{"id":29301,"date":"2020-03-13T10:10:35","date_gmt":"2020-03-13T03:10:35","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=29301"},"modified":"2021-11-14T09:16:04","modified_gmt":"2021-11-14T02:16:04","slug":"hanya-karena-nama-terkesan-feminin-saya-sering-disangka-perempuan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/hanya-karena-nama-terkesan-feminin-saya-sering-disangka-perempuan\/","title":{"rendered":"Hanya karena Nama Terkesan Feminin, Saya Sering Disangka Perempuan"},"content":{"rendered":"<p>Membaca tulisan Mas Kristianto, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/hanya-karena-nama-terkesan-feminin-saya-sering-disangka-perempuan\/\">seorang muslim yang disangka beragama kristen hanya karena namanya<\/a> membuat saya gatel juga ingin menulis tema tentang nama. Disalahpahami agamanya hanya karena nama itu belum apa-apa rasanya dibandingkan disalahpahami berjenis kelamin apa karena nama. Rasanya makjleb banget sampai-sampai ingin menggunakan lorong waktu Doraemon dan minta orangtua merubah nama ini.<\/p>\n<p>Setiap kali bertemu orang baru saya selalu disangka seorang perempuan. Reaksi-reaksi seperti, \u201cOwh laki ternyata, saya sangka perempuan.\u201d Dalam hati: Nggak lihat apa brewok saya yang lebat ini? Tidak sekali dua kali saya disangka perempuan karena nama saya. Ternyata, saya tidak sendirian banyak juga yang demikian.<\/p>\n<p>Saya memiliki nama Aliurridha yang sering kali disalahpahami sebagai seorang perempuan, hanya karena nama Ridha lebih terkesan feminin ketimbang Ridho yang maskulin. Aliurridha menjadi terkesan bergender feminin hanya jika dilihat pada kultur budaya Indonesia. Dalam ejaan Bahasa Arab fonem \u201cDha\u201d sama sekali tidak terkesan feminin seperti layaknya pada Bahasa Indonesia. Pada budaya Indonesia nama Ridha sering digunakan untuk perempuan dibandingkan pada pria.<\/p>\n<p>Seandainya saat itu saudara sepupu orang tuanya orang tua memikirkan bagaimana nasib saya ketika nama ini disalahpahami sebagai nama perempuan karena ada jarak budaya, mungkin ia akan mengadaptasi ke pengejaan yang sesuai dengan budaya Bahasa Indonesia. Tapi tidak apa-apa, semua sudah terjadi. Lagian maksud orang tua memberikan nama kepada anaknya adalah untuk doa. Seperti nama saya yang bermakna ke-ridho-an yang paling tinggi. Mungkin itu alasan saya tumbuh menjadi anak yang nakal karena nama saya keberatan.<\/p>\n<p>Niat orang tua memberikan nama kepada anaknya selalu baik, tapi sering kali hasilnya jadi beban sang anak. Apalagi buat nama-nama yang bergender feminin tapi dimiliki laki-laki. Jika kalian pernah <a href=\"https:\/\/tirto.id\/q\/linguistik-dMP\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">belajar linguistik<\/a> dengan kajian nama diri (<em>proper name<\/em>) kalian akan menganalisa perbedaan antara nama seorang pria dan wanita sesuai budayanya. Dalam kultur mayoritas budaya Indonesia biasanya dari akhiran nama tersebut adalah pembeda gender.<\/p>\n<p>Sebagai contoh nama Rika dan Riki, hanya sekilas kita bisa dengan mudah membedakan nama seorang itu pria atau wanita. Aspek sosio kognisi membantu kita membedakan nama berdasarkan gender. Meskipun begitu, seiring waktu semakin tidak relevan membedakan antara nama pria dan wanita dengan begitu banyaknya nama yang bergender berlawanan dengan jenis kelamin yang empunya. Lebih baik kita sebut saja nama ini bergender netral agar kita tidak terjebak dalam jebakan gender.<\/p>\n<p>Saya punya teman bernama Rizka yang seorang perempuan, saya juga punya teman bernama Rizka yang adalah pria. Karena jebakan gender ia lebih senang dipanggil Riko. Semoga ia tidak membenci nama pemberian orang tuanya. Pada suatu masa di zaman kanak-kanaknya mungkin ia pernah membencinya. Sebab, kita semua pernah mengalami zaman anak-anak di mana sedikit keunikan yang bertentangan dengan arus mayoritas akan menjadi bahan olok-olokan.<\/p>\n<p>Kecil sering diolok, besar dipanggil <em>Mbak<\/em>. Saya pernah beberapa kali mengalami dipanggil <em>Mbak<\/em> hanya karena nama yang lebih terasa feminin timbang maskulin. William Shakespear sang sastrawan besar itu menganggap nama tidak terlalu penting, mungkin karena blio belum pernah merasakan dipanggil Miss atau Mrs berkali-kali.<\/p>\n<p>Belum lama ini ketika <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/setowicaksono\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Mas Seto Wicaksono<\/a>, penulis Terminal Mojok memasukkan saya ke grup ghibah para penulis Terminal, saya lagi-lagi disangka perempuan karena nama saya. Perghibahan ngalur ngidul soal nama saya sampai kepada nama Dea Anugerah yang juga ternyata disangka perempuan karena namanya. Buat yang tidak tahu Dea Anugerah, ia adalah seorang penulis yang dulunya jurnalis Tirto.id, sebelum bergabung dengan Asumsi.co.<\/p>\n<p>Mungkin ada baiknya kita mengikuti saran mbak Ajeng Rizka untuk <a href=\"https:\/\/mojok.co\/ajr\/ulasan\/pojokan\/mari-memasyarakatkan-panggilan-kak-demi-keadilan-gender\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">memasyarakatkan panggilan kak demi keadilan gender<\/a>. Setidaknya dengan dipanggil <em>Kak<\/em> lebih enak bagi saya, daripada dipanggil <em>Mbak.<\/em> Perubahan ini perlu apalagi jika itu kepada orang yang belum kita kenal fisik. Kenal secara fisik ya, bukan kontak fisik. Kenal fisik maksudnya tidak hanya tahu nama, jadi sudah mengenal orang itu secara personal. Bila perlu melihat orang secara langsung biar tidak salah paham.<\/p>\n<p>Oh ya, untuk kalian yang memiliki nama-nama bergender kebalikan dari jenis kelamin, saya punya saran untuk kalian. Di tengah maraknya ide kesetaraan gender yang muncul dalam berbagai isu politik, hukum, sosial, dan ekonomi kita-kita yang sering disalahpahami karena namanya bisa bersembunyi di balik gerakan berkeadilan gender.<\/p>\n<p>Jadi kalau ada yang kaget sembari berkata, \u201cLho laki-laki ternyata, kirain aku perempuan.\u201d Kalian bisa menjawab, \u201cOrang tua saya aktivis pro kesetaraan gender, Kak. Nama saya mencerminkan itu.\u201d Keren, kan?Bisa ngeles dari kesalahpahaman dengan cara sebaik-baiknya dengan cara seindah-indahnya. Duh, rasanya sudah seperti aktivis beneran.<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sejak-kapan-rokok-punya-gender\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Sejak Kapan Rokok Punya Gender?<\/a> atau tulisan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/aliurridha\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Aliurridha<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saya memiliki nama Aliurridha yang sering kali disalahpahami sebagai seorang perempuan, hanya karena nama Ridha lebih terkesan feminin.<\/p>\n","protected":false},"author":452,"featured_media":29745,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13080],"tags":[1718,1529],"class_list":["post-29301","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-personality","tag-gender","tag-nama"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/29301","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/452"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=29301"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/29301\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/29745"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=29301"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=29301"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=29301"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}