{"id":29355,"date":"2020-03-10T11:15:47","date_gmt":"2020-03-10T04:15:47","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=29355"},"modified":"2020-03-10T11:17:09","modified_gmt":"2020-03-10T04:17:09","slug":"survei-saya-soal-nyebelin-tidaknya-repost-ucapan-ulang-tahun-di-instagram-stories","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/survei-saya-soal-nyebelin-tidaknya-repost-ucapan-ulang-tahun-di-instagram-stories\/","title":{"rendered":"Survei Saya Soal Nyebelin Tidaknya Repost Ucapan Ulang Tahun di Instagram Stories"},"content":{"rendered":"<p>Percaya atau tidak, Instagram merupakan <em>platform<\/em> yang paling berpengaruh dalam menentukan gaya hidup hajat orang banyak, khususnya pada masyarakat +62. Pasalnya, <em>platform<\/em> ini dapat menjadi ajang saling<em> sharing <\/em>pengalaman (ya agak menjurus ke pamer sih) pada fiturnya yang bernama <a href=\"https:\/\/www.theverge.com\/2017\/7\/1\/15889750\/instagram-stories-how-to-tips-features-tricks\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">instagram stories<\/a>. Dari mulai urusan traveling, makanan, hingga perbucinan duniawi dapat dipertontonkan disini.<\/p>\n<p>Jika urusan-urusan itu diunggah oleh <em>influencer<\/em> kita dan menghasilkan suatu keganjilan baru, nggak kurang nggak lebih bakal viral, dong? Seperti munculnya polemik netizen mengenai permasalahan instagram stories Awkarin. Pasalnya, unggahan <em>repost-<\/em>an tersebut berisikan ucapan ulang tahun yang kebilang banyak dalam satu hari penuh. (Suwer deh, nggak jauh beda kayak melihat bubaran buruh pabrik). Followers yang melihat pun jadinya <em>mangkel<\/em> dan adapun yang mengikuti hal tersebut (yaaa pastinya <span style=\"text-decoration: line-through;\">haters<\/span> fansnya dong)<\/p>\n<p>Tradisi mengucapkan ulang tahun memang mengalami perkembangan yang begitu panjang. Dari mulai memakai surat kertas yang kebilang kuno banget, lalu beranjak ucapan via telepon koin seperti yang biasa dilakukan dilan ke milea, hingga sekarang beranjak ke digital yang notabene mempunyai kemudahan untuk mengirim pesan dan lebih cepat untuk dilihat (oleh siapa pun dan di mana pun). Salah satu caranya melalui instagram stories pada fitur Instagram.<\/p>\n<p>Tunggu! untuk meluruskan pembahasan ini, kita mesti tahu \u201c<em>Apa sih repost itu?<\/em>\u201d. Oke saya jelaskan, repost itu merupakan unggahan kembali dari apa yang telah seseorang kirim di tautannya atau tepatnya di fitur instagram stories.<\/p>\n<p>Entah dari mana virus <em>repost-merepost<\/em> tersebut bermula, sehingga influencer sekelas Awkarin pun melakukan hal tersebut. Aktivitas itu lalu mulai marak menyebar di kalangan pengguna Instagram, yang tak kenal usia, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/makan-soto-tapi-nasinya-dipisah-itu-mendingan-daripada-makan-soto-tapi-kebanyakan-kecap\/\">preferensi makan soto<\/a>, apalagi pandangan politik seseorang. Penyebaran virus ucap-mengucap ulang tahun yang cepat (lebih cepat daripada penyebaran virus corona) memakan banyak korban, dari mulai teman terdekat hingga pembantu saya sendiri pun kena virus tersebut.<\/p>\n<p>Sebenarnya, respons saya <em>sih<\/em> biasa-biasa saja <em>ngelihat<\/em> instagram storiese teman ketika melakukan hal tersebut, tetapi lama-kelamaan saya menjadi <em>mangkel<\/em> dan heran pula. Pasalnya, ketika kemarin sahabat dalam satu circle pertemanan saya sedang berulang-tahun, ia mulai melakukan kegiatan <em>repost-merepost<\/em> di seluruh postingan yang ditandainya, agar terlihat <em>instagram-able <\/em>banget, lalu terjadilah Perang Dunia ke-3 ketika satu teman terdekatnya nggak mau mecoba tuk ikut-ikutan hal begituan, ia beranggapan bahwa tidak ada faedahnya melakukan hal begituan alias alay. Hari ulang tahun yang seharusnya terjadi keharmonisan, malah menjadi suatu ajang <em>sambat-menyambat.<\/em><\/p>\n<p>Maka dari itu, saya melakukan survei kecil-kecilan mengenai kegiatan ini. Agar para mojokiyah pun nggak secara gamblang menambahkan kegiatan ini masuk ke dalam <a href=\"https:\/\/mojok.co\/apk\/rame\/list\/klasemen-5-teratas-pengguna-instagram-story-paling-memuakkan\/\">klasemen 5 teratas pengguna instagram stories paling memuakkan<\/a> dan dapat memahami rasanya memerankan diri dari ketiga posisi ini; yaitu si orang yang nge-tag, si orang yang di-tag dan si yang melihat unggahan tersebut.<\/p>\n<h4><strong>Satu: Orang yang ngasih ucapan ulang tahun di Instagram Stories<\/strong><\/h4>\n<p>Ketika ditanya \u201c<em>kenapa sih harus nge-tag unggahan untuk yang sedang berulang-tahun?<\/em>\u201d Jawaban yang paling mendominasi adalah suatu ketulusan. Iya ketulusan dari seorang teman yang ingin <span style=\"text-decoration: line-through;\">panjat sosial<\/span> mengucapkan selamat ulang tahun. Usut punya usut, beberapa teman pun mengaku ikut-ikutan saja karena demi sebuah pengakuan bahwa dia benar-benar temannya, apalagi jika yang ulang tahunnya itu merupakan ambassador sekolah, pastinya bakal naik derajat langsung <em>deh <\/em>nama kalian.<\/p>\n<p>Faktor lain juga berasal dari kemajuan teknologi. Di dunia nyata kita telah terpisah dari badan dan ucapan, maka instagram adalah kiatan teranyar untuk melakukan silatuhrami jarak jauh dengan menguggah suatu momen yang menyertakan kenangannya.<\/p>\n<h4><strong>Dua: Orang yang dikasih ucapan ulang tahun di Instagram Stories<\/strong><\/h4>\n<p>Layaknya yang lagi sedang merayakan ulang tahun, pastinya senang tujuh turunan jika ada seseorang yang mengucapkan ulang tahun di Instagram Stories dan lalu ngetag namanya dengan harapan untuk di repost di akun si yang ulang tahun tersebut. Tapi kenapa harus dengan cara <em>merepost<\/em> sih? Kenapa nggak seukur mengucap terima kasih di pesan?<\/p>\n<p>Yaps, jawabannya adalah \u201capresiasi\u201d. Pepatah pernah mengatakan bahwa \u201c<em>Matahari tidak pernah memilih siapa yang harus diberikan sinar<\/em>\u201d. Maka kita harus menghargai semua orang yang telah bersusah payah untuk mengunggah foto atau video ketika hari ulang tahun lengkap dengan hasil editan oleh jari-jari kreatifnya. Lain halnya jika postingan yang ditandai tersebut jatuhnya menghina dan dampaknya nggak bagus-bagus amat untuk privasi diri kita (ucapan insta stories dari mantan misalnya?). Daripada diapresiasi mending kalian blokir aja <em>deh<\/em> instagramnnya!<\/p>\n<h4><strong>Tiga: Orang-orang yang melihat repost ucapan ulang tahun di Instagram Stories<\/strong><\/h4>\n<p>Saya bagi menjadi lima jenis orang. Mulai dari si <strong>snob<\/strong>, mereka menganggap merekalah yang paling tahu. Biasanya mereka hanya berargumen dan selalu memberikan komentar negatif. Mereka juga mereka sering mengharam-haramkan kegiatan yang ada saat ini. Kemudian ada <strong>si bodo amat<\/strong>, mereka beranggapan bahwa teserah saja asal hidupnya nggak keganggu.<\/p>\n<p>Setelah itu ada <strong>si<\/strong> <strong>filsuf, <\/strong>jenis orang ini bukannya mengasih komentar yang aneh-aneh tapi selalu mempertanyakan sesuatu yang terjadi, seperti \u201c<em>ih, kok dia punya banyak temen banyak, nemu dari mana sih? Ih, kok tuhan bisa menciptakan ulang tahun?<\/em>\u201d. Kemudian ada <strong>si panjat sosial<\/strong>, ialah jenis orang yang selalu <a href=\"https:\/\/mojok.co\/ajr\/ulasan\/pojokan\/applause-buat-orang-yang-selalu-ambil-kesempatan-dalam-kesempitan\/\">ambil kesempatan dalam kesempitan<\/a> dengan tujuan menaikan derajat sosialitanya.<\/p>\n<p>Saya telah menyusun beberapa pernyataan untuk memberikan pembenaran yang jelas dari suatu pertanyaan, \u201cKenapa sih budaya repost itu nggak usah diperdebatkan dan kita maklumi saja?\u201d.<\/p>\n<p><strong>Pertama, <\/strong>selagi kegiatan <em>repost<\/em> ucapan ulang tahun tersebut nggak mengganggu dan merugikan aktivitas kalian, kenapa harus <em>misuh<\/em>? Karena kita pun telah dilengkapi fitur <em>mute <\/em>pada instagram stories, di mana kalian nggak usah cape-cape lagi untuk melihat satu per satu unggahan instagram stories teman kalian. <strong>Kedua, <\/strong>faktanya, kita telah dibatasi selama 100 (seratus) kali untuk nge-<em>posting<\/em> unggahan pada instagram stories, semisal ada kesempatan, ya kenapa nggak dipakai? <strong>Ketiga. <\/strong>Berdebat itu capek, mending hijrah yang udah jelas-jelas baik untuk kita<\/p>\n<p>Demikian artikel yang dapat menjadi rujukan untuk yang lagi ulang tahun, yang mau ngetag si ulang tahun, dan yang lagi melihatnya. Inti dari artikel ini ialah menjauhi persepsi negatif kita ketika melihat seseorang yang sedang berulang-tahun karena kesuksesan kita sebagai teman khususnya di instagram adalah ketika kita membuat orang lain bahagia.<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA<\/strong>\u00a0<strong><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-alasan-kenapa-filter-truth-or-dare-dan-head-quiz-di-instagram-story-diciptakan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">3 Alasan Kenapa Filter Truth or Dare dan Head Quiz di Instagram Story Diciptakan<\/a> atau tulisan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/fathur-rachman\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Fathur Rachman<\/a> lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Berdasarkan survei saya, repost ucapan ulang tahun di Instagram stories nggak melulu menyebalkan. Alasannya, kita harus memahami 3 sudut pandang dulu.<\/p>\n","protected":false},"author":551,"featured_media":29382,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[1590,5611,481],"class_list":["post-29355","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-instagram-stories","tag-repost","tag-ulang-tahun"],"modified_by":"Nia Lavinia","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/29355","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/551"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=29355"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/29355\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/29382"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=29355"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=29355"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=29355"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}