{"id":295283,"date":"2024-09-10T10:35:23","date_gmt":"2024-09-10T03:35:23","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=295283"},"modified":"2024-09-10T10:35:23","modified_gmt":"2024-09-10T03:35:23","slug":"jogja-era-2000-an-yang-dirindukan-warga-lokal","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jogja-era-2000-an-yang-dirindukan-warga-lokal\/","title":{"rendered":"Jogja Era 2000-an yang Dirindukan Warga Lokal: Nonton Gajah di Alkid hingga Blusukan di UGM"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya lahir dan besar di Jogja. Mau tidak mau, saya menyaksikan perubahan daerah ini dari waktu ke waktu. Ada perubahan yang semakin baik, tidak sedikit pula perubahan yang bikin kecewa.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tulisan ini tidak akan membahas kekecewaan-kekecewaan itu. Tulisan ini hanya ingin bernostalgia Jogja era 2000-an alias tahun 2000-2009. Percayalah Jogja di masa-masa itu begitu berbeda dengan saat ini.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Menonton gajah di Alun-Alun Kidul, hiburan murah meriah bagi warga Jogja<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cerita ini saya dapat dari teman saya yang tinggal di daerah selatan. Sewaktu kecil, usia awal masuk SD, dia kerap diajak menonton gajah di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sisi-gelap-alun-alun-kidul-jogja-yang-selama-ini-tidak-terdekteksi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Alun-Alun Kidul <\/a>alias Alkid. Iya, di dekat lapangan yang kini ramai dengan pedagang kaki lima dan becak-becak modifikasi itu dahulu ada kandang atau bangsal gajah milik Kraton Jogja.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dahulu, kandang gajah berada di sisi barat Alun-Alun Kidul atau bangunan yang kini menjadi <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Paksi Katon. Hampir setiap sore, sudut itu selalu ramai dengan warga sekitar yang hendak menonton gajah. Salah satunya, teman saya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sayangnya hiburan murah meriah itu harus hilang pada 2010. Gajah dipindahkan ke <a href=\"https:\/\/gembiralokazoo.com\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kebun Binatang Gembira Loka<\/a>. Konon, beratnya pemeliharaan menjadi salah satu sebabnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 Sekaten di Alun-Alun Utara<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekaten menjadi agenda tahunan yang banyak dirindukan warga Jogja, termasuk saya. Sekaten adalah <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">rangkaian kegiatan tahunan sebagai peringatan Maulid Nabi Muhammad yang diadakan oleh Keraton Jogja. Biasanya, di alun-alun utara digelar pasar malam dengan <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">berbagai wahana dan awul-awul alias pasar pakaian bekas.\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Iya, sebelum<a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/ragam\/jejak-prostitusi-di-alun-alun-utara-dekat-kraton-jogja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> Alun-Alun Utara<\/a> ditimbun dengan pasir dan dikelilingi dengan pagar besi, lapangan itu menjadi lokasi acara tahunan paling dinanti di Jogja.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#3 Tidak banyak jalan satu arah yang membingungkan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya masih ingat betul, di era 2000-an jalan satu arah di Jogja bisa dihitung dengan jari. Bahkan, Jalan Malioboro Jogja yang ikonik itu masih diberlakukan dua arah. Berbeda dengan saat ini, jalan satu arah di Jogja ada banyak sekali, apalagi di pusat kota. Jalan satu arah ini mau tidak mau membuat saya harus memutar ketika menuju suatu tempat.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tahu, niat pemerintah membuat jalan satu arah itu baik, demi menghindari kepadatan jalanan. Tapi, entahlah, terkadang saya hanya merindukan jalanan dua arah Jogja yang tidak membingungkan, walau agak kacau.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#4 Banyak angkutan umum yang siap melayani penumpang ke berbagai penjuru Jogja<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebelum TransJogja menguasai jalanan, bus umum dengan berbagai nomor jalur banyak mengaspal di jalanan. Rasa-rasanya saya pernah menjajal semua jalur bus itu. Bahkan, saya pernah naik bus baker, bus legenda yang mengangkut penumpang dari kota ke arah Kaliurang. Hanya bus umum arah Wonosari yang belum pernah saya tumpangi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di era itu, bus umum adalah andalan warga. Belum banyak keluarga memiliki kendaraan pribadi seperti sekarang ini. Selain itu, bus umum mampu memenuhi mobilisasi warga karena memiliki banyak jalur.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#5 Blusukan di UGM<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya masih ingat betul, sebelum kawasan UGM dipasang portal di sana-sini, kawasan ini bebas diakses oleh siapa saja. Bahkan, bus yang kerap saya tumpangi bisa berhenti tepat di depan Lapangan Pancasila (lapangan yang membentang di depan GSP UGM). Kalau sedang iseng, saya kerap turun di sana lalu eksplore <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/histori\/mengenang-ugm-tempo-dulu-yang-dekat-dengan-masyarakat\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kawasan UGM<\/a> yang banyak pohon itu. Rasanya begitu menyenangkan, bisa menikmati suasana hijau di tengah kota yang kian padat.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di atas beberapa hal yang saya dan beberapa kawan asli Jogja rindukan. Kami tahu betul, waktu tidak akan berputar dan kondisi Jogja seperti di atas akan sulit terulang. Itu mengapa dari waktu ke waktu kami hanya bisa bernostalgia dengan menceritakannya lagi dan lagi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Kenia Intan <\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/esai\/warga-sapen-adalah-warga-terbaik-di-jogja\/\"><b>Warga Sapen Adalah Warga Terbaik yang Pernah Saya Temui Selama Tinggal di Jogja<\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jogja era 2000-an yang banyak dirindukan warga: gajah di Alkid, sekaten, tidak banyak jalan searah, angkutan umum, blusukan di UGM. <\/p>\n","protected":false},"author":2401,"featured_media":295285,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[26084,18550,16681,115,13752,195],"class_list":["post-295283","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-26084","tag-alun-alun-kidul","tag-alun-alun-utara","tag-jogja","tag-sekaten","tag-ugm"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/295283","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2401"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=295283"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/295283\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/295285"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=295283"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=295283"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=295283"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}