{"id":294445,"date":"2024-09-03T12:41:21","date_gmt":"2024-09-03T05:41:21","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=294445"},"modified":"2024-09-03T12:41:21","modified_gmt":"2024-09-03T05:41:21","slug":"sosiologi-jurusan-yang-bikin-72-persen-lulusannya-menyesal","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sosiologi-jurusan-yang-bikin-72-persen-lulusannya-menyesal\/","title":{"rendered":"Fakta Kuliah di Jurusan Sosiologi, Sebuah Jurusan yang 72% Lulusannya Menyesal Mengambil Jurusan Tersebut"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada 2022 yang lalu, saya memutuskan untuk kuliah di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bukan-semarang-sebaik-baiknya-tempat-tinggal-di-jawa-tengah-adalah-purwokerto\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Purwokerto<\/a>. Tepatnya, saya kuliah di Universitas Jenderal Soedirman dan mengambil jurusan Sosiologi. Saya memutuskan merantau karena ingin merasakan pengalaman tinggal di luar kota.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, setelah kuliah di jurusan Sosiologi di Purwokerto saya menemukan beberapa fakta menarik. Salah satunya adalah <a href=\"https:\/\/www.kompas.com\/tren\/read\/2022\/11\/19\/203100765\/10-jurusan-kuliah-yang-paling-disesali-lulusannya-apa-alasannya-?page=all\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">72% lulusannya mengaku menyesal di jurusan ini<\/a>. Sebuah fakta yang sempat membuat saya ikut mempertanyakan keputusan ini. Nah, selain itu, ada beberapa fakta lain yang bisa saya bagikan.<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Kuliah di Sosiologi membuat saya kembali seperti anak kecil<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Belajar Sosiologi membuat saya seperti kembali jadi anak kecil. Anak kecil adalah makhluk yang sering banget bertanya mengenai semua hal. Hal inilah yang saya rasakan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada awal perkuliahan, saya merasa ilmu mengajak saya mempertanyakan hal-hal yang dulunya tidak saya pikirkan. Misalnya, di hari pertama perkuliahan, dosen langsung bertanya apa itu Sosiologi. Di pertemuan kedua, dosen bertanya apakah kucing dapat dikatakan sebagai anjing. Random banget.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada mahasiswa yang menjawab \u201ctidak bisa\u201d. Menurutnya anjing ya anjing dan kucing ya kucing. Dosen saya menjawab kalau hal itu mungkin saja terjadi. Kita menyebut hewan berkaki empat, mengeong, dan sukanya tiduran itu kucing karena konsensus bersama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, hal lain bisa terjadi. Misalnya ada konsensus menyetujui bahwa hewan berkaki empat, mengeong, dan sukanya tidur adalah anjing. Jadi, apa yang kita percaya merupakan hasil interaksi masyarakat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tepat pada saat itu, saya berpikir bahwa Sosiologi adalah tempat kita <a href=\"https:\/\/www.detik.com\/edu\/detikpedia\/d-5756783\/mengenal-sosiologi-pengertian-sejarah-ruang-lingkup-dan-ciri-cirinya\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">bebas mempertanyakan sesuatu yang sudah dipercayai masyarakat secara umum<\/a>. Makanya saya seperti kembali jadi anak kecil yang bertanya tentang sesuatu hal secara random.<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 Melihat sesuatu yang tidak terlihat<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sosiologi memberitahu saya bahwa ada sesuatu yang lain selain hal terlihat oleh kita. Tentu saja ini bukan mengenai hantu atau hal spiritual.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maksudnya, realitas masyarakat terbentuk dari hal-hal lain yang tidak nampak. Misalnya adalah norma, nilai, atau budaya. Hal-hal tersebut bakal nampak ketika sudah dilakukan oleh para individu dan individu bergerak mengikuti hal yang tidak terlihat tersebut.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masuk semester 3 dan 4 di Sosiologi, saya mempelajari teori feminis dan teori kritik. Dua mata kuliah ini memberikan contoh bahwa masyarakat bergerak mengikuti hal-hal yang tidak terlihat itu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika kuliah <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/argumen-kuli-dalam-obrolan-kesetaraan-gender-itu-basi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kesetaraan gender<\/a>, saya mempelajari bahwa mengapa perempuan diasosiasikan kepada sifat lembut, lemah, dan semacamnya. Sementara itu, laki-laki diasosiasikan kepada sifat yang lebih maskulin. Hal ini terjadi karena budaya patriarki yang sudah menjadi kultur.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat kuliah teori kritik, ada pembahasan mengenai konsumerisme dalam masyarakat modern. Lalu dosen menjelaskan bahwa konsumerisme terjadi karena adanya kebutuhan palsu yang diciptakan oleh industri-industri.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tujuannya supaya masyarakat terus membeli barang walaupun tidak membutuhkannya. Saat itu saya merasa bahwa banyak hal yang tidak kita lihat melalui mata. Celakanya, hal tersebut ternyata mengarahkan bagaimana kita hidup atau menentukan pilihan.<\/span><\/p>\n<h2><b>#3 Dunia lebih luas dari sekedar layar gadget<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dosen Sosiologi saya sempat menyatakan bahwa kekurangan dari anak zaman sekarang adalah mereka menilai dunia sekitar dari sebuah layar gadget. Tentu hal ini membuat saya memikirkan kembali apa maksudnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dosen saya lalu melanjutkan bahwa ketika kalian duduk di stasiun, apa yang kalian lakukan? Beberapa teman saya menjawab bermain hape. Mendengar jawaban itu, dosen Sosiologi saya menjawab bahwa kami sudah melewatkan sisi penting dari seorang sosiolog, yakni memperhatikan interaksi sekitar.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya baru mendapatkan makna dari perkataan dosen saya ketika liburan semester. Bahwa menjadi mahasiswa Sosiologi itu butuh 4 kecakapan yakni berbicara, menulis, berpikir, dan memperhatikan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal ini mengajarkan saya hal baru bahwa ketika duduk, semisal di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/minuman-coffee-shop-yang-sebaiknya-nggak-dipesan-jika-nggak-ingin-menyesal\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">coffee shop<\/a> sembari menghisap sebatang rokok, banyak hal yang saya lihat. Misalnya, sekumpulan interaksi antara pelajar yang pulang sekolah sembari membicarakan gurunya yang killer. Ada pula mahasiswa yang mengerjakan tugasnya sambil memikirkan bagaimana pacarnya sedang marah.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sosiologi memungkinkan saya mengamati dan mengobservasi hal-hal di atas. Inilah alasannya belajar Sosiologi mengubah saya menjadi lebih peka terhadap sekitar.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terlepas dari prospek kerja yang kurang jelas dan angka penyesalan yang tinggi dari para lulusan, saya bisa mendapatkan banyak hal yang menyenangkan. Menjadi mahasiswa dari jurusan Sosiologi yang kurang diminati tidak seburuk bayangan saya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kuliah bukan sekadar alat untuk untuk mendapatkan pekerjaan yang enak dan aman. Aktivitas ini juga bisa menjadi tempat produksi pikiran dan jati diri kita sendiri sebagai seorang manusia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: M Revanza Kyla Ananta<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jurusan-sosiologi-masih-lebih-unggul-dibanding-jurusan-filsafat\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Mahasiswa Jurusan Sosiologi Nggak Perlu Iri dengan Jurusan Filsafat yang Peluang Kerjanya Sempit<\/a><br \/>\n<\/b><\/p>\n<p><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sebanyak 72% lulusan jurusan Sosiologi mengaku menyesal. Sebuah fakta yang pada awalnya bikin saya sempat takut kuliah di jurusan ini. <\/p>\n","protected":false},"author":2751,"featured_media":294484,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13089],"tags":[16441,8526,10780,23904],"class_list":["post-294445","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kampus","tag-jurusan-sosiologi","tag-purwokerto","tag-sosiologi","tag-universitas-jenderal-soedirman"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/294445","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2751"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=294445"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/294445\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/294484"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=294445"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=294445"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=294445"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}