{"id":293614,"date":"2024-08-26T15:50:42","date_gmt":"2024-08-26T08:50:42","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=293614"},"modified":"2024-08-27T14:05:12","modified_gmt":"2024-08-27T07:05:12","slug":"kabupaten-blora-bukan-sebatas-horor-hutan-jati","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kabupaten-blora-bukan-sebatas-horor-hutan-jati\/","title":{"rendered":"Kabupaten Blora Bukan Sebatas Horor Hutan Jati, Ini 3 Sisi Positif Blora, Kabupaten Indah yang Pesonanya Begitu Indah"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kabupaten Blora bisa dikatakan sebagai daerah underrated di Jawa Tengah. Nggak banyak orang yang tahu kabupaten yang berbatasan langsung dengan Provinsi Jawa Timur ini. Kalau bukan karena kilang minyak di Cepu, mungkin orang asli Blora akan kesulitan menjelaskan daerah asalnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang yang masih awam pasti akan bertanya-tanya soal hal yang khas dari Blora atau potensi kabupaten tersebut. Sayangnya, kalau kamu mencari hal-hal yang menarik soal Blora, kamu malah akan menemukan kisah-kisah horor hutan jati di Blora. Kabupaten ini pun sebenarnya menyimpan banyak potensi. Hanya saja kini banyak warga aslinya yang memilih kuliah ke luar kota dan menetap di sana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya pernah datang juga ke Kabupaten Blora untuk meneliti kehidupan masyarakat di sana, khususnya yang bergantung pada keberadaan hutan. Jika dibandingkan dengan kabupaten lain yang berbatasan langsung dengannya, Blora masih banyak kekurangannya. Sebut saja kondisi jalannya yang sangat rusak dan makin berbahaya kalau hujan serta penguasa daerah punya pengaruh yang sangat besar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, posisi Blora yang berada di tengah-tengah dan dikelilingi daratan membuat kabupaten ini seakan-akan &#8220;nggak ada apa-apa&#8221;. Blora yang nggak punya laut dan separuh daerahnya dikepung oleh hutan jati membuat pilihan hiburan bagi warganya terbatas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi di balik itu semua Blora juga menyimpan di sisi positif. Sisi positif yang akan saya sebutkan tentu bukan minyak atau hutan jatinya. Memang sih Blora punya kedua hal ini. Tapi seberapa besar peran minyak dan hutan jati dalam memberikan kemakmuran bagi rakyatnya? Paling-paling yang untung pemerintah atau korporasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kembali lagi ke awal, inilah tiga sisi positif Blora yang bisa menjadi potensi daerahnya.<\/span><\/p>\n<h2><strong>#1 Kebudayaan masih dilestarikan di Kabupaten Blora<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berapa banyak daerah di Indonesia yang masih mempraktikkan kebudayaan lokalnya secara rutin dan masif? Warga Blora sampai sekarang senantiasa menjaga kebudayaan mereka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu tradisi yang masih dilaksanakan praktiknya oleh warga Blora adalah sedekah bumi, atau dalam bahasa lokalnya disebut\u00a0 gas desa. Walaupun namanya gas desa, bukan hanya warga desa, melainkan juga warga di pusat kota Blora ikut memeriahkannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tradisi gas desa ini dilaksanakan secara\u00a0 serentak di Blora dengan tiap desa yang menampilkan budaya-budaya khas Blora. Dalam tradisi gas desa ini turut dipertunjukkan seni barongan dan tayub Blora yang terkenal itu. Selain itu, warga di tiap desa juga akan open house dan menyajikan masakan yang bermacam-macam untuk menjamu tamu dari desa tetangga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gas desa dengan segala praktik kebudayaan di dalamnya semakin merekatkan relasi sosial masyarakat Blora. Jadi, nggak perlu kaget kalau menemukan fakta bahwa warga Blora sangat solid, bahkan kenal dekat satu sama lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sisi positif yang satu ini bisa menjadi nilai jual Blora di bidang pariwisata. Nggak semua daerah di Indonesia punya kebiasaan ini. Pasti akan ada banyak turis yang tertarik menyaksikannya.<\/span><\/p>\n<h2><strong>#2 Makan murah dan nggak nyampah<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jangan bilang harga makanan di Jogja murah kalau belum pernah ke Blora. Blora adalah another level of makanan murah sekaligus nggak nyampah. Jadi, selain ramah di kantong, ramah lingkungan juga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Blora\u00a0 adalah daerah agraris yang masyarakatnya banyak menanam tanaman pangan. Warga turut memanfaatkan keberadaan hutan jati dengan mengambil daunnya untuk dijadikan alas makan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau kita makan sate atau pecel Blora, pesanan kita nggak akan disajikan di atas daun pisang, kertas minyak, atau plastik. Warga Blora memakai daun jati yang dijadikan pincuk untuk meletakkan makanan. Daun jati yang dijadikan alas makanan ini tentu lebih mudah terurai dibandingkan kertas minyak atau plastik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Harga makanan di Blora pun sangat terjangkau. Hampir kehabisan uang\u00a0 saat akhir bulan dan hanya tersisa Rp5 ribu pun kita tetap bisa beli makan. Makanan yang sangat murah dan menjadi favorit seluruh kalangan di Blora adalah pecel yang ditambah dengan tempe mendoan.<\/span><\/p>\n<p><strong>Baca halaman selanjutnya<\/strong><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kabupaten-blora-bukan-sebatas-horor-hutan-jati\/2\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em>Nggak akan kepanasan<\/em><\/a><\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<h2><strong>#3 Teduh, keluar rumah nggak akan kepanasan<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mengingat setengah wilayah Blora masih ditumbuhi oleh pepohonan dan hutan, nggak mengherankan kalau kota ini jadi teduh banget. Di kecamatan-kecamatan selain pusat kotanya, bisa kita lihat bahwa rumah-rumah warga beraglomerasi. <a href=\"https:\/\/www.detik.com\/edu\/detikpedia\/d-6144642\/pengertian-aglomerasi-beserta-contohnya-di-indonesia\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Aglomerasi<\/a> ini nggak luas-luas banget. Tapi pengelompokkan antara satu permukiman dengan permukiman lain lumayan jauh karena langsung dikelilingi oleh hutan lagi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau kita keluar rumah saat siang hari, entah itu dengan kendaraan maupun berjalan kaki, kita nggak akan begitu merasakan panas matahari menyengat kulit. Semisal Blora menciptakan walkable city, kota ini bakal jadi combo terbaik yang memanjakan pejalan kaki.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Blora boleh dibilang underrated, kurang dikenal, atau bahkan isinya itu-itu saja. Tapi Blora punya sisi positif berupa kebudayaan yang masih sangat dilestarikan, makanan dengan harga terjangkau, serta lingkungan yang teduh.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Noor Annisa Falachul Firdausi<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kosakata-bahasa-jawa-blora-yang-wajib-dipahami-pendatang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">7 Kosakata Bahasa Jawa Blora yang Wajib Dipahami Pendatang<\/a><\/strong><\/p>\n<div class=\"jeg_ad jeg_ad_article jnews_content_inline_2_ads \">\n<div class=\"ads-wrapper align-center \">\n<div class=\"ads_code\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a> ya.<\/em><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Blora itu indah!<\/p>\n","protected":false},"author":1077,"featured_media":251369,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[25910,25909,13017],"class_list":["post-293614","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-aglomerasi","tag-kabupaten-blora","tag-underrated"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/293614","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1077"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=293614"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/293614\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/251369"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=293614"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=293614"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=293614"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}