{"id":291977,"date":"2024-08-13T13:28:14","date_gmt":"2024-08-13T06:28:14","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=291977"},"modified":"2024-08-13T13:28:14","modified_gmt":"2024-08-13T06:28:14","slug":"sudah-saatnya-jogja-punya-jembatan-penyeberangan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sudah-saatnya-jogja-punya-jembatan-penyeberangan\/","title":{"rendered":"Sudah Saatnya Jogja Bangun Lebih Banyak Jembatan Penyeberangan, Jalanan Jogja Makin Nggak Aman!"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semakin banyak penduduk suatu kota, semakin rumit dan ruwet lalu lintasnya. Ini konsekuensi yang pasti terjadi. Jogja pun tak luput dari hal ini. Warga asli Jogja pasti sangat merasakan kalau kotanya semakin hari semakin padat dan macet. Kemacetan paling kerasa di jalan-jalan utama kayak Jalan Kaliurang, Jalan Godean, Jalan Gejayan, terlebih di saat jam-jam berangkat sama pulang kerja, macetnya selalu bikin ngelus dada.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gimana nggak tambah penuh jalannya, setiap tahun saja ada penambahan sekitar 100.000 kendaraan bermotor baru di Jogja. Nggak usah dibayangkan sebanyak apa kendaraan 100.000 itu, pokoknya bikin jalan macet. Jumlah kendaraannya bertambah, tapi di satu sisi kuantitas jalannya nggak bertambah. Jangan tanya soal kualitas jalannya, sudah pasti juga tambah bobrok. Kalau jalanan sudah penuh sama kendaraan, siapa yang kemudian jadi korban? Sudah pasti pejalan kaki.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau jalan sudah macet, pasti nggak hanya satu atau dua tapi banyak oknum pengendara sepeda motor yang lewat di trotoar. Belum lagi para pengguna mobil tapi nggak punya parkiran, pakai trotoar jadi tempat parkir pribadi mereka. Kalau gini, gimana pejalan kaki mau lewat. Masa ya terbang. Untungnya sekarang pada beberapa ruas jalan di Jogja, pemerintah kabupaten\/kota atau provinsi sudah membenahi trotoar jadi lebih baik dan nyaman untuk pejalan kaki.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>Jembatan penyeberangan di Jogja wajib ditambah<\/strong><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi masalah memberi hak untuk pejalan kaki ini nggak berhenti sampai situ saja. Pejalan kaki di Jogja masih terancam ketika menyeberang jalan. Kayaknya nggak bisa kalau hanya berharap sama zebra cross saja. Trotoar aja dilibas sama kendaraan, apalagi cuma zebra cross. Tombol menyeberang jalan seperti yang ada di Jalan Malioboro juga nggak berdampak signifikan. Oknum pengendara kendaraan tetap tancap gas alias golongan \u2018mak kluwer\u2019 yang kalau bawa kendaraan suka nyelonong ngawur. Mau nyeberang jalan saja sulit harus bertaruh nyawa, agak seram ya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau sudah begitu, jembatan penyeberangan jadi infrastruktur yang dibutuhkan. Ya mau gimana lagi, keadaan jalan sudah begini. Masak ya mau gacha nyawa?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalahnya, Jogja masih minim sama jembatan penyeberangan orang. Masa kota seruwet Jogja, jembatan penyeberangan orang untuk umum yang saya tahu cuma ada 3. Di Pasar Beringharjo ada 2 dan satunya ada di depan Ambarukmo Plaza. Sebenarnya ada lagi di UGM antara gedung fakultas kedokteran sama RS Sardjito, dan di UIN Sunan Kalijaga, tapi itu kan bukan untuk umum. Kalau yang untuk umum ya cuma tiga itu saja sekarang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal melihat kemacetan yang ada, banyak tempat yang harusnya punya jembatan penyeberangan. Tempat seperti Ring Road, Jalan Solo, Jalan Magelang, Jalan Wates, dan jalan nasional lainnya di Jogja butuh banget jembatan penyeberangan. Jalannya lebar, kendaraannya banyak dan kencang-kencang, serta kebutuhan pejalan kaki untuk menyeberang jalan juga tinggi. Nggak kebayang sulitnya pejalan kaki menyeberang di jalanan tersebut. Bener-bener bertaruh nyawa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau nunggu jalannya sepi, terus kapan menyeberangnya? Wong jalan tersebut ramai terus.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>Tempat wisata juga butuh<\/strong><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, ruas jalan dalam kota juga perlu dilengkapi sama jembatan penyeberangan orang. Melihat banyaknya wisatawan yang memilih untuk berjalan kaki menikmati Jogja, jembatan penyeberangan jadi krusial. Rasanya agak ngeri juga melihat anak kecil harus menyeberangi Jalan Senopati untuk menuju <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Taman_Pintar_Yogyakarta\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Taman Pintar<\/a>.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain di tempat-tempat wisata atau area ramai lainnya di dalam kota, penggunaan jembatan penyeberangan orang juga diperlukan di depan sekolah yang dilewati jalan besar. Zebra cross dengan latar warna merah dan diseberangkan sama satpam sekolah tampaknya juga masih bisa dilanggar sama oknum-oknum pengendara yang mak kluwer tadi. Kan kasihan anak-anak yang mau berangkat sekolah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Buat pemerintah kabupaten\/kota dan maupun provinsi monggo untuk dipertimbangkan pengadaan jembatan penyeberangan orang di Jogja. Bagaimanapun juga, ini bagian dari memajukan transportasi umum di Jogja. Trotoar nyaman, menyeberang juga aman, pasti nanti banyak yang lebih tertarik sama kendaraan umum. Dengan begitu, Jogja bisa mengurai kemacetannya. Yah, biar Jogja berhati nyaman bukan hanya sekedar slogan, tapi betulan nyaman.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Rizqian Syah Ultsani<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jogja-istimewa-ketika-trotoar-lebih-penting-dari-rumah-rakyat\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jogja Istimewa: Ketika Trotoar Lebih Penting dari Rumah Rakyat<\/a><\/strong><\/p>\n<div class=\"jeg_ad jeg_ad_article jnews_content_inline_2_ads \">\n<div class=\"ads-wrapper align-center \">\n<div class=\"ads_code\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jembatan penyeberangan di Jogja, tak bisa tidak, harus segera ditambah jumlahnya. Nyawa pejalan kaki bukan sesuatu yang sepele.<\/p>\n","protected":false},"author":2509,"featured_media":292015,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[18736,115,20813],"class_list":["post-291977","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-jembatan-penyeberangan","tag-jogja","tag-lalu-lintas-jogja"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/291977","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2509"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=291977"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/291977\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/292015"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=291977"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=291977"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=291977"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}