{"id":292160,"date":"2024-08-14T15:38:29","date_gmt":"2024-08-14T08:38:29","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=292160"},"modified":"2024-08-14T15:38:29","modified_gmt":"2024-08-14T08:38:29","slug":"purwokerto-tempat-ternyaman-untuk-merayakan-patah-hati","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/purwokerto-tempat-ternyaman-untuk-merayakan-patah-hati\/","title":{"rendered":"Purwokerto, Tempat Ternyaman untuk Merayakan Patah Hati"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Betul kata Pandji Pragiwaksono, Purwokerto itu tidak istimewa, tapi nyaman. Termasuk untuk urusan patah hati. Bagi seorang yang pernah menghuni Purwokerto selama lebih dari 4 tahun, saya bisa mengambil sebuah nyamannya Purwokerto untuk sebuah tempat merayakan patah hati.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0***<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kembali untuk sebuah urusan ke Purwokerto, sebenarnya hal yang biasa saja. Namun untuk merasakan kembali menelusuri Jalan H. R. Boenyamin, hingga sekitar kampus Unsoed pada akhirnya membawa sebuah memori yang sebenarnya tidak patut untuk dirasakan kembali.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Melihat tenda kuning susu Superman, yang punya banyak varian rasa, dan aroma roti bakarnya yang menggelitik hidung. Ditambah lagi cara dia bercerita yang antusias, dan senyumnya yang sedikit menghangatkan malam. Ah, betapa pinggir jalanan Purwokerto pun dapat bercerita.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lukisan Bioskop Rajawali yang menjadi ciri khas, pasti juga menarik kembali ingatan, di mana seorang perjaka yang mulai merasakan adanya kupu-kupu yang beterbangan di perut untuk mengajak si gadis menikmati film terbaru.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sambil pulangnya bercerita di atas roda dua berdiskusi atas film yang telah ditonton dengan lagak seperti kritikus film yang tau bagaimana seharusnya cerita dalam film dirangkai.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terus begitu beberapa waktu, dan setelah sekian lama berani menyatakan perasaan, karena dinasehati oleh Endah n Rhesa saat konsernya di lapangan Soemardjito agar rasa itu dinyatakan daripada hidup dalam penyesalan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ya, dan akhirnya jawaban datang, dan penolakan tanpa kejelasan, serta menghilang bersama mendung yang datang. Perayaan patah hati pun dimulai.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>Sendiri menikmati getir hati di Purwokerto<\/strong>\u00a0<\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sendiri menerjang dingin ke <a href=\"https:\/\/regional.kompas.com\/read\/2023\/02\/04\/204047278\/bukit-tranggulasih-di-banyumas-daya-tarik-jam-buka-dan-rute\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Bukit Tranggulasih<\/a>, sambil menunggu matahari terbit, walau hati sedang sakit. Pulangnya mencari nasi tim depan patung kuda. Perut kenyang, tapi getir di hati tak kunjung hilang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hari berikutnya, saya pergi ke curug untuk membasuh otak agar senyumannya segera hilang. Ternyata air curug hanya bikin menggigil. Pindah-pindah curug pun tetap sama. Yang berbeda hanya jalan menuju curugnya yang punya bermacam rintangan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Malamnya mencoba mencari makan di angkringan Stasiun Timur Purwokerto yang punya banyak rasa untuk membakar semangat perayaan patah hati. Dan saat itu entah kenapa angkringan pun jadi sangat enak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya kemudian memutuskan untuk berjalan di alun-alun Purwokerto, meminum ronde yang saat itu murahnya minta ampun. Sambil melihat orang berlalu lalang, anak kecil berlarian dan pengamen yang suaranya fals malah jadi rusak suasana. Akhirnya pulang, dan kawan pun mengajak ke burjo, eh malah kopinya hambar, dan omelette si Aa tidak enak, soalnya dia bertanya tentang si gadis.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Yang istimewa hanya dia<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Esoknya, entah kenapa, Jalan H. Madrani Purwokerto begitu gelap. Mendung bergelayut, sakit hati pun menyambut. Saya memilih untuk menaruh perih hati di kosan saja. Tapi sekuat apa pun perih hati saya tinggal, ia menggelayuti saya hingga mengenakan toga di Graha Widyatama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saatnya untuk kembali ke H. R. Boenyamin yang jalannya penuh sesak, lalu ditemani playlist salah satu radio Purwokerto yang memutar lagu galau yang menjadi pemicu perayaan patah hati masa lampau.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sambil bersandar pada pintu mobil, nyamannya patah hati itu semua dapat terlampiaskan di Purwokerto. Lewat tempat yang disinggahi, orang-orangnya, bahkan rasa makanannya semua menjadi akumulasi tentang nyamannya Purwokerto.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terima kasih Pandji Pragiwaksono yang kembali mengingatkan bahwa Purwokerto itu tidak istimewa. Sebab, yang istimewa hanya dia.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Gabriel Bezaleel Matahari<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/purwokerto-punya-5-tempat-romantis-yang-murah-meriah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">5 Tempat Pacaran di Purwokerto kalau Sedang Bokek, Suasana Romantis dan Murah Meriah<\/a><\/strong><\/p>\n<div class=\"jeg_ad jeg_ad_article jnews_content_inline_2_ads \">\n<div class=\"ads-wrapper align-center \">\n<div class=\"ads_code\" style=\"text-align: left;\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Beri tahu aku&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":403,"featured_media":292200,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[60,8526],"class_list":["post-292160","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-patah-hati","tag-purwokerto"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/292160","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/403"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=292160"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/292160\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/292200"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=292160"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=292160"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=292160"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}