{"id":291421,"date":"2024-08-08T15:30:20","date_gmt":"2024-08-08T08:30:20","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=291421"},"modified":"2024-08-08T15:52:18","modified_gmt":"2024-08-08T08:52:18","slug":"bulak-banteng-krisis-identitas-terlalu-madura-untuk-disebut-surabaya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bulak-banteng-krisis-identitas-terlalu-madura-untuk-disebut-surabaya\/","title":{"rendered":"Bulak Banteng Krisis Identitas, Terlalu Madura untuk Disebut Surabaya"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bulak Banteng merupakan nama salah satu kelurahan yang ada di utara Kota Surabaya. Menurut saya, daerah ini punya keunikan tersendiri, setidaknya jika dibandingkan dengan daerah lain yang ada di Kota Pahlawan. Bagaimana tidak, Bulak Banteng punya dua julukan unik, seperti Istanbul\u2014akronim dari Istana Bulak Banteng\u2014dan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/dilema-kawasan-surabaya-utara\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Mexico<\/a>. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Julukan tersebut umumnya digunakan untuk merujuk pada banyaknya etnis Madura yang tinggal di sini. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tekankan, di sini saya nggak akan rasis. Sebaliknya, saya justru merasa Bulak Banteng menjadi daerah yang unik. Sebab, ketika berkunjung ke Bulak Banteng Surabaya, saya merasa tidak sedang di Surabaya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Penduduk Bulak Banteng yang didominasi etnis Madura<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penyebab utama yang membuat saya merasa asing ketika mampir ke Bulak Banteng adalah mayoritas penduduk di kelurahan ini merupakan etnis Madura. Bayangkan, dari bahasa yang digunakan saja sudah jauh berbeda. Sebab, hampir semua warga lokal yang saya temui berinteraksi menggunakan Bahasa Madura.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Uniknya, dari beberapa orang yang saya temui, hanya ada sebagian yang bisa menggunakan bahasa Jawa. Itu pun mereka masih menggunakan gaya bicara dan logat khasnya. Sementara itu sebagian lain hanya bisa berbahasa Madura. Makanya saya bilang kalau Bulak Banteng seperti bagian lain dari Surabaya. Padahal, secara administratif daerah ini masih menjadi bagian dari Kecamatan Kenjeran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Awalnya, saya sempat menduga kalau banyaknya etnis Madura yang tinggal di sini disebabkan oleh lokasinya yang berbatasan langsung dengan Jembatan Suramadu. Namun, dugaan saya salah, sebab menurut cerita warga sekitar, Bulak Banteng sudah ditempati banyak orang Madura jauh sebelum <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/suramadu-jembatan-paling-tidak-terurus-di-indonesia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jembatan Suramadu<\/a> dibangun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meskipun demikian, tak bisa dimungkiri kalau keberadaan Jembatan Suramadu juga turut meningkatkan populasi etnis Madura yang tinggal di daerah ini.<\/span><\/p>\n<h2><b>Suasana yang sangat mirip dengan Madura<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyaknya penduduk etnis Madura yang tinggal di Bulak Banteng ternyata turut memengaruhi suasana di tempat ini. Dari hal yang paling sederhana saja, perkara fashion, misalnya. Kawan saya pernah berkata kalau salah satu kebiasaan orang Madura adalah sering menggunakan<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/rekomendasi-sarung-berdasarkan-spesifikasi-role-dalam-game-moba\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> sarung<\/a> di berbagai aktivitas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Benar saja, saya menemukan tren fashion serupa di sini. Serius, deh, mulai dari anak-anak sampai bapak-bapak banyak banget yang keluar rumah dengan bersarung. Ya, memang nggak salah, sih, tapi outfit kayak gini nggak umum di Surabaya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain perkara fashion, suasana perkampungan di sini juga cukup berbeda dibandingkan dengan kampung lain di Surabaya. Sebab, di sini nuansa ke-Madura-annya sangat kental. Salah satu penyebabnya adalah banyak ditemukan usaha pengepul besi tua, pangkas rambut, toko kelontong, sampai pengepul barang-barang bekas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang usaha-usaha seperti gitu juga ada di daerah lain, tapi jumlahnya nggak akan sebanyak di Bulak Banteng. Saya bisa jamin kalau kalian akan mudah sekali menemukan pengepul barang bekas di daerah sekitar sini. Bahkan, tak jarang lokasinya hanya berjarak beberapa meter.<\/span><\/p>\n<h2><b>Terlalu Madura untuk bisa disebut Surabaya<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebelumnya, saya menyebutkan kalau Bulak Banteng merupakan daerah yang unik. Sebab, ketika saya berkunjung ke sini, saya justru merasa seperti nggak sedang di Surabaya. Lebih dari itu, saya justru merasa seperti orang asing karena warga lokal lebih banyak berinteraksi menggunakan bahasa Madura, alih-alih <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Bahasa_Jawa\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">bahasa Jawa<\/a>. Ya, saya mana ngerti.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Demi memvalidasi perasaan ini, saya mencoba bertanya ke beberapa kawan yang berasal dari Surabaya. Hasilnya, mereka semua sepakat kalau Bulak Banteng memang punya vibes yang berbeda dibandingkan dengan daerah lain di Surabaya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin ini sebabnya banyak komedian Surabaya yang memperdebatkan soal Bulak Banteng ikut bagian dari Pulau Madura atau Surabaya. Lha, gimana, mau dibilang ikut Madura kok secara administrasi masih bagian dari Surabaya. Tapi, mau dibilang bagian dari Surabaya pun susah, sebab di sini sudah terlalu melekat vibes Madura-nya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, saya merasa kalau Bulang Banteng itu daerah yang krisis identitas. Tapi, sekali lagi, saya nggak bermaksud buruk atau mendiskreditkan etnis Madura, ya. Justru keberagaman ini yang membuat Bulak Banteng unik. Lebih dari itu, hal ini juga menjadi bukti kalau berbagai etnis bisa hidup berdampingan di Kota Pahlawan. Bukan begitu, Lur? Salam toleransi!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Dito Yudhistira Iksandy<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mantrijeron-jogja-punya-vibes-bantul-yang-kuat\/\"><b>Mantrijeron, Kecamatan di Kota Jogja dengan Vibes Bantul yang Kental<\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penduduk Bulak Banteng Surabaya kebanyakan dari Madura. Itu mengapa vibes kelurahan ini lebih mirip Madura daripada Surabaya.<\/p>\n","protected":false},"author":2368,"featured_media":291425,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[25655,25654,5020,405],"class_list":["post-291421","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bulak-banteng","tag-bulak-banteng-surabaya","tag-madura","tag-surabaya"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/291421","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2368"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=291421"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/291421\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/291425"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=291421"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=291421"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=291421"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}