{"id":292931,"date":"2024-08-20T13:47:54","date_gmt":"2024-08-20T06:47:54","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=292931"},"modified":"2024-08-20T13:47:54","modified_gmt":"2024-08-20T06:47:54","slug":"mau-diakui-atau-tidak-pemain-mobile-legends-indonesia-memang-toxic","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mau-diakui-atau-tidak-pemain-mobile-legends-indonesia-memang-toxic\/","title":{"rendered":"Mau Diakui atau Tidak, Pemain Mobile Legends Indonesia Memang Toxic"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya yakin para pemain Mobile Legends asal Indonesia pernah merasakan ini: sudah ada MM, mage, jungler, dan midlaner, dan pemain terakhir memilih\u2026 MM. Layla, Miya, Hanabi, dan sejenisnya. Saya yakin, saat itulah kalian menyesali keputusan kalian main game ini. Saya juga yakin, kalian bertanya-tanya kenapa orang Indonesia bisa toxic betul kalau udah di dalam game.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tak apa-apa, kalian jelas tak sendiri. Saya pun merasakan itu tiap hari.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, percayalah, hal ini tak terjadi hanya di Mobile Legends. Sebagai pemain Dota 2, saya menemukan ini juga, meski seringnya di level paling bawah. Hanya saja, saya paling sering menemukannya di Mobile Legends. Dan rata-rata pelakunya adalah orang Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukan saya memukul rata, tapi rata-rata pemain dengan kelakuan begini yang saya temui ya orang Indonesia. Tahu dari mana? Bukan dari bendera yang jelas. Tapi dari interaksi dan bahasa yang digunakan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertanyaannya, kenapa?<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>Kalau kalah ya istirahat<\/strong><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rata-rata, alasan orang melakukan ini, ngepick dua hero dengan role yang sama, itu karena nggak percaya. Kenapa nggak percaya? Alasannya ada dua. Yang pertama, nggak percaya karena di game sebelumnya pemegang role tersebut payah. Yang kedua, karena mereka kalah terus, jadinya mereka memilih untuk main role tersebut, sekalipun mereka nggak jago. Biasanya mereka tiba-tiba ngepick MM atau jungle kalau sudah lose streak. Dua alasan ini, menurut saya nggak ada masuk akalnya sama sekali.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alasan pertama nggak masuk akal karena sederhana saja, tak semua pemegang role MM itu payah. Kau bisa jago di game pertama dan betul-betul seperti idiot di game kedua. Faktornya banyak, dan yang jelas, kamu belum tentu jadi MM yang lebih jago.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alasan kedua jauh lebih tidak masuk akal lagi. Kalau kamu lose streak, yang harus kamu lakukan adalah istirahat. Masih ada esok hari. Atau istirahatlah barang dua, tiga, lima jam. Bukannya malah ngepick MM atau jungle, padahal udah ada yang ngepick hero tersebut. Ini serius.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau kalian kebetulan main game kalah terus, artinya memang otak kalian capek dan butuh penyegaran. Mau game apa pun, CS2, Dota 2, Mobile Legends, kalau udah lose streak, baiknya kalian jaga jarak. Segarkan otak. Memaksakan main untuk mencari kemenangan hanyalah menambah deretan kekalahan karena ya kalian sudah tak bisa berpikir jernih.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kekalahan yang menumpuk itu juga bikin emosi kalian jadi tak terbendung. Kalau nekat main, ya jadi orang yang toxic, dan ujung-ujungnya kalah lagi. Lagian kalau dipikir-pikir, kalian main Mobile Legends kalah 5 kali berturut-turut, terus menang sekali abis itu, kan tetep rugi. Coba kalian berhenti pas kekalahan ketiga, misal, kalian ruginya nggak banyak.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>Tabiat netizen terbawa ke Mobile Legends<\/strong><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi ini masih tak menjawab, kenapa player Mobile Legends Indonesia itu toxic. Asumsi saya, asumsi loh ya, ini gara-gara tabiat online dibawa-bawa ke game.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Begini, netizen Indonesia kan terkenal begitu buas. Bahkan <a href=\"https:\/\/indonesiabaik.id\/infografis\/benarkah-netizen-indonesia-paling-tak-sopan-se-asia\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Microsoft<\/a> pernah bilang kalau netizen Indonesia adalah netizen paling tidak sopan. Sudah saatnya kita akui sih, kalau itu benar. Sebab, liat saja komen-komen netizen. Pasti kalian bakal ngelus dada.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya kayaknya nggak perlu ngasih contoh karena ya, kalian pasti sudah pernah merasakannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, tabiat ini, dibawa-bawa ke Mobile Legends, yang basically selain game, dia juga ruang interaksi. Sikap tidak peduli tak hanya diwujudkan dalam nyocot, tapi juga dalam memilih hero. Ya mau kalian jauh lebih jago pake MM, mereka tak peduli. Mau situ udah milih Brody, jangan kaget kalau out of nowhere ada yang ngepick Miya dan Layla.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nggak kaget kalau mainnya kacrut. Ya gimana, dari awal mereka emang nggak peduli dan bertingkah selayaknya netizen Indonesia yang Microsoft bilang. Nggak mikirin konsekuensi, kalah nggak masalah, kan mereka nggak peduli. Yang peduli tentang kemenangan kan kalian. Begitu kira-kira.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>Tak peduli konsekuensi<\/strong><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perkara konsekuensi ini menarik sebenarnya. Sebelum main Mobile Legends, saya kerap main Dota 2 dengan kawan saya. Dan salah satu kawan saya ada yang mainnya jelek betul. Parahnya, dia sebenernya tahu kalau dia jelek dan bikin timnya menderita. Tapi dia nggak peduli, bagi dia main game itu fun. Kalau main jelek udah ngasih dia rasa senang, ya ngapain main serius.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi saya pribadi, ini aneh. Apanya yang menyenangkan coba dari kalah terus-terusan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oke, itu preferensi pribadi. Tapi ada hal serius yang perlu kita cermati, yaitu betapa banyak orang tak peduli konsekuensi, meski itu efeknya ke sekelilingnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita nggak hanya bicara tentang Mobile Legends doang ini. Banyak orang yang beneran nggak peduli konsekuensi. Contoh, motoran sambil merokok, berkendara ugal-ugalan, mengubah undang-undang, dan terakhir, mengemplang pajak. Contoh ini kita lihat tiap hari, dan seakan-akan nggak ada berkurangnya. Malah seakan-akan makin lestari.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Mobile Legends cuma puncak gunung es<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apa yang terjadi di Mobile Legends, ya hanya puncak gunung es. Kenapa player Mobile Legends Indonesia itu toxic, ya mau gimana lagi, ini cuma efek dari apa yang dijalani tiap hari.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin kalian tersinggung dengan tulisan saya ini. Ya, saya paham. Sebab kalian bisa jadi tak tergolong orang yang toxic, dan saya tak mau mengaku orang yang bersih juga. Tapi, kita tidak bisa memungkiri, bahwa kenyataannya memang begini. Yang bisa kita lakukan sih, ya cuma berusaha jadi pribadi yang lebih baik di dalam Mobile Legends, setidaknya ya nggak ngepick MM kalau udah ada MM lain, lah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Baiknya, kita tidak lagi berlindung di balik kalimat \u201cnggak semua pemain ML Indo kek begini!\u201d. Saya juga tahu, kalau nggak semua player Indo begini. Masalahnya, tiap ketemu pemain ajaib, rata-rata dari Indo, terus mau gimana?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mau bilang oknum, kok banyak. Kalau kek gitu mah bukan oknum lagi, tapi mabes!<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Rizky Prasetya<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mobile-legends-kan-game-strategi-wajar-dong-kalau-mainnya-diatur\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Mobile Legends Kan Game Strategi, Wajar Dong Kalau Mainnya Diatur<\/a><\/b><\/p>\n<p><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>cara ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ngaku ajalah.<\/p>\n","protected":false},"author":777,"featured_media":292937,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[31,6073,9686],"class_list":["post-292931","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-indonesia","tag-mobile-legends","tag-toxic"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/292931","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/777"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=292931"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/292931\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/292937"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=292931"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=292931"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=292931"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}