{"id":292278,"date":"2024-08-15T17:44:09","date_gmt":"2024-08-15T10:44:09","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=292278"},"modified":"2024-08-16T11:35:09","modified_gmt":"2024-08-16T04:35:09","slug":"kuliah-di-mana-pun-itu-tidak-sama-saja","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kuliah-di-mana-pun-itu-tidak-sama-saja\/","title":{"rendered":"Kuliah di Mana pun Itu Sama Saja Adalah Omong Kosong yang Terus Dipertahankan"},"content":{"rendered":"<p><em><span style=\"font-weight: 400;\">Jelas kuliah di mana pun itu nggak sama ya, omong kosong semacam ini kenapa dipertahankan sebagai kalimat penghibur?<\/span><\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat mulai masuk dunia perkuliahan kita sering mendengar kalimat mujarab penenang hati sementara seperti \u201cdi mana pun kuliah itu sama saja\u201d. Kalimat ini biasanya menjadi pelipur lara bagi orang-orang yang tidak tembus di kampus impiannya. Memang, di satu sisi ini baik agar kita dapat menjalani hidup di perkuliahan tanpa beban atau rasa kecewa. Namun, di sisi lain dapat membuat tersesat di jalan, kalau nggak sekarang ya nanti.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya di sini menyoroti bahwa di setiap kampus pasti memiliki infrastruktur yang berbeda. Baik dari segi fasilitas dan kebijakan kampusnya, kualitas dosen, akreditasi, metode pembelajaran, hingga nilai serta budaya dari kampus tersebut. Jujur saja saya merasa muak dengan kalimat-kalimat penenang semacam \u201cdi mana pun kuliah itu sama saja\u201d atau \u201cemas akan bersinar di mana pun ia berada\u201d. Mendengar ungkapan itu saya berpikir, apakah emas yang ada di tempat kotor semacam got atau kolong jembatan akan tetap terlihat?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertanyaan ini membawa kita pada suatu pemahaman, bahwa emas di etalase toko lebih terlihat dan mudah dicari dibandingkan emas yang terkubur di got.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Kuliah di kampus ternama lebih terjamin<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai mahasiswa yang menempuh perkuliahan di kampus grade B (atau mungkin C), tentunya saya memperhatikan fenomena yang telah menjadi rahasia umum ini. Di mana, orang-orang yang mendapat kesempatan berkuliah di kampus ternama akan lebih dipandang dan gampang akses ke jenjang karier. Setidaknya lebih mudah daripada orang-orang yang menempuh kuliah di kampus yang kurang mentereng. Ini bukan semata-mata opini, tetapi berdasarkan riset yang dilakukan oleh Kemendikbud Ristek. Adapun kampus yang masuk top 5 dengan lulusan yang cepat dapat kerja di antaranya IPB, ITB, UI, UGM, dan Unair. Kelima kampus tersebut tidak asing di telinga dan memang selalu berlomba-lomba menduduki kasta tertinggi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, sudah jelas bahwa di mana pun kita berkuliah akan sangat memengaruhi masa depan dan jenjang karir. Akan tetapi, di sini saya bukannya mau bilang bahwa itu merupakan nasib bagi mereka yang tidak keterima di kampus ternama. Hanya saja yang dipermasalahkan di sini adalah pandangan yang bilang ngampus dimana saja itu sama, jelas itu berbeda lho!\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Realitas pahit yang harus dihadapi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Makin ke sini gap antara kampus ternama dengan kampus terbelakang semakin jelas terlihat. Semenjak diluncurkannya program MBKM pada 2020 oleh Kemendikbud Ristek, antusiasme mahasiswa untuk mengikuti program-program yang ditawarkan semakin tidak terbendung. Akan tetapi, tidak semua mahasiswa memiliki kesempatan yang sama dalam menjalankan program tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita lihat saja dari sebaran penerimaan mahasiswa yang lolos <a href=\"https:\/\/pusatinformasi.kampusmerdeka.kemdikbud.go.id\/hc\/en-us\/categories\/6153606311577-MSIB\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">MSIB<\/a> (salah satu program MBKM). Kebanyakan yang lolos adalah mereka yang menempuh pendidikan di kampus-kampus top. Tidak dapat dimungkiri juga bahwa mitra yang melakukan kerja sama tentunya melihat dari mana kampus si pendaftar kuliah. Mereka yang berasal dari kampus-kampus ternama akan memiliki peluang yang lebih tinggi. Ini sudah menjadi rahasia umum, walaupun di awal dikatakan kompetensi individu lebih condong dinilai, tetapi penilaian terhadap kampus asal mahasiswa tersebut pastinya juga merupakan salah satu indikator penentu dan tidak dapat dipisahkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, nasib buruk lainnya bagi mahasiswa yang keterima di kampus terbelakang adalah pandangan masyarakat. Menyakitkan ketika kita mulai bisa menerima kondisi bahwa kita tidak diterima di kampus ternama, tetapi stigma di masyarakat terus menghantui bahkan memandang remeh. Bahkan di satu kondisi ada yang bilang \u201ckenapa nggak langsung kerja aja daripada kuliah di kampus itu yang ga jelas nasibnya gimana nanti?\u201d Mendengar ini mungkin sebagian dari kita bisa menerimanya. Tetapi tidak menutup kemungkinan sebagian orang lagi merasa semangat kuliahnya dipatahkan oleh pernyataan singkat tersebut.<\/span><\/p>\n<p><strong>Baca halaman selanjutnya<\/strong><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kuliah-di-mana-pun-itu-tidak-sama-saja\/2\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em>Omong kosong jangan dijadikan pegangan<\/em><\/a><\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<h2><b>Omong kosong itu jangan dipertahankan lagi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memberikan simpati terhadap teman atau kerabat yang tidak kuliah di kampus impiannya merupakan hal yang baik. Namun, jangan menjadikan kalimat semacam \u201cdi mana pun ngampus sama saja\u201d sebagai doktrin yang terus berulang. Pasalnya, hal tersebut merupakan ungkapan yang menyesatkan. Dalam jangka pendek memang membantu untuk mengatasi kecewa atau rasa sedih. Akan tetapi, dalam jangka panjang akan dapat berdampak buruk, misalnya membuat seseorang menjadi terlena.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan lebih baik jika kita menyadari bahwa segala hal yang tidak sesuai ekspektasi jangan diselesaikan dengan memberikan seseorang harapan kosong dan kalimat penghibur receh semacam itu. Cukup berikan semangat dan bilang bahwa mungkin memang jalannya seperti itu dan masih ada banyak peluang lain di depan yang lebih cocok buat kamu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentu itu terdengar lebih meyakinkan dan tidak semata-mata membuat orang terlena ke depannya. Sebab memang ada banyak peluang yang dapat terjadi entah itu kamu kuliah di kampus ternama maupun kampus terbelakang. Jadi, mari lebih fokus ke pengembangan diri pribadi. Itu lebih baik daripada kita memegang kalimat \u201ckuliah di mana pun itu sama saja\u201d, karena jelas itu merupakan omong kosong yang selalu dipertahankan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>Penulis: I Kadek Adi Dwipayana<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/derita-guru-kejar-paket-gaji-menyedihkan-beban-administrasi-mengerikan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Derita Guru Kejar Paket: Gaji Menyedihkan, Beban Administrasi Mengerikan, Masih Harus Menghadapi Murid yang Kadang Ajaib<\/a><\/strong><\/p>\n<div class=\"jeg_ad jeg_ad_article jnews_content_inline_2_ads \">\n<div class=\"ads-wrapper align-center \">\n<div class=\"ads_code\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jangan sok menghibur diri sendiri!<\/p>\n","protected":false},"author":2732,"featured_media":287246,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13089],"tags":[25772,25771,436],"class_list":["post-292278","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kampus","tag-kampus-biasa","tag-kampus-ternama","tag-kuliah"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/292278","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2732"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=292278"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/292278\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/287246"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=292278"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=292278"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=292278"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}