{"id":293759,"date":"2024-08-29T13:49:27","date_gmt":"2024-08-29T06:49:27","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=293759"},"modified":"2024-08-29T13:50:53","modified_gmt":"2024-08-29T06:50:53","slug":"jalan-dipati-ukur-di-bandung-bener-bener-nggak-keurus","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jalan-dipati-ukur-di-bandung-bener-bener-nggak-keurus\/","title":{"rendered":"Jalan Dipati Ukur Bandung Bener-bener Nggak Keurus. Udah mah Semrawut, Kumuh, Ada yang Jualan Amer Pula"},"content":{"rendered":"<p><em>Jalan Dipati Ukur Bandung benar-benar bikin saya kaget, kok bisa ada jalan sekacau ini?<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Belakangan saya sedang sering-seringnya ke Bandung untuk sebuah job tambahan, kira-kira dua minggu sekali sejak tiga bulan lalu. Biasanya saya berangkat dari Subang saat minggu pagi dan pulang saat malam harinya. Angkutan yang saya gunakan untuk ke Bandung adalah WB Trans yang turun di perempatan Dago ruas jalan Juanda. Dari sana saya biasanya naik ojek online untuk menuju ke tempat meeting.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi di suatu pertemuan, saya tiba terlalu cepat, sekitar pukul sebelas siang. Sementara meeting baru akan dimulai jam satu. Karena masih lama, saya pun berinisiatif untuk berjalan kaki terlebih dahulu. Pikir saya, boleh juga nih jalan-jalan susur kota. Kebetulan saya masih belum tahu banyak soal Bandung. Dari pangkalan WB Trans, saya pun melangkah ke arah perempatan Dago. Lalu dari sana, saya berbelok ke arah kanan menyusuri jalan Dipati Ukur.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari sinilah cerita dimulai. Kota Bandung yang kata orang-orang indah dan memesona, nyatanya masih ada kawasan semacam Dipati Ukur ini, yang butuh bermacam-macam kata dengan konotasi negatif untuk mendefinisikannya. Pelajaran pentingnya adalah, terkadang, realita memang tak seindah ekspektasi. Jalanan Bandung yang saya pikir akan nyaman dan menyenangkan untuk dilewati pejalan kaki, ternyata tidak saya temukan di ruas Dipati Ukur ini.<\/span><\/p>\n<h2><b>Trotoar Jalan Dipati Ukur yang, duh<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal pertama yang saya soroti dari jalan ini adalah trotoarnya: sempit, kumuh, dan semrawut. Sudah gitu, dari perempatan Dago sampai Monumen Perjuangan Rakyat, trotoarnya hanya ada di sisi kanan saja. Yang kiri nggak ada. Yang ada hanya bibir toko yang menjulur ke jalan dan banyak terisi oleh motor atau mobil yang diparkirkan seenak jidat. Kalau Anda berjalan di sisi kiri jalan ini sudah dipastikan yang anda pijak adalah aspal dan anda harus senantiasa waspada tau-tau ada kendaraan yang menyambar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Trotoar yang ada di sisi kanan pun bukan tanpa masalah. Meski sudah direnovasi (mungkin sekitar dua atau tiga tahun lalu), trotoar di sisi kanan ini menurut saya belum bisa dikatakan nyaman untuk dilewati. Sebab selain sesekali ada gerobak PKL yang mangkal, terkadang ada juga abang-abang ojek online yang sedang istirahat dan memarkirkan motornya di trotoar. Bahkan saat itu saya sempat menjumpai entah tuna wisma atau ODGJ dan motor gerobak sampah roda tiga yang menghadang sehingga saya harus melipir dulu ke aspal agar dapat lewat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semrawutnya trotar di Jalan Dipati Ukur ini terlihat makin menjadi saat sudah melewati kampus ITHB. Mau yang kanan atau yang kiri, keduanya benar-benar rungseb dan tak beraturan. Gerobak PKL yang menjamur, toko-toko segala rupa dan parkiran travel yang melidah sampai ke aspal benar-benar tak memberikan kesempatan bagi saya untuk berjalan di trotoar. Pokoknya dari titik ini sampai Monumen Perjuangan, saya benar-benar full berjalan di aspal. Astaga.. semrawut banget, asli.<\/span><\/p>\n<h2><b>Pohon-pohon besar malah digunakan untuk buang sampah<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tuturan ini sejalan dengan artikel di Terminal beberapa saat lalu tentang <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tiap-sudut-kota-bandung-romantis-kecuali-simpang-dago\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">jalanan Dago<\/a> yang semrawut dan nggak ada romantis-romantisnya. Jalanan ini pun demikian. Bahkan mungkin ada banyak di ruas-ruas jalanan Bandung lainnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Jalan Dipati Ukur ini, terutama yang sudah mendekati Jalan Surapati di selatan, ada banyak sekali sampah yang dibuang di bawah pohon-pohon besar dan rimbun yang akarnya sudah banyak merusak struktur fondasi trotoar itu. Saya menduga sampah-sampah berasal dari PKL yang mangkal dan menempati bangungan semi permanen di pinggir-pinggir jalan dan pejalan kaki yang lewat.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Ada warung box di pinggir jalan yang jualan amer<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau pake ujar-ujar populer netizen: \u201cSejauh ini, ini yang paling jauh.\u201d Demikianlah tanggapan saya atas fenomena ini. Betapa tidak. Kios-kios kecil yang banyak dihiasi mural\/graffiti yang gambarnya berantakan itu, di jalanan ini banyak dipakai buat jualan amer dan minuman sejenis lainnya. Beberapa saat yang lalu <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/menjamurnya-toko-miras-di-bandung-begitu-meresahkan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">artikelnya rilis<\/a> juga di Terminal Mojok.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penjual miras di Jalan Dipati Ukur ini saya temukan di ruas jalan Singa Perbangsa yang mengarah ke Taman <a href=\"https:\/\/travel.kompas.com\/read\/2024\/03\/15\/070400927\/museum-monumen-perjuangan-di-bandung--harga-tiket-dan-jam-buka\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Monumen Perjuangan<\/a>. Toko-toko ini tadinya sekilas saya kira berjualan jamu sebagaimana sering terlihat di daerah-daerah lainnya, tapi kok botolnya kayak beda, kayak ada botol yang merah-merah. Dan benar saja, itu amer! Bejat!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi sebagian orang mungkin ini agak berlebihan. Tapi bagi saya yang hanya seorang pendatang dan tidak mendapati hal-hal demikian di kota asal saya sangatlah mendistorsi pandangan manis saya soal Bandung. Ternyata di balik gemerlapnya Masjid Al Jabbar atau menyenangkannya Masjid Raya Kota Bandung yang halamannya terhampar rumput sintetis itu, ada sisi-sisi yang mencengangkan juga dari Bandung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Demikianlah potret yang dapat saya tuliskan tentang Jalan Dipati Ukur ini. Sebenarnya melihat Kota Bandung hanya dari jalan ini adalah sebuah sudut pandang yang teramat sempit. Tapi kalau dipikir secara induktif, jangan-jangan nggak cuma di jalan ini aja yang semrawut begini?<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Muhamad Fajar<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jalan-di-bandung-yang-berbahaya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">5 Jalan di Bandung yang Berbahaya, Hati-hati Berkendara di Sini!<\/a><\/strong><\/p>\n<div class=\"jeg_ad jeg_ad_article jnews_content_inline_2_ads \">\n<div class=\"ads-wrapper align-center \">\n<div class=\"ads_code\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jalan Dipati Ukur Bandung benar-benar bikin saya kaget, kok bisa ada jalan sekacau ini?<\/p>\n","protected":false},"author":2680,"featured_media":293958,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[141,25933,4042,1458],"class_list":["post-293759","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bandung","tag-jalan-dipati-ukur","tag-miras","tag-trotoar"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/293759","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2680"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=293759"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/293759\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/293958"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=293759"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=293759"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=293759"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}