guru SD saya dulu tiba-tiba menjadi mahasiswa saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lucunya, setelah menjadi mahasiswa saya, guru saya ini tiap ketemu saya jadi salim (cium tangan). Pun sebaliknya, saya juga demikian. Akhirnya tiap ketemu, kami saling bergantian untuk salim. Benar-benar nggak bisa diprediksi, sih.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Fyi, di kampus swasta memang banyak mahasiswanya yang sudah bekerja. Tidak sedikit mahasiswa yang sudah menjadi guru tapi kuliah lagi, entah karena belum sarjana atau mengejar sarjana pendidikan agar linier.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Teman saya yang menjadi dosen muda di salah satu kampus Mojokerto juga mengalaminya. Ia mengajar kampus yang jadi satu sama pondok. Sehingga mahasiswanya santri banget. Saking santrinya mereka jarang pegang HP. Sehingga komunikasi antara dosen dan mahasiswanya jadi serba terbatas.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>Beban sosial dosen muda<\/strong><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain hal-hal tidak terduga, ada dua hal paling menyebalkan menjadi dosen muda. Pertama adalah beban sosial. Iya, meski masih muda, tapi sebagai dosen bakal tetap \u201cdiharuskan\u201d memberikan contoh yang baik di kampus maupun di masyarakat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kedua, adalah gaji. Percayalah, gaji dosen muda di kampus swasta ini terbilang kecil. Meski beban ngajarnya tidak seberat guru, tapi tetap saja nominalnya bikin ngelus dada. Dan yang bikin lebih ngelus dada adalah anggapan \u201cDosen itu pasti kaya\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya selalu ngakak dengan anggapan itu. Ya, gimana, motor saya saja masih <a href=\"https:\/\/www.astra-honda.com\/product\/revo-x\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Honda Revo<\/a>, lho ini. Iya, motor khas pegawai koperasi itu. Kalau saya sudah kaya raya mah ke mana-mana nggak naik motor, tapi naik jet pribadi. Haisssh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Intinya menjadi dosen muda itu paket komplit. Ada sisi menyenangkan, ada pula sisi menyebalkannya. Sebab, kalau isinya cuma menyenangkan saja, hal semacam itu hanya ada di surga kelak. Takbirrr!<\/span><\/p>\n<p>Penulis: M. Afiqul Adib<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jadi-dosen-yang-nggak-bisa-nulis-itu-susah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jadi Dosen Itu Nggak Mudah, apalagi Jadi Dosen yang Nggak Bisa Nulis, Remuk!<\/a><\/strong><\/p>\n<div class=\"jeg_ad jeg_ad_article jnews_content_inline_2_ads \">\n<div class=\"ads-wrapper align-center \">\n<div class=\"ads_code\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Berat, Bolo.<\/p>\n","protected":false},"author":580,"featured_media":289090,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[16864],"tags":[26106,21569,921,34,5201],"class_list":["post-295302","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-profesi","tag-beban-sosial","tag-dosen-muda","tag-kampus","tag-mahasiswa","tag-tiktok"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/295302","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/580"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=295302"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/295302\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/289090"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=295302"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=295302"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=295302"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}