{"id":2928,"date":"2019-06-04T03:00:08","date_gmt":"2019-06-03T20:00:08","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=2928"},"modified":"2022-01-17T15:19:21","modified_gmt":"2022-01-17T08:19:21","slug":"bapak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bapak\/","title":{"rendered":"Bapak"},"content":{"rendered":"<p>Di kamar belakang, saya dan Ibu sedang bicara tentang ayat-ayat suci\u2014kami bersikukuh untuk saling membenarkan tafsir dari teks surat Al-Waqi&#8217;ah yang menerangkan siapa sepertiga dari orang-orang awal itu dan sedikit dari orang-orang akhir. Di tengah kami saling koreksi, pendapat Bapak datang tanpa diundang dan seringkali begitu kalau muncul, ia seperti merasa bahwa rumah adalah manifestasi dari teritori kekuasaannya.<\/p>\n<p>Seorang anak laki-laki yang sudah besar dan menikah lalu punya anak dan menyandang gelar Bapak\u2014tidak akan ada waktu lagi selain membicarakan kebutuhan diri sendiri, istri, dan anak. Kebutuhan itu jikalau tidak terpenuhi tidak akan pernah nekad untuk mengurusi yang lain. Meskipun ada beberapa yang masih mau-maunya di tengah kesibukan memenuhi keluarganya lalu bermanfaat untuk orang lain. Mulia sekali\u2014dan teks <em>sebaik-baiknya dirimu adalah orang yang bermanfaat dengan yang lain<\/em> menjadi aktif untuk beliau.<\/p>\n<p>\u201cMesti ibumu tidur kalau Bapak cerita,\u201d ujar Bapak setelah duduk di depan daun pintu kamar anaknya,<\/p>\n<p>Bapak tidak lagi bicara setelah memberikan solusi bahwa saya harus melanjutkan pendidikan ke jenjang Perguruan Tinggi. Dan beberapa bulan kemudian kami dipertemukan waktu di Surabaya, dia berbaring di atas bantal putih dipenuhi kabel bagian tubuh sebelah kirinya\u2014dengan muka yang setengah memutih. Aroma obat di luar ruangan kamar begitu menyengat di mana-mana. Lalu percakapan kami mulai,<\/p>\n<p>S<br \/>\n\u201cRokok <em>kui<\/em> tidak membunuhmu, Nak. Itu akal-akalan orang Amerika.\u201d\u2014seperti orang seminar di dinas kesehatan, tapi sebagai pihak yang kontra.<\/p>\n<p>\u201cSupaya <a href=\"https:\/\/tirto.id\/sejarah-tembakau-rakyat-yang-berjasa-membuat-petani-bisa-berhaji-d9hG\">tembakaumu <em>kui iso digawa karo wong-wong<\/em> neng luar negeri<\/a> dengan harga murah,\u201d<\/p>\n<p>Saya masih tegar tidak memberikannya rokok\u2014selain memang dilihat Ibu yang masih menatap tajam dan geleng-geleng kepala, saat saya mulai tergerak hatinya melihat Bapak <a href=\"https:\/\/mojok.co\/zel\/esai\/merokok-sukarela\/\">ingin ngerokok<\/a>. Bapak tidak menyerah untuk mendapatkan sebatang lisong untuknya. Seperti saat ia ditawari makan oleh Ibu, \u201cMakan ya, Pak. Terus minum obat.\u201d<\/p>\n<p>\u201cYa, Bu,\u201d sambil menelan ludah, \u201csekalian buat kopi dan rokok. Makannya pasti habis, Bu.\u201d<\/p>\n<p>Ibu mengangguk untuk menenangkan beliau. Hanya sampai beberapa menit ia sudah minum air putih dan kemudian mengambil kopi hitam yang dibuatkan Ibu\u2014lalu kemudian memanggil saya yang sedang melihat layar kaca di ruang VVIP.<\/p>\n<p>\u201cNak, mana rokoknya?\u201d<\/p>\n<p>\u201cRokok merek itu habis, Pak.\u201d<br \/>\n\u201cCarilah lagi, Nak.\u201d<br \/>\n\u201cIya.\u201d<\/p>\n<p>Dan setiap kali aku disuruh beli rokok, aku itu beli dengan merek yang diminta\u2014namun tidak saya berikan. Semoga bohong ini demi satu kebaikan yang diinginkan keluarga. Kalaupun aku harus menanggung dosa, semoga setimpal dengan yang diperintahkan Ibu. Namun trik itu tidak berjalan lama, beliau seakan mengetahui rahasianya dan berkata, \u201cNak, bapak biasanya belikan semua yang kalian inginkan\u2014termasuk kamu kalau mau beli rokok juga Bapak belikan. Lah, sekarang Bapak cuma mau minta satu batang aja, sebegitukah pelitnya kalian pada Bapak?\u201d<\/p>\n<p>Semua diam di ruangan, Bapak mulai terisak tangisnya. Tangannya sekarang juga sudah pegang satu batang rokok.<\/p>\n<p>\u201cBapak seneng kalau kamu pingin seperti Bapak. Tapi Bapak lebih seneng kalau kamu menjadi seperti yang kamu inginkan.\u201d<\/p>\n<p>Hanya aku yang mendengar kalimat itu. Seperti burung yang disuruh merdeka dalam teks cerpen dan monolog Putu Wijaya saya kebingungan dan masih berharap akan cita-citaku sebelumnya.<\/p>\n<p>Beliau selama ini tidak menangis di depan kami. Kecuali hari itu\u2014tepat salah satu gurunya meninggal. Entah darimana beliau tahu\u2014padahal koran yang dimintanya pagi-pagi juga sudah kuambil bagian berita wafatnya.<\/p>\n<p>\u201cBiar aman dan nggak kepikiran. Beliau ini orang yang dicintai dan dihormati Bapak.\u201d<\/p>\n<p>Aku lipat koran Jawa Pos 24 Januari 2014. Lalu aku berkata pada Ibu dan kusimpan kabar itu di tempat yang Bapak tidak tahu.<\/p>\n<p>Bapak bukanlah Ani yang perlu dikenang khalayak ramai. Beliau hanya perlu balik setiap akhir bulan Ramadan ke rumah. Lalu duduk di dekat telepon dan menjawab setiap penelpon yang mengatakan sudah waktunya takbiran apa masih Tarawih. Kami tidak bisa menggantikan posisi itu, Pak. Kami putus telepon itu dan tidak ada telepon lagi masuk ke rumah kami kecuali lewat <em>handphone<\/em> masing-masing. Kebetulan anak sulung keluarga kami ditelepon teman-temannya\u2014menanyakan hari raya kapan.<\/p>\n<p>Aku diam dan membayangkan sosok Bapak berubah pada anak tertua\u2014lalu begitu hingga satu persatu sirna dari dunia. Maka aku mengurungkan untuk mengabulkan, \u201cBapak lebih seneng kalau kamu jadi seperti yang kamu inginkan.\u201d Karena semua anak-anaknya akan menjadi seperti beliau dan beliau adalah contoh terdekat kami yang ada.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Di tengah kami saling koreksi, Bapak datang tanpa diundang dan begitu muncul, ia seperti merasa bahwa rumah adalah manifestasi dari teritori kekuasaannya.<\/p>\n","protected":false},"author":45,"featured_media":2941,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[14280],"tags":[493,342,764,309],"class_list":["post-2928","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sebat","tag-bapak","tag-lebaran","tag-orangtua","tag-rokok"],"modified_by":"Ibil S Widodo","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2928","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/45"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2928"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2928\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2941"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2928"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2928"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2928"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}