{"id":293720,"date":"2024-08-27T12:32:30","date_gmt":"2024-08-27T05:32:30","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=293720"},"modified":"2024-08-27T12:32:30","modified_gmt":"2024-08-27T05:32:30","slug":"aparat-penegak-hukum-kerja-untuk-siapa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/aparat-penegak-hukum-kerja-untuk-siapa\/","title":{"rendered":"Aparat Penegak Hukum Harusnya Cinta Damai, Bukan Memukul Rakyat yang Sedang Aksi!"},"content":{"rendered":"<p><em><span style=\"font-weight: 400;\">Bayangkan. Sebuah negara demokrasi, memukul mundur para rakyatnya yang melayangkan kritik pada penguasa yang mengobrak-abrik sistem. Aparat penegak hukumnya memukul orang-orang yang harusnya mereka lindungi, dan menjauhkannya dari orang-orang yang harusnya diadili.<\/span><\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak ada yang menjamin bahwa kamu bukanlah orang yang kejam melainkan dirimu sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kau bisa berbusa-busa bahwa kau cinta damai, menegakkan rasa cinta di dunia, serta jadi pelindung sesama. Tapi ketika pentung kau ayunkan pada orang yang harusnya tak kau pentung, menembak peluru yang harusnya tersimpan, dan menghajar orang yang harusnya kau lindungi, tak ada lagi yang percaya kau cinta damai, penegak cinta, atau apalah itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ya, betul, saya sedang ngomongin aparat yang sedang jadi sorotan pada aksi kemarin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tidak punya kebencian pada aparat penegak hukum. Tidak. Jadi tulisan ini tidak didasari oleh rasa benci, sedikit pun. Hanya saja, kita perlu sepakat bahwa tindakan represif yang dilakukan oleh aparat penegak hukum itu sudah kelewat batas. Bahkan kata represif, menurut saya, terlalu halus. Tapi, kalian tahu lah maksud saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin ada yang bilang, bahwa massa aksi kemarin berlebihan. Jadi, tindakan represif perlu dilakukan. Tapi, bisakah tindakan seperti melempar gas air mata dan mengenai sipil itu dibenarkan? Bisakah kalian membenarkan aparat yang menghajar massa aksi begitu keras hingga dilerai oleh sesama aparat sendiri?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apakah kalian betul-betul yakin mau membela orang-orang yang bertindak kelewat batas?<\/span><\/p>\n<h2><strong>135<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kanjuruhan itu belum lama terjadi. Lukanya masih menganga, darahnya masih menetes. Dan Kanjuruhan, adalah contoh terbaik aparat melewati batas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalian bisa berbusa-busa bilang, polisi hanya menertibkan, mereka hanya beraksi atas reaksi yang ada. Tapi ketika sudah jelas ada aturan yang dilanggar, jelas bahwa banyak kejanggalan atas reaksi aparat, apakah tindakan mereka masih bisa dibenarkan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apakah reaksi haruslah sekeras itu?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rasanya agak sulit bagi saya untuk membela atau mencari alasan untuk memahami polah aparat penegak hukum di masa-masa ini. Kanjuruhan, lalu penanganan aksi ricuh belakangan ini, rasa-rasanya sudah jadi nail in the coffin. Harus ada perbaikan. Tapi seperti apa, ya jelas saya tidak tahu dan tidak mau juga memberi tahu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maksudnya, ya, sudah banyak contoh kasus. Belajar sendiri kan bisa. Tidak bisa belajar itu satu hal, tapi kalau tidak mau belajar, itu hal lain lagi.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Aparat penegak hukum kerja untuk siapa?<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Melihat banyak kekerasan para aparat selama aksi ini, saya jadi bertanya-tanya, sebenarnya mereka ada untuk siapa?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang berunjuk rasa itu para rakyat yang sedang meluapkan kekecewaan pada pemerintah. Mereka tentu saja punya hak untuk itu. Rakyat punya hak penuh untuk meluapkan kebahagian, menyatakan kekecewaan, dan menuntut apa yang dijanjikan pada mereka. Sebab itulah hidup di negara demokrasi, semua berhak bersuara.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi jika hak itu diambil, dan yang bersuara dipopor senjata, dipukul pentung, lalu dimasukkan jeruji, bagian mananya yang demokrasi?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bayangkan. Sebuah negara demokrasi, memukul mundur para rakyatnya yang melayangkan kritik pada penguasa yang mengobrak-abrik sistem. Aparatnya memukul orang-orang yang harusnya mereka lindungi, dan menjauhkannya dari orang-orang yang harusnya diadili.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>Batas-batas sudah diterabas<\/strong><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dulu, saya pesimis dengan keadaan. Boro-boro membaik, tidak makin hancur saya sudah bagus. Tapi kini kita punya harapan. Rakyat bisa bersatu, rakyat bisa bergerak, dan rakyat bisa mengubah banyak hal. Saya tak rela jika harapan-harapan ini hancur karena aparat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, lagi-lagi, batas-batas sudah ditembus. Beberapa tahun lalu, <a href=\"https:\/\/megapolitan.kompas.com\/read\/2020\/12\/01\/22452031\/penembakan-mahasiswa-universitas-halu-oleo-brigadir-am-divonis-4-tahun\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">peluru tajam sudah terlepas<\/a>. Batas sudah ditembus. Dan kini, mereka kembali menunjukkan bahwa mereka bisa menembus batas karena tak ada konsekuensi yang berarti.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mengulangi kalimat pembuka saya, tidak ada yang menjamin kamu kejam kecuali dirimu sendiri. Tak akan ada satu orang pun yang percaya kamu tidak kejam, jika yang kamu lakukan tiap hari adalah sebaliknya.<\/span><\/p>\n<p>Anak ngaji kena gas air mata. Mahasiswa kehilangan mata akibat kena batu. Cinta damai apanya.<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/aktual\/cak-nun-benar-perihal-jokowi-firaun\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Ternyata Cak Nun Benar Perihal Jokowi Firaun<\/a><\/strong><\/p>\n<div class=\"jeg_ad jeg_ad_article jnews_content_inline_2_ads \">\n<div class=\"ads-wrapper align-center \">\n<div class=\"ads_code\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<div class=\"jeg_pagelinks jeg_pagination jeg_pagenav_1 jeg_alignleft no_navtext\"><\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bagaimana bisa aparat penegak hukum malah menjauhkan rakyat dari yang seharusnya mereka adili? Mereka kerja untuk siapa?<\/p>\n","protected":false},"author":777,"featured_media":293722,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[3287,1028,4075,2504],"class_list":["post-293720","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-aksi","tag-aparat","tag-gas-air-mata","tag-polisi"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/293720","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/777"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=293720"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/293720\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/293722"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=293720"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=293720"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=293720"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}