{"id":291322,"date":"2024-08-10T15:15:47","date_gmt":"2024-08-10T08:15:47","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=291322"},"modified":"2024-08-10T14:57:47","modified_gmt":"2024-08-10T07:57:47","slug":"santri-juga-manusia-jangan-pasang-ekspektasi-yang-ketinggian","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/santri-juga-manusia-jangan-pasang-ekspektasi-yang-ketinggian\/","title":{"rendered":"Curhatan Santri: Kami Juga Manusia, Jangan Memasang Ekspektasi Ketinggian"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada ekspektasi tertentu ketika seseorang menyandang status santri. Wajar saja ekspektasi ini muncul, sebab para santri ini tinggal di pondok pesantren dan belajar lebih dalam soal agama. Namun, saya ingatkan, ini bukan berarti mereka yang hidup di pondok bebas dari kesalahan dan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/dosa-penjual-gudeg-emperan-di-jogja-yang-menjebak-pembeli\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">dosa<\/a>. Santri tetaplah\u00a0 manusia.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di dalam tulisan ini saya tidak ingin merendahkan santri atau ajaran di pondok pesantren ya. Saya hanya ingin membuka mata pembaca mengenai kehidupan di pondok pesantren, sehingga mereka nggak perlu memasang ekspektasi yang ketinggian. Selain akan kecewa sendiri, sejujurnya ekspektasi ketinggian itu membebani para santri.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Ada banyak alasan masuk pesantren, nggak melulu soal agama<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak semua orang yang masuk pesantren karena ingin menjadi santri atau belajar agama. Saya sudah mondok kurang lebih 10 tahun. Saya tahu betul motif yang mendorong seseorang masuk pesantren. Selain belajar agama, sebenarnya ada banyak motif lain, motif yang nggak banyak orang tau.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu alasan yang jarang orang lain tau, orang tua memilih memondokan anaknya karena nggak mampu lagi menghadapi kebandelan anaknya. Mereka melihat pesantren sekadar sebagai tempat penampungan anak-anak nggak bisa diatur.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentu saja niat mereka sebenarnya baik, ingin anaknya bisa memperbaiki diri karena berada di lingkungan yang baik. Akan tetapi, langkah itu terkadang merepotkan untuk yang lain. Bukannya berubah jadi kalem, anak-anak bandel justru memengaruhi santri lain yang tadinya kalem. Itu mengapa, ekspektasi orang-orang kalau masuk pondok pesantren bisa jadi sosok yang lebih baik, paham agama, dan kalem bisa jadi salah besar.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Menyandang predikat santri itu berat<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ekspektasi yang ketinggian sebenarnya membebani para santri. Beban itu begitu terasa saat musim liburan, ketika kembali ke rumah masing-masing. Momen tersebut menjelma menjadi semacam ujian ilmu yang sudah didapat di <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Pesantren\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">pondok pesantren<\/a>.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya momen liburan cukup menyenangkan karena kami bisa membagi ilmu yang selama ini didapat. Di sisi lain, momen ini cukup menantang karena ada beberapa orang yang berharap terlalu banyak atau memasang ekspektasi ketinggian. Seolah-olah melihat santri manusia yang nggak boleh melakukan kesalahan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bayangkan saja, betapa sesaknya kalau tindak-tanduk kalian selalu diperhatikan dan dinilai oleh orang-orang sekitar. Saya paham, ini risiko menyandang status santri. Namun, saya nggak paham satu hal, kenapa kami ini dianggap manusia yang sempurna. Kami juga nggak luput dari kesalahan. Setiap kesalahan akan dikulik berkali-kali lewat cibiran yang menyakitkan. Padahal, lewat satu teguran atau pengingat saja sebenarnya sudah cukup bagi kami untuk berkaca.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lantas ekspektasi seperti apa yang sebaiknya dilekatkan pada para santri? Saya tahu persis nggak bisa memaksakan orang untuk berpikiran sama. Namun, kalau boleh menyarankan, Orang-orang tidak perlu berekspektasi apapun. Saya ingin orang-orang melihat santri sebagai sosok yang berproses untuk menjadi pribadi lebih baik lagi. Kami juga<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jadi-orang-yang-biasa-saja-dan-nggak-punya-prestasi-di-kelas-itu-lebih-enak-lho\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> manusia biasa<\/a>, wajar\u00a0 kalau bisa khilaf dan melakukan kesalahan. Dukungan semacam inilah yang para santri butuhkan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Ahmad Dani Fauzan<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pesantren-dan-romantisme-hidup-santri-saat-hafalan-wazan-fa-a-la\/\"><b>Pesantren dan Romantisme Hidup Santri Saat Hafalan Wazan Fa, \u2018A, La<\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jangan memasang ekspektasi ketinggian kepada para santri. Selain bisa kecewa sendiri, ekspektasi ketinggian juga membebani para santri. <\/p>\n","protected":false},"author":2726,"featured_media":291658,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_view_counter":"0","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"0","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"0","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":"","hide":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13078],"tags":[78,25680,5141,25679,505,3301],"class_list":["post-291322","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gaya-hidup","tag-agama","tag-manusia-biasa","tag-mondok","tag-nyantri","tag-pondok-pesantren","tag-santri"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/291322","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2726"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=291322"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/291322\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/291658"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=291322"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=291322"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=291322"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}