{"id":295185,"date":"2024-09-09T12:27:22","date_gmt":"2024-09-09T05:27:22","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=295185"},"modified":"2024-09-09T12:27:22","modified_gmt":"2024-09-09T05:27:22","slug":"jurusan-bahasa-indonesia-adalah-jurusan-paling-menderita","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jurusan-bahasa-indonesia-adalah-jurusan-paling-menderita\/","title":{"rendered":"Jurusan Bahasa Indonesia Adalah Jurusan Paling Menderita oleh Stigma Negatif yang Lahir dari Ketidaktahuan Masyarakat"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai mahasiswa Jurusan Bahasa Indonesia, saya <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jurusan-bahasa-dan-sastra-indonesia-yang-sering-disalahpahami\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">sering dihadapkan pada pandangan negatif<\/a> dari masyarakat, teman-teman, bahkan saudara sendiri. Ketika saya menyatakan keinginan untuk mengambil jurusan ini, tanggapan yang saya terima cenderung kalimat-kalimat remeh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misalnya saya mendengar kalimat kayak gini:<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKenapa memilih Jurusan Bahasa Indonesia?\u201d atau \u201cKenapa tidak memilih jurusan lain yang lebih menjanjikan?\u201d\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalimat-kalimat di atas mampu mengecilkan hati saya. Selain itu, anggapan negatif masyarakat terhadap jurusan ini menggambarkan betapa kurangnya pemahaman mereka.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pengalaman ini mendorong saya untuk merenungkan alasan-alasan di balik pandangan remeh tersebut. Mengapa banyak masyarakat memandang sebelah mata Jurusan Bahasa Indonesia? Untuk itu, saya akan membahas beberapa persepsi yang sering menurunkan nilai jurusan ini.<\/span><\/p>\n<h2><b>Anggapan kuliah di Jurusan Bahasa Indonesia itu bakal gampang<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak orang memandang kuliah di Jurusan Bahasa Indonesia itu gampang. Apalagi kalau membandingkannya dengan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/fakultas-kedokteran-obsesi-orang-tua-akan-duit-banyak\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kedokteran<\/a>, teknik, psikologi, ekonomi, ilmu komunikasi, dan jurusan lainnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak orang percaya bahwa mempelajari Bahasa Indonesia secara akademis tidak membutuhkan banyak usaha. Anggapan itu muncul karena \u201chanya\u201d mempelajari bahasa yang setiap hari kita pakai. Namun, faktanya jauh dari itu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jurusan Bahasa Indonesia lebih melibatkan dan menyelidiki studi, seperti linguistik, sastra, budaya, dan pengajaran. Memahami bahasa secara akademis membutuhkan analisis mendalam dan kompleks. Makanya, sebenarnya, kamu tidak bisa memandang enteng jurusan ini.<\/span><\/p>\n<h2><b>Cuma jurusan cadangan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sering mendengar kalau Jurusan Bahasa Indonesia itu cuma \u201cjurusan cadangan\u201d. Anggapan ini muncul karena banyak mahasiswa yang masuk jurusan ini setelah gagal tembus di jurusan lain, khususnya yang lebih terkenal atau bergengsi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Anggapan ini merendahkan keinginan dan komitmen mahasiswa yang benar-benar tertarik pada bahasa dan sastra Indonesia. Banyak dari mahasiswa yang memilih jurusan ini bukan karena terpaksa, tetapi karena memang memiliki semangat dan keinginan kuat.<\/span><\/p>\n<h2><b>Jurusan Bahasa Indonesia itu cuma belajar saja<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak masyarakat yang menganggap bahwa Jurusan Bahasa Indonesia hanya mengajarkan tata bahasa dan penggunaan bahasa yang benar saja. Sebenarnya, jurusan ini mencakup bidang yang jauh lebih luas daripada hanya pengajaran bahasa.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kajian sastra, <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Linguistik\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">linguistik<\/a>, hingga analisis wacana adalah bagian dari studi ini. Pembelajaran bahasa hanya salah satu komponen dari kurikulum secara keseluruhan yang mencakup semua aspek.<\/span><\/p>\n<h2><b>Jurusan yang isinya mahasiswa tanpa minat atau kemampuan di bidang lain<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak yang beranggapan bahwa mahasiswa yang memilih Jurusan Bahasa Indonesia tidak memiliki minat atau kemampuan dalam bidang lain. Pandangan tersebut tidak hanya merendahkan, tetapi juga membuat mahasiswa yang menyukai bahasa dan sastra mendapat stigma negatif.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal, banyak mahasiswa yang memiliki minat yang kuat dan memilih bidang bahasa dan sastra ini secara sadar. Mereka benar-benar mencintai dan ingin mendalami studi ini.<\/span><\/p>\n<h2><b>Karier lulusan Jurusan Bahasa Indonesia itu terbatas<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu persepsi yang mengakar dengan kuat perihal Jurusan Bahasa Indonesia adalah terbatasnya peluang karier. Hal ini menjadi kekhawatiran utama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak orang percaya bahwa lulusan jurusan ini <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/profesi-guru-memang-tak-bikin-kaya-tapi-profesi-lain-juga-tidak\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">hanya dapat bekerja sebagai guru<\/a>. Padahal, lulusan jurusan ini bisa bekerja di banyak bidang. Termasuk di dalamnya adalah bekerja di media, penerbitan, jurnalisme, periklanan, hingga industri kreatif. Jurusan ini juga menghasilkan kemampuan untuk menganalisis, menulis, dan berkomunikasi. Tiga jenis kemampuan yang sangat dihargai di berbagai bidang pekerjaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi begitulah, anggapan remeh masyarakat terhadap jurusan ini masih sangat menantang bagi mahasiswa maupun lulusan. Namun, kita bisa mengubah perspektif tersebut dengan menunjukkan dedikasi, prestasi, dan kontribusi nyata di berbagai bidang.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jurusan ini bukanlah pilihan yang mudah. Sebaliknya, jurusan ini adalah jalan yang penuh dengan peluang untuk mengembangkan keterampilan intelektual dan profesional yang berharga. Mari kita bangga dengan keputusan kita dan menunjukkan bahwa Jurusan Bahasa Indonesia sangat penting untuk membangun masa depan negara.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Mega Puspita Sari<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mahasiswa-jurusan-sastra-nasibnya-paling-mengenaskan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Mahasiswa Jurusan Sastra Adalah Sengenes-ngenesnya Mahasiswa, Kerap Direndahkan hingga Disuruh Pindah Jurusan<\/a><br \/>\n<\/b><\/p>\n<p><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mahasiswa Jurusan Bahasa Indonesia selalu dianggap remeh dibandingkan jurusan lain. Sungguh sebuah penderitaan bagi para mahasiswa dan lulusan<\/p>\n","protected":false},"author":2754,"featured_media":295188,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13089],"tags":[1164,26075,26076,26077],"class_list":["post-295185","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kampus","tag-bahasa-indonesia","tag-jurusan-bahasa-indonesia","tag-pendidikan-bahasa-indonesia","tag-stigma-jurusan-bahasa-indonesia"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/295185","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2754"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=295185"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/295185\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/295188"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=295185"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=295185"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=295185"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}