{"id":294236,"date":"2024-09-01T14:00:38","date_gmt":"2024-09-01T07:00:38","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=294236"},"modified":"2024-09-01T13:04:23","modified_gmt":"2024-09-01T06:04:23","slug":"alasan-lirik-lagu-bernadya-bisa-relate-ke-banyak-orang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/alasan-lirik-lagu-bernadya-bisa-relate-ke-banyak-orang\/","title":{"rendered":"Alasan Lirik Lagu Bernadya &#8220;Untungnya, Hidup Harus Tetap Berjalan\u201d Bisa Relate ke Banyak Orang"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jagad maya tengah terngiang-ngiang dengan lagu <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Untungnya, Hidup Harus Tetap Berjalan<\/span><\/i> <span style=\"font-weight: 400;\">yang dinyanyikan oleh Bernadya. Bahkan, saya yang saat ini tinggal di Australia juga sering mendengar lagu ini dinyanyikan kawan-kawan Indonesia di sini. Ada hal menarik dalam liriknya yang membuat saya berhenti sejenak dan berpikir, kenapa lagu ini terasa relate dengan semua orang? Rasanya lagu ini dekat sekali dengan siapa saja, terutama orang-orang seumuran saya yang tengah mengalami quarter life crisis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah berkali-kali saya dengarkan dan renungkan, saya menemukan filosofi eksistensialisme dalam lirik lagu tersebut. Lirik lagu yang dituliskan dengan amat jujur dan beresonansi dengan pendengar. Di tengah gempuran lirik-lirik era lagu puitis penuh metafora, Bernadya memilih untuk menuliskan lirik apa adanya dengan melodi yang mudah berputar di kepala. Per 1 September,\u00a0 Bernadya memiliki pendengar hingga 12,3M di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/6-rahasia-spotify-yang-nggak-diketahui-semua-orang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Spotify<\/a>.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mendengar lagu ini, saya terbawa untuk mengeksplorasi tema menghadapi dan menemukan makna di tengah kesulitan hidup. Setiap orang pasti memiliki momen terpuruk masing-masing yang secara universal bisa diungkapkan Bernadya. Dalam kondisi ini, kita sering kali merasa terpuruk oleh peristiwa yang tampak tidak adil atau tidak berarti. Namun, penting untuk tidak menyerah dan terus mencari kebaikan. Dengan menekankan rasa syukur atas kontinuitas hidup dan menggunakan akal sehat untuk mengatasi tantangan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Lagu Bernadya kental dengan eksistensialisme absurd ala Albert Camus<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Albert Camus adalah seorang filsuf Prancis terkenal dengan konsep &#8220;absurditas.&#8221; Ide dasar absurditas Camus adalah bahwa hidup tidak memiliki makna atau tujuan bawaan. Dia percaya bahwa kita hidup di dunia yang tampaknya acak dan tidak masuk akal, dan sering kali kita merasa seolah-olah tidak ada tujuan yang jelas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam The Myth of Sisyphus,<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ananda-badudu-dan-moralitas-palang-merah-albert-camus\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> Albert Camu<\/a>s menggunakan cerita Sisyphus dari mitologi Yunani sebagai metafora untuk kehidupan yang tampaknya tidak ada artinya. Diceritakan, Sisyphus dihukum untuk mendorong batu besar ke puncak gunung hanya untuk melihatnya terguling kembali ke bawah, dan dia harus memulai lagi tanpa akhir. Camus ingin menggambarkan, bagaimana meskipun usaha Sisyphus tampaknya sia-sia, dia bisa menemukan makna dengan menerima kenyataan absurdnya dan terus berjuang. Camus berargumen bahwa kita juga bisa menemukan kebahagiaan dan kepuasan dengan menghadapi tidak berartinya hidup dengan kesadaran dan keberanian, serta menciptakan makna kita sendiri melalui cara kita merespons situasi.<\/span><\/p>\n<blockquote><p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ada waktu-waktu<\/span><\/i><i><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><\/i><i><span style=\"font-weight: 400;\">Hal buruk datang berturut-turut<\/span><\/i><i><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><\/i><i><span style=\"font-weight: 400;\">Semua yang tinggal, juga yang hilang<\/span><\/i><i><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><\/i><i><span style=\"font-weight: 400;\">Seberapa pun absurdnya pasti ada makna,<\/span><\/i><\/p><\/blockquote>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penggalan lirik lagu Bernadya di atas yang mencerminkan upaya untuk menemukan makna meskipun dalam situasi yang tampak tidak masuk akal. Kita bergantung pada harapan akan kebahagiaan di masa yang akan datang untuk bisa bertahan dari ujian yang datang terus menerus. Hal inilah yang membuat kita resilien.<\/span><\/p>\n<h2><b>Eksistensialisme Jean-Paul Sartre: Kebebasan, Pilihan, dan Tanggung Jawab<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"><a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Jean-Paul_Sartre\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jean-Paul Sartre<\/a>, salah satu filsuf eksistensialis paling terkenal, sangat menekankan konsep kebebasan dan tanggung jawab. Menurut Sartre, &#8220;eksistensi mendahului esensi,&#8221; artinya manusia lahir tanpa tujuan atau makna bawaan, dan kita harus menciptakan makna tersebut melalui pilihan dan tindakan kita sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sartre menekankan bahwa manusia sepenuhnya bebas untuk membuat pilihan dalam hidupnya. Namun, kebebasan ini datang dengan tanggung jawab besar. Sebab, setiap keputusan yang kita buat membentuk siapa kita dan menentukan arah hidup kita.<\/span><\/p>\n<blockquote><p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Untungnya, bumi masih berputar<\/span><\/i><i><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><\/i><i><span style=\"font-weight: 400;\">Untungnya, ku tak pilih menyerah<\/span><\/i><i><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><\/i><i><span style=\"font-weight: 400;\">Itu memang paling mudah<\/span><\/i><i><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><\/i><i><span style=\"font-weight: 400;\">Untungnya, kupilih yang lebih susah<\/span><\/i><i><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><\/i><i><span style=\"font-weight: 400;\">Untungnya, kupakai akal sehat<\/span><\/i><i><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><\/i><i><span style=\"font-weight: 400;\">Untungnya, hidup terus berjalan<\/span><\/i><i><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><\/i><i><span style=\"font-weight: 400;\">Untungnya, ku bisa rasa<\/span><\/i><i><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><\/i><i><span style=\"font-weight: 400;\">Hal-hal baik yang datangnya belakangan<\/span><\/i><\/p><\/blockquote>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lirik ini mengingatkan saya pada gagasan Sartre tentang kebebasan dalam membuat pilihan. Bernadya menyadari bahwa mereka memiliki kebebasan untuk memilih antara menyerah atau melanjutkan hidup dengan semua tantangannya. Lalu, lirik tersebut menjelaskan jalan yang lebih sulit namun bermakna.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi Sartre, hidup secara autentik berarti hidup sesuai dengan nilai dan keputusan yang kita buat sendiri, tanpa menyerah pada tekanan eksternal atau harapan orang lain. Lirik bagian &#8220;Untungnya, kupakai akal sehat&#8221; menunjukkan pilihan untuk tetap rasional dan jujur pada diri sendiri dalam menghadapi kesulitan. Ini menunjukkan upaya untuk hidup secara autentik, sebuah prinsip inti dalam filsafat Sartre.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sartre juga membahas konsep angst atau kecemasan eksistensial, yang muncul dari kesadaran bahwa kita sepenuhnya bertanggung jawab atas pilihan dan tindakan kita. Ini dapat menciptakan rasa takut atau cemas karena kita menyadari bahwa tidak ada orang lain yang bisa disalahkan atas hidup kita. Namun, lagu ini menunjukkan bahwa meskipun ada kesulitan, ada rasa syukur karena telah membuat pilihan yang benar, yang mencerminkan pengakuan tanggung jawab pribadi sesuai dengan pandangan Sartre.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan menghubungkan lirik\u00a0 yang sederhana namun mendalam dengan konsep-konsep filosofis Camus dan Sartre, kita dapat lebih memahami bagaimana menghadapi ketidakpastian hidup dengan resiliensi. Pantas saja lagu <em>Untungnya, Hidup Harus Tetap Berjalan<\/em> karya Bernadya ini<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0viral dan banyak yang relate.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Novita Ibnati Awalia<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/lagu-sheila-on-7-nggak-semuanya-bagus-ada-juga-yang-cringe\/\"><b>Lagu Sheila On 7 Nggak Semuanya Bagus, Ada Juga yang Cringe<\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Lagu Berndaya &#8220;Untungnya, Hidup Harus Tetap Berjalan&#8221; viral. Liriknya membicarakan filosofi eksistensialisme yang relate ke banyak orang. <\/p>\n","protected":false},"author":2746,"featured_media":294248,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13084],"tags":[25972,25974,2682,10,25973],"class_list":["post-294236","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-musik","tag-bernadya","tag-hidup-harus-tetap-berjalan","tag-lagu","tag-lirik-lagu","tag-untungnya"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/294236","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2746"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=294236"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/294236\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/294248"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=294236"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=294236"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=294236"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}