{"id":292228,"date":"2024-08-15T16:50:56","date_gmt":"2024-08-15T09:50:56","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=292228"},"modified":"2024-08-15T16:50:56","modified_gmt":"2024-08-15T09:50:56","slug":"5-skill-dasar-yang-seharusnya-dikuasai-guru","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-skill-dasar-yang-seharusnya-dikuasai-guru\/","title":{"rendered":"5 Skill Dasar yang Seharusnya Dikuasai Guru, tapi Kurang Diajarkan di Jurusan Pendidikan"},"content":{"rendered":"<p><em>Jurusan pendidikan harusnya fokus mengajari guru skills ini, sebab ini begitu penting dan dibutuhkan oleh murid<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Guru adalah profesi terpuji. Tapi, status profesi terpuji itu harus diimbangi pula dengan kualitas ciamik dari setiap insan gurunya. Jangan sampai, kualitas gurunya pas-pasan, berlagak sok terpuji di balik ketiak citra profesi yang mulia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maka dari itu, setiap guru harus punya skill yang mencerminkan kualitas mulia dan terpuji profesinya. Setiap guru harus sadar untuk terus mengasah skill keguruannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berdasarkan pengalaman saya menjadi guru hampir 3 tahun, ada 5 skill dasar yang seharusnya dikuasai agar menjadi guru berkualitas. Hanya saja, skill-skill ini sering diabaikan atau tidak terlalu serius diajarkan di jurusan pendidikan. Sehingga, tidak sedikit guru yang belum atau bahkan memilih menyerah untuk menguasainya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Skill komedi\u00a0<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau kita membaca teori-teori pendidikan, hampir semuanya membahas tentang proses pendidikan yang menyenangkan dan membahagiakan. <a href=\"https:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Paulo_Freire\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Paulo Freire<\/a> misalnya, menjelaskan kalau pendidikan harus berporos pada hati yang bahagia. Sehingga, gerak pikir kita dalam belajar dan mengajar berjalan secara riang.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maka dari itu, skill komedi menjadi penting bagi guru. Kemampuan bercanda dan menjadi asik (bukan sok asik) di kalangan siswa adalah poin dasar yang harus dikuasai. Disebut skill, karena mereka harus mampu menerka bagian-bagian candaan yang pas dan tetap beradab.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika gurunya punya skill komedi yang baik, maka siswa akan respek sendiri dan semangat dalam belajar. Saran saya, segera masukkan mata kuliah khusus pembelajaran yang komedik di kurikulum fakultas pendidikan. Video-video kelas komedi seperti kelas Pecahkan dari perusahaan Comikanya Pandji Pragiwaksono bisa jadi rujukan awal. Kalau mau yang lebih simpel, bisa mulai membangun budaya nonton stand up comedy via YouTube. Saya rasa itu cukup efektif untuk meningkatkan selera komedi. Ehe.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Skill retorika dan motivasi guru harus ditingkatkan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berdasarkan perenungan personal yang mendalam, bagi saya guru harus menjadi orator ulung. Orator yang mampu beretorika dengan baik. Retorika dalam artian memberikan penjelasan materi dengan bahasa yang menarik, persuasif, dan menggerakkan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lebih-lebih, guru bisa menjadi seorang motivator. Sebab, siswa seringkali mengalami kondisi loyo, letih, dan lesu dalam belajar. Apalagi kalau belajar di jam-jam siang menjelang sore. Sudah ambyar itu spirit belajarnya. Pada titik inilah, seorang guru harus mampu memberi motivasi sebelum mulai menjalankan pembelajaran. Nah, memberi motivasi itu memerlukan skill khusus yang harus dipelajari secara mendalam. Agar motivasinya nggak klise dan malah bikin tambah ngantuk.<\/span><\/p>\n<h2><b>Skill mengelola ego dan emosi guru<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Skill berikutnya adalah mengelola ego dan emosi. Saya yakin, fakultas pendidikan di kampus-kampus pasti mempelajari ini. Hanya saja, berdasarkan informasi dari beberapa kolega guru di sekolah, fokus materi emosi dan psikologi di kampus merujuk pada siswa. Tidak pada pengendalian ego dan emosi guru.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal, dalam teori psikologinya Erich Fromm, mengendalikan emosi orang lain harus dimulai dari mengendalikan emosi diri sendiri. Maka, untuk bisa baik dalam mengendalikan ego dan emosi siswa, harus dimulai dari mengendalikan ego dan emosi guru. Misalnya, jangan jadi guru yang egois dan selalu ingin didengarkan, tanpa mau mendengarkan siswanya. Lebih-lebih, jangan jadi guru yang gampang marah dan ngambek. Udah nggak jaman serta jelas-jelas nggak mendidik blas itu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Makanya, untuk mengerti itu semua, guru harus punya skill mengelola ego dan emosinya sendiri sebagai pendidik yang bijak nan arif. Asek.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Skill berinteraksi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berikutnya masuk ke ranah teknis, yaitu interaktif. Jelas saja guru harus interaktif, agar siswanya nggak ngantuk selama belajar. Nah, untuk interaktif, guru perlu punya skill khusus. Ya skill menjalin interaksi. Belajar menggali topik dari ungkapan siswa.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Guru nggak boleh jadi orang yang boring. Harus energik dan interaktif. Agar siswanya ikut tergerak dan semangat mengikuti proses pembelajaran. Makanya perlu skill khusus yang seharusnya dipelajari di kampus pendidikan. Minimal, guru harus berlatih membangun topik obrolan yang menyenangkan. Caranya gimana? Ya belajar dan latihan secara mendalam.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Skill mendengarkan\u00a0<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terakhir, saya rasa adalah skill yang sangat diharapkan para siswa atas gurunya. Berdasarkan pengalaman lapangan saya, sering kali siswa capek seharian mendengarkan gurunya ceramah. Sesekali, mereka merasa sangat butuh ruang untuk didengarkan dan bercerita pada gurunya. Hanya saja, banyak guru yang terlalu gila wibawa, sehingga seakan tak sudi mendengar keluh-kesah dan celoteh siswanya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maka dari itu, skill mendengarkan adalah skill dasar yang harus dimiliki guru. Sesekali, guru harus menyediakan ruang di mana dirinya tak menjelaskan apa pun, tapi hanya cukup menyediakan dirinya hadir sebagai pendengar siswanya. Hadir sebagai pendengar hasil tontonan siswanya, bacaan siswanya, gosip siswanya, dan keluhan-keluhan siswanya. Sehingga, siswa akan merasa berada di lingkungan belajar yang terbuka, setara, dan melegakan. Hal tersebut tentu saja menjadi ekosistem segar untuk siswa dapat menimba pengetahuan secara optimal.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Para kampus-kampus dan jurusan-jurusan pendidikan, agendakanlah rancangan mata kuliah khusus skill pedagogi mendengar untuk para calon pendidik. Sebab, siswa butuh itu. Siswa butuh pendidik yang menyediakan dirinya sebagai pendengar yang baik.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Naufalul Ihya&#8217; Ulumuddin<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/derita-guru-kejar-paket-gaji-menyedihkan-beban-administrasi-mengerikan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Derita Guru Kejar Paket: Gaji Menyedihkan, Beban Administrasi Mengerikan, Masih Harus Menghadapi Murid yang Kadang Ajaib<\/a><\/strong><\/p>\n<div class=\"jeg_ad jeg_ad_article jnews_content_inline_2_ads \">\n<div class=\"ads-wrapper align-center \">\n<div class=\"ads_code\" style=\"text-align: left;\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kudu!<\/p>\n","protected":false},"author":1825,"featured_media":290339,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[16864],"tags":[2094,2093,25770],"class_list":["post-292228","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-profesi","tag-guru","tag-jurusan-pendidikan","tag-skill-guru"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/292228","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1825"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=292228"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/292228\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/290339"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=292228"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=292228"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=292228"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}