{"id":294159,"date":"2024-09-02T16:38:13","date_gmt":"2024-09-02T09:38:13","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=294159"},"modified":"2024-09-02T16:38:13","modified_gmt":"2024-09-02T09:38:13","slug":"saya-bingung-sound-horeg-itu-sajian-hiburan-atau-hanya-caper","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/saya-bingung-sound-horeg-itu-sajian-hiburan-atau-hanya-caper\/","title":{"rendered":"Saya Bingung, Sound Horeg Itu Sajian Hiburan atau Hanya Caper?"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau bicara soal sound horeg, tentu ada yang kontra, dan ada yang kontra banget. Iya, trend adu sound ini memang cukup menggelisahkan banyak pihak. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Sound horeg adalah istilah yang merujuk pada sound besar dengan getaran yang mampu dirasakan oleh orang-orang di sekitarnya. Bukan cuma dirasakan secara fisik, tapi juga mental. Sampai to the bone pokoknya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di tempat saya, budaya ini bukan hanya sekadar untuk keperluan karnaval saja. Akhir-akhir ini mulai juga ada takbiran pakai sound horeg. Serius, takbiran yang harusnya penuh dengan nuansa islami itu, sekarang jadi pakai sound horeg.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski bukan tipe yang ugal-ugalan banget kayak di Malang, tapi karnaval sound horeg di daerah saya ini cukup menggelisahkan. Sebab, sudah cukup bikin rumah bergetar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kata mereka sih, hal ini juga dalam rangka promosi, atau ajang pamer sound mana yang paling horeg (menggelegar) agar makin banyak yang menyewa.<\/span><\/p>\n<h2><b>Hiburan macam apa, kok sampai mengganggu orang lain?<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sering mbatin, memangnya tidak ada hiburan lain kah, yang bisa dilakukan tanpa mengganggu orang lain? Melihara burung, jadi petani hidroponik tipis-tipis, atau apa gitu, lho.<\/span><\/p>\n<blockquote><p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAh, tapi ini negara bebas, kan yang sewa juga saya.\u201d<\/span><\/p><\/blockquote>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yah, sama halnya dengan orang merokok di jalan raya, penikmat sound horeg juga cukup susah untuk diberikan nasihat. Mereka selalu merasa bebas melakukan apa saja sebab, nyewa juga pakai uang sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal konsep kebebasan itu bukan kayak gitu, kan. Kalau kata <a href=\"https:\/\/uin-suka.ac.id\/id\/page\/detil_dosen\/197508162000031001-Fahruddin-Faiz\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Pak Faiz<\/a>, kebebasan itu bukan berarti boleh merampas kebebasan orang lain. Jadi, hanya karena merasa bisa nyewa sound, kemudian bebas diputar dengan sekeras-kerasnya. Itu jahat, dik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kenapa jahat? Ya, ibarat kami selalu punya hak menghirup udara segar, kami juga punya hak untuk mendapat suara yang layak didengarkan. Kecuali kalau lokasi sound horeg ada di rumah kalian, dan hanya bisa didengarkan oleh kalian sendiri. Itu silahkan saja.<\/span><\/p>\n<blockquote><p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cTapi karnaval sound horeg banyak kok yang nonton, artinya banyak yang suka\u201d.<\/span><\/p><\/blockquote>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Begini, percaya diri itu baik. Tapi terlalu berlebihan juga tidak baik. Karnaval desa itu sewajarnya memang akan banyak yang menonton. Alasannya sederhana: memang suka menonton karnaval. Itu saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Persoalan nanti kebetulan ada sound horeg di karnaval, itu di luar jangkauan kami. Bahkan misalnya di karnaval itu ada penampilan dari mantan yang paling susah dilupakan pun akan tetap ditonton oleh masyarakat. Jadi jangan GR dulu, kami datang untuk acara tahunan, bukan spesial menonton sound horeg Anda.<\/span><\/p>\n<blockquote><p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAh, kan cuma setahun sekali\u201d.<\/span><\/p><\/blockquote>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Justru karena cuma setahun sekali, jadi tolong dibuat yang memorable. Memangnya mau jadi kenangan yang sebentar tapi menyebalkan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, memangnya manfaatnya apa, sih? Apa benar ini hiburan? Jika iya, lantas siapa yang terhibur?<\/span><\/p>\n<h2><b>Sound horeg ajang cari perhatian<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sama seperti fenomena motor brong, saya tidak paham di mana sisi positifnya, saya hanya menganggap itu cuma ajang cari sensasi saja agar diperhatikan. Nah, jangan-jangan sound horeg juga demikian? Hanya upaya mencari perhatian saja? Jangan-jangan lho ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sedikit intermezzo, sebenarnya tidak cuma spesifik sound horeg saja, sound sistem yang disetel dengan suara kencang juga amat mengganggu dan menyebalkan. Di tempat saya, acara nikah juga sering ada yang pakai sound kencang-kencang. Bukan cuma ketika acara nikahnya saja, melainkan sebelum nikah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Iya, H-1 misalnya, sudah diputer musik keras-keras. Dari pagi sampai malam hari. Dan budaya ini masih ada sampai hari ini. Bahkan beberapa ada juga yang diselingi dengan karaoke malam-malam dengan yang nadanya kemana-mana itu. Iya, semacam karaoke dari pihak keluarga sebagai wujud hiburan. Entah hiburan buat siapa. Saya nggak paham<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pun saya juga belum nemu apa esensinya, tapi begitulah yang terjadi selama ini. Saya selalu menduga kalau sound horeg ini, ya ajang mencari perhatian saja. Tidak ada alasan lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saran saya, kalau memang ingin diperhatikan, lebih baik mencari hal lain, pasang baliho foto diri misalnya. Atau bikin partai sekalian agar diperhatikan banyak orang.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: M. Afiqul Adib<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pengalaman-nonton-langsung-sound-horeg-bikin-pusing-mual\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Pengalaman Nonton Langsung Sound Horeg: Bikin Pusing, Mual, dan Telinga Berdengung Berhari-Hari<\/a><\/strong><\/p>\n<div class=\"jeg_ad jeg_ad_article jnews_content_inline_2_ads \">\n<div class=\"ads-wrapper align-center \">\n<div class=\"ads_code\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Caper sih.<\/p>\n","protected":false},"author":580,"featured_media":292555,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[2830,2266,20079],"class_list":["post-294159","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-caper","tag-hiburan","tag-sound-horeg"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/294159","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/580"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=294159"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/294159\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/292555"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=294159"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=294159"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=294159"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}