{"id":292075,"date":"2024-08-17T13:56:56","date_gmt":"2024-08-17T06:56:56","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=292075"},"modified":"2024-08-17T13:56:56","modified_gmt":"2024-08-17T06:56:56","slug":"kota-bandung-punya-4-fakta-yang-kerap-dilupakan-warganya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kota-bandung-punya-4-fakta-yang-kerap-dilupakan-warganya\/","title":{"rendered":"4 Fakta Kota Bandung yang Banyak Dilupakan Warganya"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kota Bandung adalah salah satu kota besar di Indonesia. Sudah sejak lama ibu kota Jawa Barat ini bak primadona bagi daerah-daerah lain. Nggak heran sih, kota ini memang menarik dari suasananya, kuliner, budaya, dan masih banyak lagi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kota dengan julukan Kota Kembang ini memang sudah nggak asing di telinga kebanyakan orang. Namun, tetap saja, ada informasi-informasi yang kadang terlewat begitu saja. Bahkan, oleh mereka yang selama ini asli dan tinggal di Kota Bandung.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Jalan Braga, jalan beraspal pertama di Indonesia<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Fakta pertama yang mungkin belum diketahui banyak orang adalah Jalan Braga merupakan jalan pertama di Indonesia yang beraspal, tepatnya di zaman kolonial Hindia Belanda. Secara <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/braga-asyik-buat-nongkrong-tapi-punglinya-bikin-resah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jalan Braga<\/a> tergolong jalan yang sudah tua di Kota Bandung. Hal ini bisa dibuktikan dari deretan bangunan gedung bergaya eropa\/kolonial yang ada di setiap jengkal sekitaran Jalan Braga.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, pada 2008, Jalan Braga Bandung direvitalisasi dan berganti rupa. Dari jalan yang dulunya beraspal, berubah menjadi jalan berbahan batu andesit atau yang lebih populer disebut batu paving block. Sampai sekarang pun Jalan Braga di Kota Bandung masih berupa jalan berbahan batu andesit\/paving block.<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 Bandung sebagai calon Ibukota Hindia Belanda<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Fakta selanjutnya, kota ini sebenarnya disiapkan jadi ibu kota pada masa pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Dulu pemerintah kolonial akan memindahkan ibu kota negara dari Kota Batavia ke Kota Bandung. Berbagai persiapan pun sudah dilakukan.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal itu bisa dibuktikan dengan gencarnya pembangunan di Kota Bandung, seperti pembangunan Stasiun Kereta api, dibangunnya gedung sate sebagai kantor pemerintahan, dan dibangunnya pusat persenjataan di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/margaasih-bandung-hanya-butiran-debu-tanpa-kota-cimahi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Cimahi<\/a>. Tidak ketinggalan saluran transportasi udara, stasiun radio, hingga Museum Geologi mulai dipindahkan dari Kota Batavia. Pemindahan pabrik senjata dari Kota Surabaya ke Kota Bandung juga sudah dilakukan, sekarang kita kenal sebagai PT Pindad.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, hal itu urung terlaksana karena Belanda terdesak dan kalah oleh Jepang. Puncaknya diadakan perjanjian di Kalijati Subang pada 8 Maret 1942. Belanda dipaksa menyerah pada Jepang dan Belanda pun hengkang dari tanah jajahannya. Episode berlanjut, kemudian giliran Jepang yang menjajah Indonesia.<\/span><\/p>\n<h2><b>#3 Kenapa Bandung dijuluki Kota Kembang?<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Konon katanya, Kota Bandung dijuluki sebagai Kota Kembang karena di zaman dahulu lingkungannya masih hijau, bersih, teduh, asri dan nyaman. Sebab, semua jalan di Bandung dibatasi dengan jajaran pohon pelindung besar yang rindang. Adapun pohon yang biasa digunakan sebagai pelindung adalah asem, kenari, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/simpang-beringin-area-paling-ramai-sekaligus-semrawut-di-kasihan-bantul\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">beringin<\/a>, tanjung, kayu ambon, angsana, mahoni, dan palem.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semua itu tampak tertata rapi lengkap dengan taman-taman asri yang dibelah oleh aliran sungai yang berair jernih. Serta banyak toko yang berjualan kembang di sekitar Kota Bandung. Dengan segala keindahan, kebersihannya dan yang berjualan kembang sehingga daerah ini dijuluki Kota Kembang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Versi lain, konon, Kota Kembang berasal dari Kongres Pengusaha Gula pada abad ke-19 yang mendatangkan Noni Indo dari Pasir Malang untuk menghibur para tamu. Adanya celetukan dari tamu kalau Bandung sebagai &#8220;de bloem der Indische bergsteden&#8221; alias \u201cbunganya kota pegunungan di Hindia Belanda.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sumber lain menyebutkan, pada awal abad ke-20, daerah ini terkenal dengan &#8220;Kembang Jalanan&#8221;. Orang Belanda berkunjung ke Margawati di Braga, sementara pribumi ke Tegallega. Ada dua primadona yang populer kala itu, yakni Icih Seeng &amp; Nyi Dampi yang dijuluki sebagai De Bloem van Kebon Kalapa (Kembangnya Daerah Kebon Kalapa)<\/span><\/p>\n<h2><b>#4 Bandung punya kampung toleransi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pj Wali Kota Bandung saat ini, Bambang Tirtoyuliono menegaskan bahwa Bandung\u00a0 merupakan Kota Toleran. Hal itu dibuktikan dengan adanya beberapa <a href=\"https:\/\/www.bandung.go.id\/news\/read\/6026\/resmi-kota-bandung-kini-punya-lima-kampung-toleransi\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kampung toleransi<\/a> di sana. Menurutnya, Kota Bandung menjadi role model sebagai kota toleran sehingga yakin menjadi contoh kota besar lain di Indonesia. Kota Bandung menjadi kota heterogen dengan berbagai suku, ras, dan agama dengan jumlah penduduk mencapai 2,5 juta jiwa. Di kampung toleransi itu masyarakat dari berbagai etnis dan berbeda agama bisa hidup berdampingan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah 4 fakta yang kadang dilupakan oleh warga Kota Bandung sendiri. Sebaiknya pengetahuan itu terus dipelihara sehingga tidak dengan mudah bisa dilupakan. Salah satu caranya mudah saja, bagikan artikel ini ke kenalan kalian yang sekiranya belum mengetahui informasi di atas hehehe.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Acep Saepulloh<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bandung-nyaman-untuk-ditinggali-asal-punya-kendaraan-sendiri\/\"><b>Bandung Memang Kota yang Nyaman untuk Ditinggali, asal Punya Kendaraan Sendiri, Angkutan Umumnya Remuk!<\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kota Bandung punya sejarah panjang. Banyak fakta seputra kota ini yang terlupakan. Salah satunya, Braga adalah jalan pertama di Indonesia. <\/p>\n","protected":false},"author":2577,"featured_media":292531,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[141,5640,10905,21813],"class_list":["post-292075","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bandung","tag-jawa-barat","tag-kota-bandung","tag-kota-kembang"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/292075","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2577"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=292075"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/292075\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/292531"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=292075"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=292075"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=292075"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}